Kritik Dandhy Laksono atas Pengamanan Ketat Pembahasan RUU TNI di Hotel Fairmont Jakarta

Avatar photo

Senin, 17 Maret 2025 - 15:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sutradara film Dirty Vote, Dandhy Laksono. (X.com/DandyLaksono)

Sutradara film Dirty Vote, Dandhy Laksono. (X.com/DandyLaksono)

Metrosiar – Sutradara film Dirty Vote, Dandhy Laksono, memberikan sorotan tajam terhadap pengamanan yang ketat dalam pembahasan RUU Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang digelar di Hotel Fairmont Jakarta.

Dandhy mengkritik keterlibatan personel militer, termasuk anggota Kopassus, dalam menjaga jalannya rapat tersebut.

“Tentara dimobilisasi untuk menjaga pembahasan RUU yang menguntungkan dirinya,” ujar Dandhy melalui akun X-nya @Dandhy_Laksono (16/3/2025).

Ia menyebut tindakan ini mencederai prinsip demokrasi dan menganggap situasi ini sudah memasuki kategori kudeta.

“Itu sudah kategori kudeta,” tegasnya.

Keamanan ketat dalam acara tersebut langsung menjadi perhatian publik setelah beredar foto dan video yang menunjukkan kehadiran pasukan elite Komando Operasi Khusus (Koopssus) TNI di lokasi.

Banyak netizen yang mempertanyakan urgensi serta prosedur pengerahan pasukan khusus tersebut.

Salah satu pengguna X, akun Gump n Hell, menyatakan rasa herannya dengan kehadiran Koopssus dan menyebut keadaan sudah sangat genting.

“Njir, Koopssus sampai turun. Artinya keadaan sudah genting sekali. SAS aja ketar-ketir,” tulisnya dalam unggahan yang mendapat banyak respons.

Baca juga:  Truk Tangki Bermuatan BBM Tabrak Rumah di Penggilingan, Jaktim: Polisi Lakukan Penanganan

Akun lain, seperti Zen RS, mengunggah video yang memperlihatkan suasana di dalam hotel setelah aktivis Koalisi Masyarakat Sipil mencoba memasuki ruang rapat tertutup DPR terkait RUU TNI.

“Sesaat dan setelah Andrie Yunus dari @KontraS bersama koalisi masyarakat sipil lain menerobos rapat tertutup pembahasan RUU TNI di Hotel Fairmont,” tulisnya.

Kritik juga muncul dari akun Bareng Warga yang mengungkapkan kekecewaannya terhadap penjagaan ketat oleh tentara berseragam loreng.

“Ketatnya penjagaan oleh tentara yang menjelijili Fairmont membuat kami tidak bisa masuk dan menyuarakan pendapat,” ungkapnya.

Sejumlah netizen lainnya mempertanyakan dasar hukum dan prosedur pengerahan Koopssus ke lokasi tersebut.

“Masyarakat mestinya bertanya apa urgensi pengerahan Koopssus ke hotel itu? Siapa yg perintahkan? Sesuai prosedur & doktrin gak?” cuit akun Gump n Hell.

Rapat tersebut diselenggarakan oleh Komisi I DPR RI bersama pemerintah untuk membahas revisi Undang-Undang TNI di Hotel Fairmont Jakarta. Keputusan ini menuai kontroversi karena dilaksanakan di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang sedang diberlakukan.

Baca juga:  Di Tengah Gempuran Zaman, Dadawea Menolak Lupa: Ka Sao Weti Wali Menjadi Benteng Terakhir Warisan Leluhur Ngada

Sekretaris Jenderal DPR, Indra Iskandar, menjelaskan aturan DPR memungkinkan rapat dilaksanakan di luar Kompleks Parlemen Senayan asalkan mendapat izin dari pimpinan DPR.

Ia juga menjelaskan pemilihan Hotel Fairmont didasarkan pada kerja sama yang memberikan potongan harga bagi DPR. Selain itu, intensitas pembahasan RUU TNI yang tinggi menjadi alasan perlunya tempat yang mendukung kelancaran diskusi.

Tetapi, keputusan ini tetap menuai pertanyaan publik, mengingat tarif kamar hotel bintang lima tersebut mencapai Rp2,6 juta hingga Rp4,6 juta per malam.

Menanggapi kritik soal penggunaan anggaran, Indra menegaskan meskipun DPR juga terkena kebijakan efisiensi, masih ada dana cadangan yang bisa digunakan untuk pembahasan undang-undang yang dianggap strategis.

Dalam rapat tersebut, sejumlah pasal penting, seperti aturan mengenai tugas pokok TNI, penempatan prajurit aktif di kementerian atau lembaga sipil, serta batas usia pensiun, turut dibahas.

Kontroversi ini terus berkembang, terutama dari kalangan masyarakat sipil yang khawatir revisi RUU TNI akan memperbesar keterlibatan militer dalam urusan sipil.(*)

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

LMP Banten Resmi Punya Pangda Baru, Tiga Jabatan Strategis Sekaligus Dilantik
Pemerataan Pendidikan Bergerak Cepat! Wabup Berni Dhey Letakkan Batu Pertama TK Sta. Veronika Wolowio
Raymundus Bena Tuntaskan Penantian Puluhan Tahun! SMP Negeri Rawangkalo Resmi Berdiri, Pendidikan Kini Makin Dekat dengan Rakyat
Bukan Sekadar KKN! 254 Mahasiswa STKIP Citra Bakti Siap Mengabdi 3 Bulan di Nagekeo, Bawa Misi Ubah Perilaku Masyarakat Kelola Sampah
Longsor Sejak April, Jalan Were–Mataloko Kian Kritis: Proposal Sudah Masuk, Penanganan Belum Terlihat
Disambut Bak Pahlawan! Diaspora Ngada Maumere Kobarkan Spirit PSN Ngada U-17, Manajer: “Serang Duluan, Jangan Tunggu Lawan!”
Sikap Gibran Kemungkinan Disebut Perintah Jokowi Bukan Diatur Prabowo
Cara Cek Kena Tilang ETLE atau Tidak Tanpa ke Kantor Polisi, Bisa Dilakukan dalam Hitungan Menit
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:47 WIB

LMP Banten Resmi Punya Pangda Baru, Tiga Jabatan Strategis Sekaligus Dilantik

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:30 WIB

Pemerataan Pendidikan Bergerak Cepat! Wabup Berni Dhey Letakkan Batu Pertama TK Sta. Veronika Wolowio

Senin, 27 Juli 2026 - 20:10 WIB

Raymundus Bena Tuntaskan Penantian Puluhan Tahun! SMP Negeri Rawangkalo Resmi Berdiri, Pendidikan Kini Makin Dekat dengan Rakyat

Sabtu, 25 Juli 2026 - 20:38 WIB

Bukan Sekadar KKN! 254 Mahasiswa STKIP Citra Bakti Siap Mengabdi 3 Bulan di Nagekeo, Bawa Misi Ubah Perilaku Masyarakat Kelola Sampah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 17:18 WIB

Longsor Sejak April, Jalan Were–Mataloko Kian Kritis: Proposal Sudah Masuk, Penanganan Belum Terlihat

Berita Terbaru

Penyerahan SK oleh Rudi Ongky G selaku Ketua Markas Daerah Provinsi Banten kepada Panji Kuswanto selaku Ketua Markas Cabang Kabupaten Lebak yang baru

Sosial Kemasyarakatan

LMP Banten Resmi Punya Pangda Baru, Tiga Jabatan Strategis Sekaligus Dilantik

Selasa, 28 Jul 2026 - 13:47 WIB