Bajawa.Metrosiar- Di tengah kepanikan warga pascagempa bumi, kepedulian datang langsung ke tengah masyarakat. Anggota DPRD Kabupaten Ngada dari Fraksi Gerindra, Karel Maku, turun ke wilayah Desa Tiwotoda-Hobo, Kecamatan Bajawa, untuk membantu warga yang terdampak bencana.
Karel Maku menyalurkan bantuan darurat berupa terpal dan uang tunai kepada warga korban gempa. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian sekaligus respons terhadap kondisi masyarakat yang membutuhkan dukungan setelah bencana.
Bagi warga yang terdampak, terpal menjadi kebutuhan penting untuk membantu menyediakan tempat berlindung sementara, terutama ketika rumah mengalami kerusakan atau warga harus menghindari bangunan yang dinilai belum aman.

Karel Maku mengatakan, dalam situasi bencana, kehadiran dan kepedulian jauh lebih penting daripada sekadar melihat kondisi dari kejauhan. Karena itu, dirinya memilih turun langsung untuk melihat keadaan warga sekaligus memberikan bantuan sesuai kemampuan.
“Ini adalah bentuk kepedulian kita kepada masyarakat yang sedang mengalami musibah. Dalam kondisi seperti ini, yang paling penting adalah bagaimana kita hadir dan membantu meringankan beban mereka,” kata Karel Maku.
Menurutnya, bantuan yang diberikan mungkin belum mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi warga. Namun, dukungan tersebut diharapkan dapat sedikit meringankan beban masyarakat sekaligus memberikan kekuatan moral agar warga tidak merasa sendirian menghadapi bencana.
Ia mengajak pemerintah, masyarakat, dan seluruh elemen lainnya untuk bersama-sama memperkuat kepedulian terhadap warga terdampak.

“Kita berharap masyarakat tetap kuat dan tidak merasa sendiri menghadapi bencana ini. Pemerintah dan semua pihak harus bergandengan tangan untuk membantu warga,” ujarnya.
Kehadiran Karel Maku di tengah warga Tiwotoda-Hobo mendapat respons positif. Bantuan terpal dan uang tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian wakil rakyat terhadap masyarakat yang sedang berada dalam kondisi darurat.
Gempa bumi kembali menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan dan respons cepat sangat dibutuhkan ketika bencana terjadi.
Bagi warga Tiwotoda-Hobo, bantuan itu bukan sekadar terpal dan uang. Lebih dari itu, ada pesan kuat yang ikut dibawa: di tengah guncangan bencana, mereka tidak sendirian.*









