Bajawa.Metrosiar- Festival Komodo Riung 2026 resmi ditutup, Kamis (13/8/2026). Tiga hari perhelatan bukan sekadar meninggalkan panggung hiburan, tetapi juga meninggalkan satu target besar: menjadikan Riung sebagai destinasi wisata berbasis konservasi yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat dan menembus kalender event nasional.
Dari festival ini, sedikitnya 36 pelaku UMKM ikut merasakan denyut ekonomi. Produk lokal berupa kain, kuliner hingga aneka kerajinan dipasarkan kepada pengunjung yang memadati berbagai rangkaian kegiatan Festival Komodo Riung 2026.
Mewakili Bupati Ngada, Asisten II Setda Ngada sekaligus Ketua STIPER Flores Bajawa, Nicolaus Noywuli, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bekerja bersama menyukseskan festival.
Menurut Nicolaus, Festival Komodo Riung menjadi contoh nyata bahwa pembangunan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, tokoh adat, pemuda, aparat keamanan hingga pelaku pariwisata harus bergerak dalam satu irama.
“Kita semua telah terlibat merencanakan bersama, melaksanakan bersama dan menyelesaikan bersama,” ujar Nicolaus.

Ia menegaskan, keberhasilan festival tidak semata-mata diukur dari meriahnya acara. Lebih dari itu, festival harus mampu meninggalkan dampak nyata bagi masyarakat. Salah satunya terlihat dari geliat UMKM
Sebanyak 36 UMKM ikut mengambil bagian dengan memasarkan produk unggulan lokal. Aktivitas tersebut turut mendongkrak omzet pelaku usaha selama festival berlangsung.
“Selama festival, 36 UMKM memasarkan produknya dan omzetnya bertambah banyak,” ungkap Nicolaus.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi sinyal bahwa pariwisata Riung memiliki potensi besar untuk menjadi mesin ekonomi masyarakat.
Komodo menjadi magnet, alam menjadi panggung, budaya menjadi identitas, sementara UMKM menjadi salah satu penerima manfaat langsung dari geliat wisata.
Namun, Nicolaus mengakui Festival Komodo Riung 2026 masih memiliki berbagai kekurangan. Baginya, kekurangan tersebut harus menjadi bahan evaluasi untuk membuat penyelenggaraan berikutnya semakin baik.
“Tidak ada gading yang tidak retak. Fokus kita bukan pada retaknya, tetapi pada kekuatan dan nilai ketangguhan kolaborasi bersama ini,” katanya.
Festival Komodo Riung juga menegaskan kembali kekayaan yang dimiliki wilayah Riung. Bukan hanya komodo, tetapi juga laut, pulau-pulau, mangrove, budaya serta berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kita bersyukur memiliki kekayaan, di antaranya komodo, alam, budaya dan usaha ekonomi. Karena itu kita selenggarakan Festival Komodo Riung ini,” ujar Nicolaus.
Pesan konservasi itu kemudian diperkuat melalui kunjungan Bupati Ngada Raymundus Bena bersama jajaran BBKSDA NTT ke Pulau Ontoloe sehari setelah rangkaian festival. Rombongan melihat langsung habitat komodo, melakukan penanaman mangrove dan meninjau aktivitas usaha rumput laut masyarakat.
Rangkaian tersebut memperlihatkan arah besar Festival Komodo Riung: konservasi tidak boleh berdiri sendiri, tetapi harus berjalan beriringan dengan pariwisata dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, Festival Komodo Riung tidak ingin berhenti sebagai seremoni tahunan.

Penyelenggara menargetkan festival ini terus berkembang menjadi event yang lebih profesional, atraktif dan mampu mendatangkan lebih banyak wisatawan sekaligus memperluas pasar bagi produk masyarakat.
Target berikutnya bahkan lebih tinggi: mendorong Festival Komodo Riung masuk dalam kalender event nasional.
Jika target tersebut terealisasi, Riung tidak lagi hanya dikenal sebagai wilayah yang menyimpan habitat komodo. Riung diharapkan tampil sebagai salah satu destinasi wisata unggulan yang memiliki identitas kuat: konservasi, alam, budaya dan ekonomi lokal.
“Event Festival Komodo Riung akan terus kita selenggarakan sebagai event tahunan dengan keyakinan semakin baik, semakin profesional dan beragam atraksi yang memberikan dampak ekonomi yang baik bagi masyarakat Riung dan sekitar,” demikian pesan penyelenggara.
Dari Riung, sebuah slogan pun kembali digaungkan: “Di Komodo tidak ada Riung, di Riung ada Komodo.”
Festival boleh berakhir. Panggung boleh ditutup. Namun, pekerjaan besarnya baru dimulai.
Menjaga komodo, merawat alam, menghidupkan budaya, memperkuat UMKM dan membuka jalan bagi pariwisata Riung menuju panggung nasional.
Ngada Bangkit. Ngada Lestari. Ngada Sejahtera.*








