Dari Sampah Jadi Paving Blok, Pemuda Beiwali Bangkit Kelola Limbah Jadi Produk Bernilai

Avatar photo

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bajawa.Metrosiar- Sampah plastik dan limbah daun bambu yang selama ini kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan mulai mendapat wajah baru di Desa Beiwali, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada.

Di tangan Kelompok Pemuda Desa Beiwali, sampah tidak lagi sekadar dibuang. Melalui program “Pengelolaan Sampah Berkelanjutan: Konversi Sampah Plastik dan Daun Bambu Menjadi EcoFusion Paving Blok”, limbah tersebut diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus membuka peluang pemberdayaan ekonomi pemuda desa.

Program ini merupakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan tim dari STKIP Citra Bakti. Tim dipimpin Dr. Ngurah Mahendra Dinatha, S.Pd., M.Si., dosen PJKR, bersama Dr. Dimas Qondias, M.Pd., dosen PGSD, serta Fransiskus Xaverius Dolo, M.Pd., dosen Pendidikan IPA.

Kelompok Pemuda Desa Beiwali yang dipimpin Yoseph Eduardus Nono menjadi mitra utama dalam program tersebut. Sebanyak 20 pemuda dilibatkan sebagai penggerak utama kegiatan di Likowali, Desa Beiwali.

 

Program ini hadir dari persoalan yang sederhana namun nyata. Sampah plastik masih menjadi salah satu masalah lingkungan, sementara limbah daun bambu belum dimanfaatkan secara optimal. Di sisi lain, para pemuda desa memiliki potensi besar untuk menjadi motor perubahan, tetapi membutuhkan keterampilan dan pendampingan agar potensi tersebut dapat berkembang menjadi kegiatan produktif.

Baca juga:  Rampungkan Ajang Festival GAYAIN 2025, Perwakilan Direktorat: Ngada Daerah Pertama yang Dipercaya Kementerian

Dari sinilah EcoFusion Paving Blok hadir. Melalui program ini, pemuda tidak hanya diajak berbicara mengenai bahaya sampah, tetapi langsung belajar mengubah sampah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan.

Tahap kegiatan dimulai dengan sosialisasi mengenai pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Selanjutnya, para pemuda mendapatkan pelatihan mulai dari pemilahan, pembersihan, pencacahan hingga pengolahan bahan limbah.

Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan EcoFusion Paving Blok. Para peserta terlibat dalam proses produksi sehingga tidak sekadar memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga memiliki keterampilan teknis yang dapat diterapkan secara mandiri.

Teknologi yang diperkenalkan memanfaatkan sampah plastik sebagai bahan pengikat dan daun bambu kering sebagai bahan tambahan dalam campuran paving blok.

Produk tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan sederhana di lingkungan desa, seperti jalur pejalan kaki, halaman sekolah, area publik maupun fasilitas desa lainnya.

Inovasi ini membuat persoalan sampah tidak berhenti pada aktivitas membersihkan lingkungan. Lebih jauh, sampah didorong menjadi bahan baku yang dapat menghasilkan produk bermanfaat.

Pemuda pun ditempatkan bukan hanya sebagai penerima program, tetapi sebagai pelaku utama perubahan.

Baca juga:  Pembangunan Kampung Haji di Arab Saudi: Solusi Efisiensi Biaya dan Pelayanan Jemaah Indonesia

Dengan keterampilan yang diperoleh, Kelompok Pemuda Desa Beiwali diharapkan mampu membangun kebiasaan baru dalam memilah dan mengolah sampah sekaligus mengembangkan kegiatan produktif berbasis potensi lokal.

Ketua LPPM STKIP Citra Bakti, Yasinta Maria Fono, M.Pd., menyampaikan dukungan dan apresiasi terhadap pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026 tersebut.

Program ini memperoleh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Menurutnya, EcoFusion Paving Blok tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan paving blok. Lebih penting dari itu adalah membangun kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah secara berkelanjutan.

Program tersebut diharapkan mampu melahirkan kelompok pemuda yang menjadi pelopor gerakan lingkungan di tingkat desa, ujar Yasinta.

Jika dilakukan secara konsisten, EcoFusion Paving Blok bukan tidak mungkin berkembang menjadi kegiatan produktif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat langsung bagi kebersihan lingkungan, tutup dia.

Dari plastik yang dibuang dan daun bambu yang berserakan, Beiwali sedang mencoba membangun cerita baru: sampah bukan akhir dari sebuah barang, tetapi bisa menjadi awal dari sebuah peluang.*

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

GMI Gebrak Banten, Kepengurusan Pemuda Resmi Terbentuk
Karya Bakti Kopassus di Ciracas, TNI Bawa Semangat Gotong Royong
Dari Jalur Ekstrem hingga Api Unggun, Festival Komodo Riung 2026 Makin Menggigit
895 Jembatan Presisi Dibangun, Banten Jadi yang Terbanyak
Sempadan Sungai Diawasi, Lurah Kutabumi Tegaskan Penertiban
Golkar NTT Buka Jalan Rp350 Miliar KUR, 2.800 UMKM Dibidik Jadi Penggerak Ekonomi NTT
AM Cup 2026 Masuki Babak Puncak, Empat Tim Berebut Tiket Final
Gandeng SGU, Pemkab Tangerang Buka Akses Beasiswa Tangerang Gemilang 2026
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:02 WIB

Dari Sampah Jadi Paving Blok, Pemuda Beiwali Bangkit Kelola Limbah Jadi Produk Bernilai

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:05 WIB

GMI Gebrak Banten, Kepengurusan Pemuda Resmi Terbentuk

Jumat, 14 Agustus 2026 - 05:37 WIB

Karya Bakti Kopassus di Ciracas, TNI Bawa Semangat Gotong Royong

Kamis, 13 Agustus 2026 - 22:48 WIB

Dari Jalur Ekstrem hingga Api Unggun, Festival Komodo Riung 2026 Makin Menggigit

Kamis, 13 Agustus 2026 - 21:20 WIB

895 Jembatan Presisi Dibangun, Banten Jadi yang Terbanyak

Berita Terbaru

Sosial Kemasyarakatan

GMI Gebrak Banten, Kepengurusan Pemuda Resmi Terbentuk

Jumat, 14 Agu 2026 - 06:05 WIB

TNI POLRI

895 Jembatan Presisi Dibangun, Banten Jadi yang Terbanyak

Kamis, 13 Agu 2026 - 21:20 WIB