Ratusan Ribu Perempuan AS Tinggalkan Pekerjaan, Apa yang Terjadi?

Avatar photo

Senin, 11 Agustus 2025 - 18:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fenomena 2025, Ratusan ribu perempuan AS mundur dari dunia kerja akibat hilangnya fleksibilitas dan krisis biaya penitipan anak. (Foto: AI Generated/Metrosiar)

Fenomena 2025, Ratusan ribu perempuan AS mundur dari dunia kerja akibat hilangnya fleksibilitas dan krisis biaya penitipan anak. (Foto: AI Generated/Metrosiar)

Metrosiar – Tahun 2025 ini mencatat fenomena mengejutkan dalam pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS), khususnya terkait partisipasi perempuan.

Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang dirilis pada (1/8/25), tercatat 212.000 perempuan berusia 20 tahun ke atas memilih meninggalkan dunia kerja sejak Januari 2025.

Misty Lee Heggeness, profesor ekonomi dan urusan publik di University of Kansas, mengungkap bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan berusia 25–44 tahun yang tinggal bersama anak di bawah lima tahun mengalami penurunan signifikan.

Persentasenya merosot hampir tiga poin, dari 69,7% menjadi 66,9%.

“Ini kemunduran besar,” tegas Heggeness, seperti dilansir TIME pada (10/8/25).

Ia menjelaskan, kenaikan partisipasi yang terlihat sejak 2022 hingga awal 2025 banyak dipengaruhi kebijakan kerja fleksibel yang mendukung perempuan mencari penghasilan sambil mengurus keluarga.

Namun, momentum positif tersebut mulai memudar di 2025 setelah kebijakan fleksibilitas kerja dicabut. Presiden AS Donald Trump menginstruksikan pegawai federal untuk kembali bekerja penuh di kantor lima hari sepekan.

Baca juga:  Harga Emas Bidik Level 3.000 Dolar, di AS Ditutup Naik 0,7% di 2.956,10 Dolar AS, Dengan Kenaikan Total 12 Persen Sejak Awal 2025

Perubahan ini memicu gelombang penyesuaian, terutama bagi pegawai yang sudah terbiasa bekerja jarak jauh atau tinggal jauh dari kantor. Kebijakan serupa diikuti oleh perusahaan besar seperti Amazon dan JP Morgan.

Menurut laporan Flex Index, proporsi perusahaan Fortune 500 yang mewajibkan kerja penuh di kantor melonjak dari 13% di akhir 2024 menjadi 24% pada kuartal II 2025.

Dampak pada Perempuan Berpendidikan Tinggi

Julie Vogtman, Direktur Senior Pusat Hukum Perempuan Nasional, menyebutkan bahwa dampak paling signifikan dirasakan perempuan lulusan sarjana. Tingkat partisipasi mereka yang sempat mencapai 70,3% pada September 2024 kini turun menjadi 67,7% pada Juli 2025.

“Bukan kebetulan kalau partisipasi perempuan turun ketika fleksibilitas hilang,” kata Vogtman.

Dampak Hilangnya Fleksibilitas Kerja Memicu Gelombang Mundur Tenaga Kerja Perempuan di AS pada tahun 2025 ini.
Fenomena 2025, Ratusan ribu perempuan AS mundur dari dunia kerja akibat hilangnya fleksibilitas dan krisis biaya penitipan anak. (Foto: AI Generated/Metrosiar)

Ia mengatakan pekerjaan jarak jauh telah menjadi solusi penting bagi perempuan untuk tetap berada di dunia kerja, mengingat mereka masih memikul porsi terbesar tanggung jawab pengasuhan.

Hasil Survei Walr terhadap resume karyawan di Microsoft, SpaceX, dan Apple pada 2024 menunjukkan adanya eksodus pekerja senior setelah diberlakukannya kebijakan wajib masuk kantor.

Baca juga:  Yitzhak Brik Akui Israel Alami Kerugian & Gagal Kalahkan Hamas dalam Perang yang Sedang Berlangsung

Hal ini bahkan diakui oleh hampir dua pertiga eksekutif C-suite sebagai penyebab berkurangnya tenaga kerja perempuan, meningkatnya kesulitan rekrutmen, dan menurunnya produktivitas perusahaan.

Heggeness menilai, banyak pengambil kebijakan berasal dari kalangan yang memiliki kemudahan akses bantuan rumah tangga, seperti asisten pribadi atau jasa antar-jemput anak, sehingga kurang memahami tantangan pekerja biasa.

Krisis Penitipan Anak Perburuk Situasi

Selain masalah fleksibilitas kerja, krisis biaya dan akses childcare menjadi tekanan tambahan.

Pada 2025, pendanaan federal untuk layanan penitipan anak berkurang drastis, menyebabkan banyak pusat penitipan tutup atau menaikkan tarif.

Deportasi massal juga memperparah kondisi, mengingat sekitar 20% pekerja sektor ini adalah imigran.

Data menunjukkan, pengeluaran keluarga AS untuk pendidikan anak yang sempat turun pada 2023–2024 kembali melonjak sejak akhir 2024, naik 3,3% pada kuartal IV dan terus meningkat sepanjang 2025.

“Banyak perempuan kini sulit membuat perhitungan biaya agar masuk akal,” pungkas Vogtman.*

Editor : Lisan Al-Ghaib

Sumber Berita: Time

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ditemukan di Dasar Samudra Atlantik Dunia Yang Hilang
Viral! Ribuan Jamaah Haji Jalan Kaki di Tengah Panas 42 Derajat
Viral! Kakek Jamaah Haji Asal Indonesia Hilang Misterius di Tanah Suci
Heboh! Pagi Hari di Makkah Berasa di Bogor, Jemaah Diingatkan Selalu Bawa Kartu Nusuk
Kacau di Terminal Ajyad! Jamaah Haji Saling Dorong demi Naik Bus Sholawat
Geger Penembakan di Gala Dinner Gedung Putih, Ini Sosok Cole Tomas Allen, Sang Guru Terbaik yang Menjadi Pelaku
Harga Emas Terpukul, Lonjakan Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu
Awas! Share Video Serangan di Saudi Bisa Dipidana
Berita ini 21 kali dibaca
Fenomena 2025, Ratusan ribu perempuan AS mundur dari dunia kerja akibat hilangnya fleksibilitas dan krisis biaya penitipan anak.

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 19:19 WIB

Viral! Ribuan Jamaah Haji Jalan Kaki di Tengah Panas 42 Derajat

Selasa, 19 Mei 2026 - 12:35 WIB

Viral! Kakek Jamaah Haji Asal Indonesia Hilang Misterius di Tanah Suci

Minggu, 17 Mei 2026 - 21:05 WIB

Heboh! Pagi Hari di Makkah Berasa di Bogor, Jemaah Diingatkan Selalu Bawa Kartu Nusuk

Jumat, 15 Mei 2026 - 19:26 WIB

Kacau di Terminal Ajyad! Jamaah Haji Saling Dorong demi Naik Bus Sholawat

Minggu, 26 April 2026 - 15:44 WIB

Geger Penembakan di Gala Dinner Gedung Putih, Ini Sosok Cole Tomas Allen, Sang Guru Terbaik yang Menjadi Pelaku

Berita Terbaru

Foto : Karikatur Preman

Politik & Pemerintahan

Jalan Lebar Preman Menuju Kekuasaan

Jumat, 5 Jun 2026 - 16:16 WIB