Metrosiar – Selama 12 tahun masa kepausannya, Paus Fransiskus telah mengunjungi 68 negara, menjalankan misi tanpa lelah untuk membawa Sabda Tuhan dan kasih-Nya ke seluruh umat manusia.
Dari Rio de Janeiro hingga Ajaccio, ia melakukan 47 Perjalanan Apostolik lintas benua. Jika dihitung dari jarak tempuh, Paus Fransiskus telah berkeliling dunia berkali-kali, menyampaikan pesan kedekatan dan harapan ke berbagai belahan bumi.
Perjalanan internasional pertamanya adalah ke Lampedusa, pulau kecil di selatan Italia yang menjadi pintu masuk bagi para migran ke Eropa.

Kunjungan ini menandai perhatiannya kepada kaum miskin, pengungsi, dan mereka yang terpinggirkan, suatu tema yang terus ia angkat sepanjang kepemimpinannya.
Dalam setiap kunjungannya, Paus Fransiskus selalu tampil sederhana. Ia dikenal membawa sendiri tas kecil hitamnya, menyapa langsung para wartawan di dalam pesawat, dan memilih kendaraan terbuka untuk berinteraksi dengan masyarakat.
Ia lebih memilih sambutan hangat rakyat daripada protokol mewah kenegaraan.

Paus tak segan menyampaikan kritik langsung kepada pemimpin negara yang ia kunjungi, menuntut keadilan dan kesejahteraan umum. Namun bagi umat dan para pelayan Gereja, ia selalu hadir dengan pesan penghiburan dan rasa terima kasih.
Di tengah tantangan sekularisasi dan krisis internal Gereja, ia juga mengunjungi negara-negara Eropa seperti Belgia mengangkat isu sensitif seperti penyalahgunaan kekuasaan, gender, dan aborsi seraya tetap menyerukan persatuan dan rekonsiliasi.

Beberapa kunjungannya bertujuan sebagai “ziarah perdamaian”, seperti ke Kolombia, Sudan Selatan, Irak, dan Kanada. Di Mongolia, ia menunjukkan perhatian bahkan kepada komunitas Katolik kecil yang hanya berjumlah 1.500 orang.

Meski kondisi fisiknya semakin menurun hingga harus menggunakan kursi roda dan membatalkan sejumlah kunjungan, semangatnya tidak pernah luntur.
Ia tetap hadir untuk umatnya, termasuk di daerah terpencil seperti Papua Nugini, di mana masyarakat adat menyambutnya dengan semangat luar biasa.

Satu kunjungan yang belum pernah terjadi dan masih dinanti adalah ke tanah kelahirannya sendiri, Argentina. Namun tampaknya, bagi Paus Fransiskus, rumah adalah di mana pun ia berada, karena setiap orang adalah saudara dan saudarinya.(*)
Editor : Nedu Wodo Mezhe
Sumber Berita: vaticannews









