Metrosiar – Pasar padel di Swedia yang sempat disebut sebagai “demam emas” kini justru berakhir dengan ambruknya banyak perusahaan besar. Dari ribuan lapangan yang dulu ramai dipadati pemain, kini sebagian besar justru kosong dan beralih fungsi menjadi gudang, toko, hingga pusat penyimpanan.
Menurut laporan 2023, raksasa bisnis We Are Padel hanya menyisakan 13 klub aktif setelah menderita kerugian fantastis hingga 716 juta kronor Swedia (sekitar Rp1 triliun lebih) pada 2022. Perusahaan lain, PDL United yang didukung Coeli Private Equity, bahkan bangkrut dan asetnya diambil alih kreditor. Data Creditsafe mencatat hampir 90 perusahaan padel di Swedia gulung tikar sepanjang 2023.
Dari Fenomena Nasional Jadi Krisis Bisnis
Olahraga padel mulai booming di Swedia saat pandemi Covid-19. Dengan konsep permainan yang sederhana, ramah segala usia, serta sesuai aturan jaga jarak, padel berkembang pesat. Hanya dalam beberapa tahun, ribuan lapangan dibangun dan sempat mencapai 700.000 pemain aktif dari total 10 juta penduduk Swedia.
Namun, tren yang tumbuh terlalu cepat ini tidak bertahan lama. Setelah pandemi mereda, masyarakat kembali sibuk bekerja, inflasi menekan daya beli, dan jumlah pemain merosot drastis. Lapangan yang dulunya penuh kini sepi, terutama di luar jam sibuk. Banyak pengelola akhirnya menutup bisnis, bahkan mengalihkan lapangan padel menjadi toko kelontong, gudang panel surya, hingga penyimpanan ban.
Euforia yang Berakhir Pahit
CEO LeDap, Eno Polo, menggambarkan fenomena ini mirip dengan gelembung properti. Investor berbondong-bondong masuk tanpa mempertimbangkan daya tahan pasar. “Ledakan padel di Swedia seperti demam emas. Semua orang berlomba ikut, tapi akhirnya pecah,” ujarnya.
Kasus Swedia menjadi peringatan keras bagi para calon investor: tidak semua tren olahraga atau bisnis musiman bisa bertahan lama. Tanpa perhitungan matang, investasi besar justru bisa berujung kerugian miliaran.
Potensi Global Masih Ada, Tapi Perlu Hati-Hati
Meski runtuh di Swedia, padel secara global masih diprediksi berkembang. Menurut Global Padel Report 2023 (Playtomic & Deloitte), nilai industri padel dunia bisa mencapai 6 miliar euro pada 2026, dengan jumlah lapangan yang diproyeksikan naik dua kali lipat menjadi 85.000.
Sejumlah investor tetap optimis. Pendiri Spotify, Martin Lorentzon, misalnya, mendukung pembangunan pusat padel baru di London pada 2025. Inggris dipandang sebagai pasar potensial berikutnya.
Namun, kisah Swedia tetap menjadi contoh penting: investasi olahraga berbasis tren perlu analisis mendalam agar tidak terjebak euforia.
FAQ: Apa Itu Padel?
1. Apa itu olahraga padel?
Padel adalah olahraga raket gabungan tenis dan squash, dimainkan di lapangan berpagar kaca berukuran kecil, biasanya ganda (2 vs 2).
2. Mengapa padel sempat populer di Swedia?
Karena mudah dimainkan semua usia, dianggap aman saat pandemi, dan sempat menjadi gaya hidup baru masyarakat.
3. Apakah padel masih ada di Swedia?
Ya, meski jumlahnya menurun tajam. Banyak lapangan kini beralih fungsi, sementara hanya sebagian kecil yang masih beroperasi.*









