Verra Setujui Metodologi Baru, Asia Tenggara Siap Masuki Pasar Karbon Global

Avatar photo

Minggu, 25 Mei 2025 - 18:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Emisi karbon terbesar di Asia Tenggara sebagian besar berasal dari proses pembakaran pada pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. (Sumber: Bloomberg – Krisztian Bocsi)

Emisi karbon terbesar di Asia Tenggara sebagian besar berasal dari proses pembakaran pada pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. (Sumber: Bloomberg – Krisztian Bocsi)

Metrosiar – Asia Tenggara yang selama ini mengandalkan batu bara sebagai sumber energi utama, kini memiliki peluang besar dalam perdagangan karbon global.

Hal ini menyusul disetujuinya metode perhitungan kredit karbon transisi oleh badan standardisasi internasional Verra, yang membuka pintu bagi kawasan ini untuk memainkan peran strategis dalam pasar karbon sukarela.

Metodologi baru ini memungkinkan pemberian kredit karbon atas pensiun dini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara.

Dengan panduan ini, proyek pengurangan emisi dari penghentian operasional PLTU dapat dihitung secara sistematis.

Setiap ton emisi karbon dioksida (CO₂) yang berhasil dihindari akan dikonversi menjadi satu kredit karbon transisi.

Kredit-kredit ini dapat dibeli oleh perusahaan yang tengah mengejar target net-zero atau digunakan oleh pemerintah untuk mendukung pencapaian target iklim nasional sesuai Perjanjian Paris 2015.

“Bagi Asia Tenggara, metodologi ini memperkuat ambisi untuk menjadikan kawasan ini sebagai pusat perdagangan karbon global,” tulis Analis BloombergNEF, Joy Foo, dalam laporannya yang dikutip pada Selasa (20/5/2025).

Asia Tenggara Semakin Berperan di Pasar Karbon Global

Hingga saat ini, Asia Tenggara telah menyumbang sekitar 4% dari penerbitan kredit karbon secara global, dan 17% dari total penggunaan kredit karbon (retirement) di dunia tahun ini berasal dari kawasan ini.

Baca juga:  Trump Tangguhkan Tarif Timbal Balik 90 Hari, Naikkan Tarif Impor China Jadi 125%

Potensi kawasan ini semakin besar mengingat dominasi PLTU dalam bauran energi listrik. Pada 2023, sekitar 471 PLTU aktif menyumbang 43,5% dari total pembangkitan listrik, naik drastis dari 19,7% pada tahun 2000.

Di Indonesia sendiri, batu bara masih menjadi sumber energi termurah dalam satu dekade terakhir.

Analisis BloombergNEF mencatat bahwa biaya operasional PLTU konvensional 66%–70% lebih murah dibandingkan pembangkit tenaga surya dan angin darat dalam hal levelized cost of energy (LCOE).

“Melimpahnya pasokan batu bara murah di Asia Tenggara memberi sinyal potensi kawasan ini dalam menghasilkan kredit transisi,” lanjut Joy Foo.

Tantangan Kualitas Kredit dan Standarisasi

Namun, meski peluang besar terbuka, pasar kredit transisi masih menghadapi tantangan dalam hal validitas dan integritas. Ketiadaan praktik terbaik dalam mekanisme perdagangan karbon menimbulkan kekhawatiran atas kualitas kredit yang beredar.

“Ketiadaan praktik terbaik [perdagangan karbon] saat ini membuat kekhawatiran terhadap integritas kredit sulit dihilangkan. Hal ini menjadi hambatan dalam membangun kepercayaan pembeli yang diperlukan untuk menarik lebih banyak pelaku pasar,” tulis BloombergNEF.

Untuk mengatasi isu ini, panduan lebih lanjut dari forum seperti perundingan iklim PBB dan Integrity Council for the Voluntary Carbon Market (ICVCM) sangat dinantikan guna merumuskan definisi kredit berkualitas tinggi.

Baca juga:  Prabowo Tegas Tolak Campur Tangan Asing dalam Ekonomi RI

Pasar Karbon Sukarela Asia Pasifik Bangkit

Pemerintah dorong kerja sama MRA untuk perluas perdagangan karbon global dan dukung target iklim melalui sertifikasi SPEI.
Perdagangan Karbon Indonesia didorong untuk lebih mendunia lagi. (Foto: Ilustrasi/Freepik)

Di tengah tantangan tersebut, kabar baik datang dari pasar karbon sukarela (voluntary carbon market) Asia Pasifik yang menunjukkan pemulihan signifikan pada April 2025.

Menurut BloombergNEF (BNEF), baik dari sisi penawaran maupun permintaan, pasar mencatat lonjakan signifikan.

Pasokan kredit karbon naik 110% secara bulanan menjadi 8,27 juta ton setara CO₂, menyumbang sekitar 34% dari total pasokan global.

Thailand menunjukkan performa impresif dengan melonjak ke posisi ketiga penerbit terbesar di kawasan, dari posisi kedelapan bulan sebelumnya.

Sebagian besar kredit berasal dari proyek pembangkitan energi (93%), sementara sisanya dari sektor transportasi.

Meski terdapat kekhawatiran soal integritas proyek energi, sektor ini tetap dominan, menghasilkan tambahan 5,52 juta kredit selama April.

Sementara itu, permintaan (retirement) juga meningkat 53% menjadi 7,53 juta, mencakup separuh dari total global. EnergyAustralia tercatat sebagai pembeli terbesar dengan penggunaan 640.000 kredit dari proyek emisi di Bangladesh.

“India tetap menjadi pasar terbesar untuk penggunaan kredit, dengan 1,45 juta digunakan di bulan yang sama,” bunyi laporan tersebut.

Harga kredit proyek energi juga melonjak dua kali lipat dibandingkan bulan Maret, yang menunjukkan minat pasar semakin tinggi, meskipun peningkatan nilai lebih dipengaruhi oleh transaksi bernilai tinggi.(*)

Editor : Konradus Fedhu

Sumber Berita: Bloomberg

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Harga Emas dan Perak Melonjak Tajam, Pasar Dibayangi Kesepakatan AS-Iran
Warga Shock! Harga Tomat di Pasar Agro Sumillan Tembus Rp900 Ribu per Peti, Cabai Ikut Menggila!
Resmi! Norman Ginting Duduki Kursi Puncak METI, Ini Fakta Pentingnya
Harga Bawang Stabil, Enrekang Jadi Ladang Emas Petani
Geger Penembakan di Gala Dinner Gedung Putih, Ini Sosok Cole Tomas Allen, Sang Guru Terbaik yang Menjadi Pelaku
Harga Emas Terpukul, Lonjakan Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu
Kapolri Turun ke Cikupa, Ungkap Fakta Penting soal Buruh dan Investasi
Ngada Dibidik Investor, Ketua DPRD Bongkar Potensi Besar yang Belum Tergarap
Berita ini 35 kali dibaca
Metodologi baru kredit karbon transisi dari Verra membuka peluang besar bagi Asia Tenggara, kawasan yang masih sangat bergantung pada batu bara. Dengan metode ini, emisi yang dihindari dari pensiun dini PLTU batu bara dapat dikonversi menjadi kredit karbon, yang bisa digunakan untuk target iklim perusahaan maupun negara. Asia Tenggara, yang kini menyumbang 17% dari penggunaan kredit karbon global, berpotensi menjadi pusat perdagangan karbon dunia. Meski pasar kredit transisi masih dalam tahap awal dan menghadapi tantangan integritas, pasar karbon sukarela Asia Pasifik menunjukkan pemulihan kuat dengan peningkatan suplai dan permintaan pada April 2025.

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 08:01 WIB

Harga Emas dan Perak Melonjak Tajam, Pasar Dibayangi Kesepakatan AS-Iran

Kamis, 7 Mei 2026 - 16:39 WIB

Warga Shock! Harga Tomat di Pasar Agro Sumillan Tembus Rp900 Ribu per Peti, Cabai Ikut Menggila!

Rabu, 6 Mei 2026 - 08:18 WIB

Resmi! Norman Ginting Duduki Kursi Puncak METI, Ini Fakta Pentingnya

Minggu, 3 Mei 2026 - 00:12 WIB

Harga Bawang Stabil, Enrekang Jadi Ladang Emas Petani

Minggu, 26 April 2026 - 15:44 WIB

Geger Penembakan di Gala Dinner Gedung Putih, Ini Sosok Cole Tomas Allen, Sang Guru Terbaik yang Menjadi Pelaku

Berita Terbaru

Dandim 0510/Tigaraksa Letkol Inf Yudho Setyono (tengah) bersama unsur Forkopimcam dan warga berfoto usai penyerahan bantuan kepada penerima program RTLH di Desa Patrasana, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang.

TNI POLRI

TNI Bedah Rumah Warga Miskin di Kresek, Hasilnya Bikin Takjub

Sabtu, 9 Mei 2026 - 16:05 WIB

Tim Resmob Satreskrim Polres Serang saat mengamankan terduga pelaku penculikan balita di kawasan Pelabuhan Merak, Banten.

Hukum & Kriminal

Balita Dibawa Kabur ke Sumatera, Pelaku Ditangkap di Pelabuhan Merak

Sabtu, 9 Mei 2026 - 13:13 WIB

Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah (tengah kiri) bersama jajaran Polresta Tangerang menunjukkan barang bukti hasil pengungkapan kasus peredaran obat keras ilegal di Mapolresta Tangerang.

Hukum & Kriminal

37 Ribu Obat Keras Ilegal Digerebek di Tangerang, Dua Bandar Diciduk

Sabtu, 9 Mei 2026 - 09:54 WIB