Nilai Tukar Rupiah Semakin Anjlok

Avatar photo

Kamis, 16 Januari 2025 - 08:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Metrosiar, Jakarta Indonesia – Momen inagurasi Presiden Terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump menjadi hal yang ditunggu-tunggu pelaku pasar. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga tampak mengalami fluktuasi yang tajam jelang momen sakral tersebut.

Inagruasi Trump akan diselenggarakan pada Senin pekan depan atau 20 Januari 2025 di Gedung Capitol AS. Aparat keamanan tampak terus menjaga dan memperketat keamanan di Washington dan Gedung Capitol AS.

Lebih lanjut, sejumlah pejabat federal hingga perwakilan Wakil Presiden Terpilih, JD Vance juga tampak telah mengikuti gelaran gladi bersih menjelang pelantikan.

Momen inagurasi tersebut tidak hanya menjadi momen yang sakral, melainkan juga memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.

Berdasarkan pemantauan CNBC Indonesia Research, rupiah cenderung mengalami pelemahan jelang inagurasi Trump baik di periode pertama ia menjabat, maupun di periode kedua ini.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah terdepresiasi sebesar 0,87% (akhir Desember 2016 hingga 14 Januari 2017). Sedangkan kali ini, rupiah juga kembali melemah namun lebih dalam dibandingkan periode sebelumnya yakni sebesar 1,05% (akhir Desember 2024 hingga 14 Januari 2025).

Kendati demikian, rupiah cenderung mengalami penguatan sepanjang Januari 2017 yakni sebesar 0,91%. Hal ini diharapkan dapat kembali terjadi di Januari 2025.

Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Baca juga:  Harta Diam-diam Dipindah ke Luar Negeri, Apa yang Dikhawatirkan Orang Kaya Indonesia?

Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia – Momen inagurasi Presiden Terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump menjadi hal yang ditunggu-tunggu pelaku pasar. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga tampak mengalami fluktuasi yang tajam jelang momen sakral tersebut.

Inagruasi Trump akan diselenggarakan pada Senin pekan depan atau 20 Januari 2025 di Gedung Capitol AS. Aparat keamanan tampak terus menjaga dan memperketat keamanan di Washington dan Gedung Capitol AS.

Lebih lanjut, sejumlah pejabat federal hingga perwakilan Wakil Presiden Terpilih, JD Vance juga tampak telah mengikuti gelaran gladi bersih menjelang pelantikan.

Momen inagurasi tersebut tidak hanya menjadi momen yang sakral, melainkan juga memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.

Berdasarkan pemantauan CNBC Indonesia Research, rupiah cenderung mengalami pelemahan jelang inagurasi Trump baik di periode pertama ia menjabat, maupun di periode kedua ini.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah terdepresiasi sebesar 0,87% (akhir Desember 2016 hingga 14 Januari 2017). Sedangkan kali ini, rupiah juga kembali melemah namun lebih dalam dibandingkan periode sebelumnya yakni sebesar 1,05% (akhir Desember 2024 hingga 14 Januari 2025).

Kendati demikian, rupiah cenderung mengalami penguatan sepanjang Januari 2017 yakni sebesar 0,91%. Hal ini diharapkan dapat kembali terjadi di Januari 2025.

Tekanan demi tekanan terhadap rupiah hingga saat ini terus terjadi bahkan hal ini telah terjadi sejak Oktober 2024.

Baca juga:  Presiden Prabowo Dorong Ekonomi Nasional Berdiri di Atas Kaki Sendiri

Rupiah pada saat itu berada di kisaran angka Rp15.100an/US$ sementara saat ini sudah berada di angka Rp16.313/US$ (15 Januari 2025 pukul 09:45 WIB).

Salah satu alasannya karena kebijakan ekonomi Trump yang sangat pro dalam negeri serta proteksionismenya membuat modal kembali banjiri pasar AS.

Akibatnya dolar AS terbang dan imbal hasil US Treasury juga ikut naik. Imbal hasil US Treasury bahkan sempat menembus 4,8% atau level tertinggi dalam setahun. Padahal, imbal hasil masih bergerak di angka 4,2% sebelum Trump terpilih pada pemilu 5 November 2024.

Gejolak imbal hasil diperkirakan masih akan tetap tinggi ke depan. Dengan kebijakan ekonomi dalam negerinya, inflasi AS kemungkinan sulit melandai dengan cepat.

Sebagai akibatnya, bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) bisa memperlambat pemangkasan suku bunga. Kondisi ini bisa membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury terbang.

The Fed dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Desember 2024 mengindikasikan hanya akan memangkas suku bunga acuan dua kali tahun ini. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan dengan sebelumnya yakni empat kali.

Kenaikan dolar masih kencang pagi ini. Indeks dolar menembus 109, 25 atau level tertingginya sejak November 2022 atau lebih dari dua tahun.

 

Sumber Berita: CNBC

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Terungkap! Ini Profil Kampus Gibran, MDIS Singapura, Benarkah Kontroversial?
MDIS Tegaskan Gibran Lulusan Singapura, Tapi Putusan MK Bikin Polemik Makin Panas
Bangkok Bank Bawa 37 Investor Thailand, Ada Apa dengan Indonesia?
Empat Jalan Tangerang Tuntas, Akses Warga Kembali Lancar
Pemkab Tangerang Punya Gebrakan Baru, Desa Cikuya Jadi Pusat Komoditas
Hari Hak untuk Tahu: Perjalanan Panjang Menuju Keterbukaan Informasi
Indonesia Bidik Investor Data Center, Potensi Listrik Papua 23 GW
AMDAL Jadi Kunci Proyek Aman, Ini Risiko Jika Diabaikan!
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:28 WIB

Terungkap! Ini Profil Kampus Gibran, MDIS Singapura, Benarkah Kontroversial?

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:48 WIB

MDIS Tegaskan Gibran Lulusan Singapura, Tapi Putusan MK Bikin Polemik Makin Panas

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:23 WIB

Bangkok Bank Bawa 37 Investor Thailand, Ada Apa dengan Indonesia?

Selasa, 29 September 2026 - 13:19 WIB

Empat Jalan Tangerang Tuntas, Akses Warga Kembali Lancar

Selasa, 29 September 2026 - 13:10 WIB

Pemkab Tangerang Punya Gebrakan Baru, Desa Cikuya Jadi Pusat Komoditas

Berita Terbaru

TNI POLRI

Polri Larang Vape, Personel yang Melanggar Terancam Sanksi!

Kamis, 5 Nov 2026 - 14:59 WIB