Oleh: Ir. Panji Sukma Nugraha, S.T., M.M., IPM,
Wakil Sekretaris Jendral Persatuan Insinyur Indonesia
Setiap tanggal 1 Juni, kita mengenang Hari Pancasila. Tapi di tengah gempuran tantangan zaman ,geopolitik global, PHK industri besar-besaran, dan krisis ketergantungan impor. Mungkin sudah saatnya kita bertanya ulang: di mana letak Pancasila hari ini? Bukan di pidato seremonial, tapi apakah ia masih menjadi pedoman nyata dalam pembangunan bangsa?
Bagi saya, seorang insinyur, jawabannya: iya, Pancasila masih sangat sakti dan terus relevan jika kita mau menjadikannya sebagai ideologi kerja, bukan hanya ideologi wacana. Dan salah satu jalan paling nyata untuk itu adalah “Reindustrialisasi Indonesia”.
Mari kita kilas balik sejenak. Indonesia pernah punya masa keemasan industri, terutama pada era 1980–1990-an. Industri saat itu menyumbang lebih dari 30% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap jutaan tenaga kerja. Tapi hari ini, kondisinya berbeda. Kontribusi sektor industri terus merosot, sementara ekonomi kita semakin bergantung pada barang impor.
Bersamaan dengan ini, dunia juga sedang bergejolak. Terjadi disrupsi rantai pasok global, tekanan geopolitik, hingga transisi menuju ekonomi hijau. Sehingga kondisi ini menyebabkan gelombang PHK besar-besaran di sektor industri dan manufaktur. Indonesia tidak kebal bahkan tidak siap. Ini bukti bahwa kita belum punya fondasi industri yang kokoh dan mandiri.
Lalu, apa hubungannya dengan Pancasila?
Semuanya. Pancasila adalah kompas arah pembangunan. Sila kelima tentang keadilan sosial mengajak kita memastikan hasil industrialisasi tidak hanya dinikmati segelintir orang di kota-kota besar . Sila ketiga, persatuan Indonesia, berarti memperkuat ekosistem industri di seluruh wilayah. Bahkan sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, bisa diterjemahkan sebagai partisipasi rakyat dalam pembangunan ekonomi.
Reindustrialisasi bukan hanya semata-mata proyek ekonomi. Ini soal kedaulatan suatu bangsa bahkan tidak ada satupun negara yang maju tanpa industri yang kuat”. Di tengah krisis global, hanya negara dengan fondasi industri yang kuat yang bisa bertahan. Dan Pancasila, sebagai pedoman etis dan ideologis, bisa menjadi dasar arah baru: membangun industri yang berkelanjutan, berbasis riset, dan berpihak pada kepentingan nasional. Namun, semua ini tidak akan terwujud tanpa aktor perubahan. Dan di sinilah peran insinyur terutama generasi muda sangat penting.
Mereka bukan hanya di desain menjadi seorang teknokrat ataupun professional, untuk menguasai teknologi, tetapi juga harus memiliki karakter kepemimpinan, jiwa kebangsaan dan kesadaran akan pentingnya membangun kedaulatan industri nasional. Insinyur muda hari ini adalah calon pemimpin yang membawa visi Indonesia Emas 2045. Mereka harus diberi ruang, kepercayaan, dan ekosistem untuk berkarya.
Tapi tentu, untuk mewujudkan kesaktian Pancasila dalam reindustrialisasi, mereka tidak bisa bekerja sendirian. Diperlukan sinergi: pemerintah yang berani menata ulang arah industri nasional, dunia usaha yang berinvestasi pada sektor produktif, dan masyarakat yang menghargai pentingnya kerja berbasis inovasi. Sinergi ini akan menjadi fondasi kuat dalam membangun bangsa yang berdaya saing dan bermartabat.
Etika dan tanggung jawab moral keinsinyuran juga tak kalah penting. Insinyur sejati tidak hanya bekerja berdasarkan perhitungan teknis, tapi juga menjunjung tinggi tanggung jawab moral untuk keselamatan dan kepentingan publik, kelestarian lingkungan, dan keadilan sosial. Di situlah nilai-nilai Pancasila hidup dan bekerja.
Jadi, di mana letak saktinya Pancasila hari ini? Kesaktiannya terletak pada kemampuannya untuk menjadi panduan etis dan praktis dalam menyusun arah pembangunan Indonesia yang mandiri, adil, dan berdaya saing. Dan jika hari ini para insinyur, regulator, pelaku industri, dan rakyat mau bergandengan tangan untuk membangun, merancang, dan memimpin transformasi industri , saat itulah Pancasila hidup dan bekerja. Bukan hanya sebagai slogan, tetapi sebagai ideologi kerja yang sakti.









