Metrosiar – Demo besar-besaran mengguncang Turki sejak Rabu (19/3/2025) hingga Jumat (21/3/2025). Aksi ini bahkan berimbas pada anjloknya pasar saham Turki.
Demonstrasi yang meluas hampir ke seluruh negara ini dipicu oleh penangkapan Ekrem Imamoglu, Wali Kota Istanbul yang terkenal, dalam kasus penyelidikan korupsi dan dugaan terorisme.
Penangkapan tersebut memicu reaksi negatif di pasar keuangan, di mana para pemberi pinjaman segera menunjukkan respons buruk.
Imamoglu, yang merupakan saingan politik utama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, ditangkap pada Rabu dini hari, beberapa hari sebelum ia ditetapkan sebagai kandidat partai oposisi utama CHP dalam pemilihan presiden 2028.
300.000 Orang Turun ke Jalan
Pada hari ketiga aksi protes, Jumat (21/3/2025), sekitar 300.000 orang turun ke jalan di Istanbul, menurut pemimpin oposisi, Ozgur Ozel.
Demonstrasi ini didominasi oleh mahasiswa yang menentang keputusan Universitas Istanbul yang mencabut ijazah Imamoglu.
“Kami memprotes penangkapan Imamoglu dan keputusan Universitas Istanbul,” kata jurnalis Al Jazeera, Aksel Zaimovic.
Bursa Saham Jatuh, Lira Terpuruk
Meskipun para demonstran menegaskan tujuan aksi ini adalah untuk menuntut keadilan, bukan untuk mendukung satu partai politik.
Aksi ini awalnya hanya berlangsung di Istanbul, namun sejak hari pertama, Rabu (18/3/2025), 32 provinsi di Turki ikut serta dalam demonstrasi.
Sayangnya, beberapa aksi protes berujung bentrokan antara demonstran dan polisi. Polisi Turki merespons dengan menembakkan peluru karet dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan.
Sejak demo dimulai, 88 pengunjuk rasa ditangkap, sementara 54 orang lainnya ditangkap terkait unggahan daring yang dianggap sebagai ujaran kebencian.
Imamoglu Ditangkap, Krisis Politik Memburuk
Ekrem Imamoglu ditangkap oleh polisi Turki pada Rabu (20/3/2025) dengan tuduhan korupsi dan mendukung terorisme.
Jaksa menuduhnya membantu Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang, dengan diduga membentuk aliansi dengan kelompok Kurdi untuk pemilihan kota Istanbul.
Penahanan ini terjadi beberapa hari sebelum Imamoglu dinyatakan sebagai kandidat partai oposisi utama CHP dalam pemilihan presiden 2028.
Penahanan Imamoglu memperdalam kekhawatiran atas kondisi demokrasi di Turki dan memicu protes, meskipun ada larangan demonstrasi.
Demo dan Kerusuhan Terus Berkembang
Hal ini juga berdampak pada pasar keuangan, yang mengalami gelombang kejut dan memicu penghentian sementara perdagangan pada hari Rabu.
Presiden Recep Tayyip Erdogan menegaskan pemerintah tidak akan menoleransi protes jalanan dan menuduh Partai Rakyat Republik (CHP) yang dipimpin Imamoglu berusaha menimbulkan kerusuhan.
“Kami tidak akan membiarkan segelintir oportunis menimbulkan kerusuhan di Turki,” kata Erdogan.
Krisis Ekonomi Melanda Turki
Perekonomian Turki saat ini menghadapi ancaman krisis setelah pasar keuangan mengalami kehancuran akibat protes besar-besaran masyarakat terkait penahanan Ekrem Imamoglu, Wali Kota Istanbul dan rival politik utama Presiden Tayyip Erdogan.
Penangkapan Imamoglu, yang dianggap sebagai tokoh penting dalam politik Turki, telah memicu reaksi negatif di pasar keuangan dan menambah ketidakpastian yang sudah ada.
Lira Terjun Bebas, Bursa Saham Terkapar
Mengacu pada laporan Bloomberg, mata uang Lira Turki mengalami penurunan 0,5 persen pada level 37,9482 per dolar pada Jumat, 21 Maret 2025.
Penurunan ini merupakan kelanjutan dari tren negatif, di mana Lira telah anjlok 37 persen selama lima hari terakhir, menjadikannya kinerja terburuk sejak Juni 2023.
Obligasi dan Bursa Saham Turki Anjlok
Tak hanya Lira, obligasi negara Turki yang berdenominasi dolar juga menunjukkan penurunan yang signifikan selama tiga hari berturut-turut.
Obligasi bertenor panjang bahkan kehilangan 2 sen, yang merupakan penurunan terbesar sejak Januari 2024.
Bursa saham Turki pun mengalami kejatuhan yang drastis, sehingga pemerintah terpaksa memberlakukan trading halt.
Bursa ditutup di level terendah 904.464 dan mencatat penurunan sebesar 16,73 persen dalam empat hari, menjadikannya sebagai rekor terburuk sejak Krisis Keuangan Global pada 2008.
Bank Sentral Turki Tanggapi Krisis
Menyusul penangkapan tersebut, para pemberi pinjaman di pasar keuangan segera menunjukkan reaksi negatif.
Mereka menjual saham Turki senilai 9 miliar dollar AS, yang berdampak pada penurunan nilai mata uang Lira dan bursa saham.
Seorang pejabat bank sentral menjelaskan kepada Bloomberg bahwa upaya dilakukan untuk mengekang volatilitas arus keluar simpanan Lira di awal minggu, namun hasilnya malah memicu aksi jual massal.
Dalam upaya untuk merespons ketidakstabilan yang disebabkan oleh situasi politik ini, Bank Sentral Turki menaikkan suku bunga overnight. Kebijakan ini diambil sebagai langkah untuk menahan krisis ekonomi yang semakin mendalam.(*)
Editor : Konrad
Sumber Berita: Bloomberg









