Metrosiar – Pasca serangan Israel yang menghancurkan, kehidupan warga Gaza semakin memprihatinkan hingga saat ini.
Meski wilayah Gaza sudah hancur, Israel melarang bantuan kemanusiaan untuk masuk, memaksa warga yang selamat untuk bertahan hidup di antara reruntuhan.
Keputusasaan di Gaza: Warga Kehilangan Harapan
Di tengah kehancuran, warga Gaza terpaksa hidup tanpa rumah permanen, berlindung di bawah sisa bangunan yang hancur akibat serangan Israel.
Banyak dari mereka yang merasa telah kehilangan segala sesuatu, dan ancaman terbaru dari Presiden AS, Donald Trump, semakin memperburuk situasi.
Trump mengancam akan menghancurkan Gaza lebih lanjut jika sandera Israel tidak segera dibebaskan, sebuah ancaman yang dianggap banyak warga Gaza sebagai alasan untuk melanjutkan kekerasan terhadap mereka.
Kehidupan Terkoyak oleh Perang dan Ancaman
Warga Gaza semakin skeptis terhadap upaya internasional dalam mengatasi krisis. Yasser al-Sharafa, seorang warga Gaza berusia 59 tahun, menyatakan ancaman Trump tidak memengaruhi dirinya karena dia merasa sudah tidak memiliki apa-apa lagi yang bisa hilang.
“Kehancuran di mana-mana, tidak ada yang tersisa untuk disesali,” ujarnya, dikutip dari Al Jazeera.
Keadaan ini hanya menambah rasa frustrasi, dengan warga yang merasa terperangkap dalam siklus kekerasan yang tak berujung.
Bantuan Kemanusiaan Tertahan, Krisis Semakin Parah
Jamila Mahmoud, seorang ibu berusia 62 tahun, menggambarkan situasi tragis di Gaza dengan ketidakmampuan untuk mengakses komunikasi atau bantuan.
Ia menganggap ancaman Trump sebagai bagian dari perang psikologis untuk memaksa warga Gaza keluar dari tanah air mereka. Meskipun kondisi semakin buruk, Mahmoud bersikeras untuk tetap bertahan di Gaza, tanah kelahirannya.
Usulan Indonesia untuk Gaza: Solusi dan Rekonstruksi
Di tengah kondisi yang semakin memburuk, Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, mengusulkan tiga langkah utama untuk merespons situasi di Palestina.
Salah satunya adalah memastikan akses bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza tanpa syarat.
Indonesia juga mendesak agar proses rekonstruksi Gaza dilakukan dengan memperhatikan kepentingan rakyat Palestina, serta menolak pemindahan paksa warga Gaza.
Solidaritas Dunia untuk Palestina: Peran OKI dan PBB
Indonesia juga menyerukan solidaritas internasional yang lebih kuat melalui Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Liga Arab, dan PBB, untuk memperjuangkan solusi dua negara bagi Palestina-Israel.
Indonesia juga mendukung upaya untuk memberikan perlindungan hukum kepada Palestina melalui Mahkamah Internasional (ICJ) dan mendorong Dewan Keamanan PBB untuk menghasilkan resolusi yang mendukung pemulihan Gaza.
Konferensi OKI: Menyepakati Resolusi untuk Gaza dan Suriah
Dalam Konferensi Tingkat Menteri Luar Biasa (KTM-LB) OKI yang digelar di Jeddah, Arab Saudi, pada 7 Maret 2025, Indonesia dan negara-negara anggota OKI lainnya menegaskan komitmen untuk mendukung rekonstruksi Gaza dan mengembalikan keanggotaan Suriah di OKI.
Dua resolusi penting disepakati, yang mencakup dukungan terhadap pemulihan Gaza dan upaya diplomatik untuk memperkuat solidaritas terhadap Palestina.(*)
Editor : Lisan Al-Ghaib
Sumber Berita: BeritaMediaSiber









