HAN ke-42 di Ngada Jadi Alarm: Ray Bena Soroti Kekerasan, Bahaya Digital dan Hak Anak

Avatar photo

Jumat, 7 Agustus 2026 - 22:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Ngada, Raymundus Bena. (Foto: Elfrat Frans Dhena)

Bupati Ngada, Raymundus Bena. (Foto: Elfrat Frans Dhena)

Bajawa.Metrosiar- Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 di Kabupaten Ngada tidak berhenti pada seremoni dan perayaan.

Di balik momentum tersebut, Pemerintah Kabupaten Ngada membuka kembali sejumlah persoalan mendasar yang menyangkut masa depan anak: perlindungan dari kekerasan, pendampingan di tengah derasnya perkembangan teknologi, pemenuhan hak dasar, hingga keberanian mendengar suara anak.

Pesan itu disampaikan Bupati Ngada Raymundus Bena saat membuka kegiatan Hari Anak Nasional tingkat Kabupaten Ngada di Aula Setda Ngada, Jumat (7/8/2026).

Ray Bena menegaskan, anak-anak tidak boleh terus ditempatkan hanya sebagai objek pembangunan.

“Mereka bukan hanya penerus pembangunan, tetapi adalah bagian dari pembangunan yang sedang kita laksanakan hari ini,” tegasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pembangunan daerah tidak semata-mata dilihat dari pembangunan jalan, gedung maupun pertumbuhan ekonomi.

Perlindungan dan pemenuhan hak anak juga harus menjadi indikator penting keberhasilan pembangunan manusia di Ngada.

Mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depannya”, HAN tahun ini menurut Ray Bena harus menjadi momentum untuk mengukur kembali sejauh mana keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah benar-benar menyediakan ruang aman bagi anak.

Bukan hanya bagaimana anak dirayakan, tetapi bagaimana hak mereka dipastikan setiap hari.

Alarm Kekerasan di Lingkungan Terdekat

Salah satu pesan paling tegas Ray Bena menyangkut perlindungan anak dari kekerasan.

Ia mengingatkan, perlindungan anak harus dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak, kata dia, jangan sampai justru berubah menjadi ruang terjadinya kekerasan.

“Jangan sampai lingkungan yang paling dekat dengan anak justru menjadi tempat terjadinya kekerasan, baik secara fisik, verbal maupun psikologis,” tegas Ray Bena.

Pernyataan tersebut menempatkan keluarga sebagai benteng pertama perlindungan anak.

Menurutnya, setiap orang dewasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga, melindungi dan memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang serta menghormati hak-hak mereka.

Ancaman Anak di Era Digital

Persoalan lain yang menjadi perhatian Bupati adalah perkembangan teknologi dan media sosial.

Baca juga:  Banjir di Legoksukamaju Jadi Perhatian, Camat Kemiri Turun Tangan

Gawai dan media sosial, menurut Ray Bena, harus menjadi sarana belajar dan berkembang bagi anak, bukan justru menjadi ruang yang membahayakan.

Karena itu, orang tua dan guru tidak boleh menyerahkan sepenuhnya aktivitas digital anak kepada teknologi.

Pendampingan menjadi penting agar anak memiliki kecakapan digital dan mampu membedakan ruang yang aman dengan ruang yang berpotensi membahayakan dirinya.

Di titik ini, peran orang tua dan guru menjadi semakin penting. Anak membutuhkan pendamping, bukan sekadar larangan.

Tidak Boleh Ada Anak yang Tertinggal

Ray Bena juga menegaskan bahwa hak anak tidak boleh gugur hanya karena kondisi ekonomi, tempat tinggal, keterbatasan fisik maupun persoalan sosial.

Pendidikan, kesehatan, gizi, sanitasi, lingkungan bersih, ruang bermain dan rasa aman harus menjadi kebutuhan dasar yang diperjuangkan bersama. “Tidak boleh ada anak yang tertinggal,” tegasnya.

Komitmen tersebut, lanjut Ray Bena, sejalan dengan misi keempat Pemerintah Kabupaten Ngada yang menempatkan pemenuhan hak masyarakat, termasuk hak perempuan dan anak, sebagai bagian dari agenda pembangunan daerah.

Dengan demikian, pembangunan manusia tidak boleh berhenti pada angka-angka pembangunan fisik dan ekonomi.

Anak harus menjadi pusat perhatian karena kualitas anak hari ini akan menentukan wajah Ngada di masa depan.

Enam Agenda Besar Perlindungan Anak

Dalam momentum HAN tersebut, Ray Bena menyampaikan enam agenda yang harus menjadi komitmen bersama.

Pertama, anak harus menjadi bagian penting dalam pembangunan dan diberi ruang untuk didengar serta menyampaikan pendapat.

Kedua, perlindungan harus dimulai dari keluarga sebagai lingkungan pertama anak.

Ketiga, anak harus didampingi dalam menghadapi perkembangan teknologi dan media sosial.

Keempat, kebutuhan dasar anak, mulai pendidikan, kesehatan, gizi, sanitasi hingga ruang bermain, harus dipenuhi.

Kelima, tidak boleh ada anak yang tertinggal karena kondisi ekonomi, sosial maupun keterbatasan lainnya.

Keenam, perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan pemerintah, keluarga, sekolah, pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dunia usaha, media dan seluruh elemen masyarakat.

Baca juga:  MUI Imbau Khatib dan Imam se Indonesia Membacakan Doa Qunut Nazilah Untuk Gaza dan Palestina

“Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri,” tegas Ray Bena.

Tantangan Setelah Seremoni

Pada akhirnya, peringatan HAN ke-42 di Ngada menyisakan pekerjaan yang jauh lebih besar daripada sekadar perayaan.

Pesannya jelas: perlindungan anak harus hadir di rumah, sekolah, desa, ruang publik hingga ruang digital.

Suara anak juga tidak boleh berhenti di panggung peringatan Hari Anak Nasional.

Sebab, jika anak hanya didengar saat perayaan tetapi tidak dilibatkan ketika keputusan pembangunan dibuat, maka semangat Hari Anak Nasional belum sepenuhnya menemukan maknanya.

Ray Bena pun kembali mengingatkan bahwa masa depan Ngada sedang dibentuk melalui anak-anak yang tumbuh hari ini.

“Kita ingin membangun Ngada yang unggul, mandiri dan berbudaya. Untuk itu, pembangunan manusia harus dimulai sejak anak-anak,” pungkasnya.

Suara Anak Jangan Berhenti di Panggung HAN

Menariknya, isu mendengarkan suara anak juga mengemuka dalam peringatan HAN tersebut.

Wakil Ketua DPRD Ngada Rudlof Agros Wogo atau Rudi Wogo menegaskan pentingnya memberikan ruang kepada anak untuk menyampaikan suara, keluhan dan pandangannya.

“Anak-anak ini harus didengarkan. Karena anak bisa menjadi hebat kalau mereka didengarkan, kalau suara dan keluhan mereka mendapat perhatian,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena partisipasi anak dalam pembangunan tidak cukup hanya ditampilkan dalam acara seremonial.

Anak perlu diberi ruang untuk menyampaikan apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka takutkan dan seperti apa lingkungan yang mereka inginkan.

Anak Harus Masuk dalam Perencanaan Pembangunan

Manager Wahana Visi Indonesia, Abner Raddani Sembong, mengatakan pihaknya terus mendorong anak-anak agar memiliki ruang untuk mengekspresikan diri sekaligus berkontribusi dalam proses perencanaan pembangunan Kabupaten Ngada.

“Kami memberikan ruang seluas-luasnya kepada anak-anak untuk mengekspresikan diri dan ikut berkontribusi dalam perencanaan pembangunan di Kabupaten Ngada,” katanya.

Pesan ini memperluas makna peringatan HAN. Anak tidak cukup hanya menjadi penerima manfaat pembangunan. Mereka juga perlu diposisikan sebagai bagian dari proses pembangunan.*

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pengurus PW Matahari Pagi Indonesia Provinsi Banten akan Perkuat Kolaborasi Membangun Daerah
Jaga Kondusivitas Wilayah, Polresta Tangerang Bentuk Sabuk Kamtibmas Libatkan Buruh hingga Ojol
Partai Gelora Kota Tangerang Perkuat Kepedulian Sosial Lewat Program Makan Gratis untuk Warga
Pengemudi Ojek Online dan Warga Sambut Antusias Program Makan Gratis dari Partai Gelora Kota Tangerang.
Pahlawan Nasional dari Papua yang Mengukuhkan Semangat Persatuan Indonesia
Indo Beauty Expo 2026 Jadi Langkah Strategis PT Pillars Cosmetiklon Indonesia Perluas Kemitraan Bisnis
Kapolres Baru Langsung Diuji! GMNI Ngada Tantang Berantas Dugaan Rokok Ilegal: “Jangan Sampai Hukum Tumpul ke Pelanggar”
Efisiensi Anggaran Tak Halangi Mimpi Anak Ngada! Strategi RB-BDN Gaet 15 Kampus, 464 Calon Mahasiswa Siap Kuliah dengan Beasiswa Miliaran Rupiah
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 22:53 WIB

HAN ke-42 di Ngada Jadi Alarm: Ray Bena Soroti Kekerasan, Bahaya Digital dan Hak Anak

Jumat, 7 Agustus 2026 - 21:52 WIB

Pengurus PW Matahari Pagi Indonesia Provinsi Banten akan Perkuat Kolaborasi Membangun Daerah

Jumat, 7 Agustus 2026 - 00:49 WIB

Jaga Kondusivitas Wilayah, Polresta Tangerang Bentuk Sabuk Kamtibmas Libatkan Buruh hingga Ojol

Kamis, 6 Agustus 2026 - 12:57 WIB

Partai Gelora Kota Tangerang Perkuat Kepedulian Sosial Lewat Program Makan Gratis untuk Warga

Kamis, 6 Agustus 2026 - 07:57 WIB

Pahlawan Nasional dari Papua yang Mengukuhkan Semangat Persatuan Indonesia

Berita Terbaru