Enrekang, Metrosiar--Kabut tipis masih menggantung di perbukitan Enrekang ketika suara durian jatuh terdengar dari kejauhan, Jum’at (8/5/2026).
“Dukkk!”
Suara itu memecah sunyi pagi di kebun milik keluarga Husni. Aroma tanah basah bercampur harum durian mulai memenuhi udara. Di bawah pohon-pohon tua yang menjulang, beberapa buah berduri tampak merekah alami, seolah tahu waktunya telah tiba.
Ibu Husni memungut satu per satu durian yang jatuh pagi itu. Tangannya sudah terbiasa dengan duri-duri tajam. Sesekali ia mengetuk kulit durian, mendengarkan bunyinya dengan teliti seperti seorang ahli musik yang mengenali nada.
“Yang ini manis,” gumamnya pelan.
Di teras rumah, Mbak Yuli sibuk menyusun pesanan pelanggan. Kardus-kardus sudah berjejer rapi. Nama-nama tujuan tertulis dengan spidol hitam: Parepare. Sidrap. Makassar.
Tiba-tiba ponsel di meja bergetar.
Pesan baru masuk.
Mbak Yuli membaca cepat, lalu tersenyum kecil.
“Bu… itu lagi.”
Ibu Husni menoleh. “Siapa?”
“Ratu Bawang.”
Mereka saling pandang beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil.
Nama itu sudah tidak asing lagi. Seorang pelanggan dari Sossok yang belakangan rutin memesan durian Pelali. Belakangan mereka tahu, pemilik pesanan itu adalah Ibu Yeniz, anggota DPRD Kabupaten Enrekang dari Partai NasDem.
Yang membuat semuanya terasa unik, cara pesanannya selalu sama.
Singkat. Tanpa banyak penjelasan. Hanya satu kalimat sederhana:
“Antar saja ke Ratu Bawang.”
Awalnya mereka sempat bingung. Namun karena pesanan selalu jelas dan pembayaran tidak pernah bermasalah, lama-lama kalimat itu justru menjadi semacam legenda kecil di rumah mereka.
“Menurutmu dia sebenarnya suka durian… atau cuma penasaran?” tanya Mbak Yuli sambil memasukkan durian kedalam kardus.
Ibu Husni terkekeh. “Kalau sudah pesan dua kali, itu bukan penasaran lagi.”
Mereka kembali tertawa.
Di luar rumah, mobil angkutan antar kota mulai datang. Sopir turun sambil meregangkan badan.
“Yang ke Makassar mana?”
Mbak Yuli menunjuk dua kardus besar di sudut teras.
“Itu. Hati-hati bawanya. Itu pelanggan spesial.”
Sopir mengangguk paham.
Perjalanan dari Enrekang ke Makassar bukan hal singkat. Jalan berliku, udara dingin pegunungan, lalu panas kota pesisir menanti di ujung perjalanan. Namun anehnya, durian-durian Pelali itu selalu berhasil tiba dengan cerita baru.
Kadang orang membeli durian karena lapar.
Kadang karena penasaran.
Tapi ada juga yang membeli untuk mengulang rasa yang sulit dilupakan.
Dan mungkin… itulah yang sedang terjadi di balik pesanan sederhana menuju sebuah tempat bernama Ratu Bawang.









