Jakarta, Metrosiar – Ketua Umum Partai Gelora Indonesia sekaligus Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Anis Matta, meminta seluruh jajaran partai memperkuat kemampuan membangun narasi dan cerita besar yang menghubungkan kehidupan masyarakat dengan perjuangan politik Gelora. Langkah ini dinilai penting untuk memperluas dukungan menjelang Pemilu 2029.
Pesan tersebut disampaikan Anis Matta dalam Rapat Koordinasi dan Bimbingan Teknis Nasional Desk Rekrutmen Anggota Partai Gelora Indonesia yang berlangsung di Hotel Pomelotel, Jalan Dukuh Patra, Kuningan Barat No. 28, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, pada 3–4 Oktober 2026.
Kegiatan ini dihadiri para ketua Desk Rekrutmen Anggota tingkat wilayah se-Indonesia serta diikuti para ketua Desk Rekrutmen Anggota tingkat daerah se-Indonesia secara daring melalui Zoom.
Menurut Anis, kekuatan utama sebuah partai tidak semata-mata terletak pada besarnya sumber daya, tetapi juga pada kemampuannya membangun cerita yang membuat masyarakat merasa memiliki kepentingan langsung untuk bergabung dan bergerak bersama.
“Semua bermula dari cerita. Orang akan bergabung dengan Partai Gelora apabila kita mampu membangun cerita yang menjawab kebutuhan mereka, sehingga mereka merasa bahwa perjuangan ini berkaitan dengan kehidupan mereka, bukan semata-mata tentang kita,” ujar Anis.
Anis menilai, narasi besar mengenai ancaman krisis global yang selama ini disampaikan Gelora perlu diterjemahkan menjadi cerita yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Isu krisis global dan perubahan geopolitik, menurutnya, sering kali terasa abstrak bagi masyarakat yang masih berhadapan dengan persoalan ekonomi dan kebutuhan sehari-hari.
“Sekarang waktunya kita menurunkan narasi besar menjadi sebuah cerita,” ujarnya.
Gelora Harus Punya Strategi Sendiri
Anis mengingatkan para kader agar tidak minder hanya karena Gelora merupakan partai yang relatif baru dan memiliki sumber daya lebih terbatas dibandingkan partai-partai besar. Sebaliknya, kader diminta menemukan strategi sendiri untuk memenangkan pertarungan politik.
“Bagi partai yang kecil seperti kita ini, kemampuan terbesar yang dibutuhkan adalah political engineering,” kata Anis.
Menurut dia, Gelora tidak perlu meniru strategi partai besar. Kader harus mempelajari cara partai lain bekerja, tetapi tetap membangun pendekatan yang sesuai dengan karakter dan kekuatan Gelora.
Anis mengibaratkan strategi tersebut seperti kisah Nabi Daud ketika menghadapi Jalut. Perbedaan kekuatan bukan alasan untuk menyerah, sebab kemenangan dapat ditentukan oleh kemampuan membaca titik lemah lawan dan menerapkan strategi yang tepat.
“Bacalah semua cara partai lain untuk menang, tapi jangan ikuti itu. Kita membuat cara kita sendiri sesuai dengan jalan yang kita tempuh,” tegasnya.
Tiga Langkah Menuju Pemilu 2029
Dalam menghadapi Pemilu 2029, Anis meminta kader di setiap wilayah membangun imajinasi politik mengenai target yang ingin dicapai. Menurutnya, perubahan besar berawal dari imajinasi yang kemudian diterjemahkan menjadi energi, tekad, dan tindakan nyata.
“Jangan merasa kecil hati kalau hayalannya besar. Sebab kalau sudah tancap di sini, itu akan turun ke hati kita. Waktu turun ke hati, dia jadi energi, jadi tekad. Kemudian turun ke badan, itu yang membuat kita bergerak,” ujarnya.
Selain membangun visi, Anis menekankan pentingnya mengatasi rasa tidak berdaya dan ketidakpercayaan diri yang dapat menghambat gerakan politik. Kader juga diingatkan untuk menjaga jarak secara psikologis dari persoalan yang dihadapi agar mampu berpikir jernih dalam mencari solusi.
Langkah ketiga adalah memperkuat hubungan spiritual melalui salat, doa, dan memohon petunjuk Allah dalam menentukan langkah politik.
“Bergabung, Bertumbuh, Berdampak”
Anis menegaskan bahwa tantangan utama Gelora dalam agenda rekrutmen bukan sekadar mengajak masyarakat menjadi anggota partai, melainkan menjawab pertanyaan mendasar: mengapa seseorang perlu bergabung dengan Gelora?
Menurutnya, jawaban atas pertanyaan tersebut harus mampu menghubungkan masa depan masyarakat dengan masa depan Gelora.
“Kalau kita menjawab pertanyaan why, yaitu mengapa orang harus bergabung, kita akan masuk ke dalam pikiran orang yang paling dalam, ke dalam psikologi pemilih,” katanya.
Ia menilai masyarakat tidak boleh hanya ditempatkan sebagai pengikut, tetapi harus menjadi pelaku perubahan. Karena itu, Anis kembali menekankan gagasan “bergabung, bertumbuh, berdampak” sebagai bagian dari cerita besar yang ingin dibangun Gelora.
“Yang kita ajak bukan sekadar menjadi follower, tapi menjadi pelaku,” ujarnya.
Anis menegaskan bahwa Gelora lahir dari kesadaran bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar pada masa depan. Karena itu, partai tersebut ingin menempatkan rakyat sebagai pelaku sejarah, bukan sekadar objek perubahan.
“Kalau kita tidak menjadi pelaku sejarah, kita akan menjadi korban dalam sejarah itu,” tegas Anis.
Menurutnya, apabila alasan masyarakat untuk bergabung dengan Gelora sudah terjawab, persoalan teknis seperti mekanisme keanggotaan dan tahapan setelah bergabung dapat diselesaikan kemudian. Ia meminta seluruh jajaran partai menjadikan agenda rekrutmen sebagai sarana membangun keyakinan kader sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat menjelang Pemilu 2029.









