KPAI Soroti Program Pembinaan Siswa Bermasalah Dedi Mulyadi

Avatar photo

Senin, 19 Mei 2025 - 16:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dedi Mulyadi tetap jalankan program barak militer untuk siswa bermasalah, meski KPAI kritik soal asesmen psikolog dan potensi pelanggaran hak anak. Potret anak didik Resimen 1 Kostrad Lembang latihan baris berbaris. (Tangkapan Layar YouTube KDM Channel/Konradus Fedhu/Metrosiar)

Dedi Mulyadi tetap jalankan program barak militer untuk siswa bermasalah, meski KPAI kritik soal asesmen psikolog dan potensi pelanggaran hak anak. Potret anak didik Resimen 1 Kostrad Lembang latihan baris berbaris. (Tangkapan Layar YouTube KDM Channel/Konradus Fedhu/Metrosiar)

Metrosiar – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, memberikan tanggapan atas kritik dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terkait kebijakan pengiriman anak-anak bermasalah ke barak militer.

Ia menilai jika penanganan anak hanya berfokus pada aspek teknis, maka akar persoalan tidak akan terselesaikan secara menyeluruh.

“Kalau KPAI sibuk terus ngurusin persoalan tempat tidur dan sejenisnya, tidak akan bisa menyelesaikan problem (anak yang bermasalah),” ujar Dedi di Gedung Merah Putih, Jakarta, Senin (19/5/2025) dikutip Metrosiar dari Kompas.com.

Dedi menyarankan agar KPAI turun langsung ke lapangan dalam menangani permasalahan remaja.

Ia menyebut banyak remaja di Jawa Barat mengalami persoalan serius yang berpotensi mengarah ke tindak kriminal.

“Yang harus dilakukan KPAI-nya adalah mengambil langkah untuk menyelesaikan berbagai problem yang dialami oleh anak-anak remaja kita. Apakah itu karena problem di rumahnya, problem di sekolahnya yang akhirnya mengarah pada tindak kriminal,” katanya.

Dedi Mulyadi tetap jalankan program barak militer untuk siswa bermasalah, meski KPAI kritik soal asesmen psikolog dan potensi pelanggaran hak anak. Potret orang tua dari anak didik Resimen 1 Kostrad Lembang.
Dedi Mulyadi tetap jalankan program barak militer untuk siswa bermasalah, meski KPAI kritik soal asesmen psikolog dan potensi pelanggaran hak anak. Potret orang tua dari anak didik Resimen 1 Kostrad Lembang. (Tangkapan Layar YouTube KDM Channel/Konradus Fedhu/Metrosiar)

Ia menegaskan akan tetap melanjutkan program pembinaan di barak militer. Sebanyak 273 siswa dijadwalkan menyelesaikan pelatihan di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, pada Selasa (20/5/2025).

Baca juga:  Pendaftaran KIP Kuliah 2025 Masih Dibuka, Calon Mahasiswa Perlu Memahami Pengisian NJOP/Meter

“Setelah itu nanti ada angkatan baru lagi. Nanti mungkin kalau dari 1.000 atau 1.500 atau 2.000 yang nanti atau 5.000, kalau terkoneksi dengan kabupaten-kota mungkin 15 ribu sampai 20 ribu yang dikelola oleh kita,” tuturnya.

“KPAI mau ambil berapa?” ucapnya menantang.

KPAI Pertanyakan Dasar Pengiriman Anak ke Barak

Sebelumnya, Wakil Ketua KPAI Jasra Putra mengatakan program pendidikan karakter Pancawaluya Jawa Barat Istimewa tidak dirancang berdasarkan asesmen dari psikolog profesional.

Ia menyebut siswa dikirim ke barak militer hanya atas rekomendasi guru bimbingan konseling (BK).

“Program tidak ditentukan berdasarkan asesmen psikolog profesional. Yang jadi temuan kita melainkan hanya rekomendasi guru BK,” ungkap Jasra dalam konferensi pers daring, Jumat (16/5/2025).

Jasra juga menyebut adanya sekolah menengah pertama (SMP) negeri di Purwakarta yang tidak memiliki guru BK.

Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang dasar pemilihan siswa yang dikirim mengikuti program.

“Itu jadi pertanyaan kami, rekomendasi ini siapa yang melakukan? Ini tentu harus dilihat lebih jauh sehingga kita bisa merekomendasikan psikolog yang profesional,” tambahnya.

Baca juga:  RUPST Bank BJB 2024: Dedi Mulyadi Pilih Mardigu Wowiek dan Helmy Yahya untuk Jajaran Komisaris

Hasil observasi KPAI di barak militer menunjukkan perilaku menyimpang anak-anak umumnya dipengaruhi oleh kondisi keluarga yang tidak stabil serta pengaruh lingkungan.

“Disebabkan orang tua bercerai, tidak tinggal bersama orang tua, harapan anak untuk mendapatkan figur ayah, pengaruh teman sebaya, dan lingkungan sekitar juga berperan,” jelas Jasra.

Ia juga menyoroti minimnya layanan bimbingan konseling sebagai faktor penyumbang.

Dedi Mulyadi tetap jalankan program barak militer untuk siswa bermasalah, meski KPAI kritik soal asesmen psikolog dan potensi pelanggaran hak anak. Potret orang tua dari anak didik Resimen 1 Kostrad Lembang.
(Tangkapan Layar YouTube KDM Channel/Konradus Fedhu/Metrosiar)

“Hasil diskusi dengan dinas terkait bahwa kekurangan psikolog profesional, pekerja sosial, dan guru BK menyebabkan layanan konseling anak tidak berjalan maksimal,” lanjutnya.

Ketua KPAI, Ai Maryati Solihah, khawatiran program ini dapat melanggar hak anak karena tidak melibatkan asesmen psikologis yang memadai.

“Kami mengharapkan tidak terjadi pelanggaran hak anak ini, tetapi potensi mengarah ke situ, tadi hilangnya referensi asesmen yang jelas (dari psikolog),” ujarnya.

Ai juga menyebut sebagian anak tidak mengetahui alasan mereka dikirim ke barak militer.

“Ada persentase anak 6,7 persen itu mengatakan tidak tahu kenapa ada di sini, artinya kan ada bentuk yang harus diimplementasikan secara optimal untuk menghindari potensi melanggar hak anak,” tuturnya.(*)

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

SPENSA Bajawa Gelar Festival Talenta Terbesar, Akademik, Olahraga dan Seni Bersatu dalam Satu Panggung
Ada yang Teriak, Ada yang Ketawa! Keseruan Anak TK Saat Edukasi Damkar
Janjian Lewat Instagram, Tawuran Pelajar di Pandeglang Berujung Bacokan
Viral! Kapolres Serang Ikut Bangun Kelas Baru untuk Santri di Carenang
Tangis Haru Warnai Pelepasan Siswa SMPN 6 Pasar Kemis, Pesan Kepala Sekolah Bikin Tersentuh
SPMB Tahun Ajaran 2026/2027 Harus Transparan dan Obyektif Tegas Bupati Tangerang
Lebih Dari 150 Siswa MI Al-Husna Desa Lontar, Kini Belajar Tenang Tanpa Khawatir Gangguan Banjir
“SPENDU Menggila!” SMP Negeri 2 Bajawa Resmi Buka PPDB 2026/2027, Saatnya Generasi Muda Ngada Rebut Kursi Sekolah Penuh Prestasi
Berita ini 38 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 23:16 WIB

SPENSA Bajawa Gelar Festival Talenta Terbesar, Akademik, Olahraga dan Seni Bersatu dalam Satu Panggung

Sabtu, 23 Mei 2026 - 09:27 WIB

Ada yang Teriak, Ada yang Ketawa! Keseruan Anak TK Saat Edukasi Damkar

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:10 WIB

Janjian Lewat Instagram, Tawuran Pelajar di Pandeglang Berujung Bacokan

Kamis, 21 Mei 2026 - 13:10 WIB

Viral! Kapolres Serang Ikut Bangun Kelas Baru untuk Santri di Carenang

Kamis, 21 Mei 2026 - 02:37 WIB

Tangis Haru Warnai Pelepasan Siswa SMPN 6 Pasar Kemis, Pesan Kepala Sekolah Bikin Tersentuh

Berita Terbaru

Internasional

Bentuk Penghormatan Terhadap Bendera Arab Saudi Pada Piala Dunia 2026

Kamis, 18 Jun 2026 - 14:50 WIB