Metrosiar – Warga Jawa Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara, khususnya kalangan lanjut usia, merayakan berakhirnya puasa sunah enam hari di bulan Syawal dengan menggelar tradisi lebaran ketupat. Perayaan ini dikenal dengan aneka sajian khas seperti ketupat, jenang, dan nasi buluh.
Puasa sunah Syawal telah menjadi bagian dari warisan budaya yang dibawa oleh para leluhur mereka, terutama para pengikut Kiyai Mojo yang diasingkan ke Sulawesi oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada 1828 saat berlangsungnya Perang Jawa atau Perang Diponegoro.
“Puasa Syawal ini biasa dilakukan oleh orang-orang tua, meski masih ada anak muda yang ikut. Ini sudah menjadi kebiasaan kami,” ujar Haryono Suronoto, Minggu (6/4/2025).
Ia menjelaskan bahwa tradisi lebaran ketupat digelar sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat dari Allah SWT, seiring dengan anjuran berpuasa di bulan Syawal.
Di sisi lain, ia juga mengakui bahwa kebiasaan ini mulai berkurang peminatnya di kalangan generasi muda.
Meski begitu, semangat untuk melestarikan tradisi tetap ada. Sebab, bagi masyarakat Jawa Tondano, ajaran Islam dan amalan leluhur tetap dijaga, termasuk puasa Syawal, shalawat ghalibah, salat Jawa, dan hadrah yang diwariskan dari masa para pejuang Perang Jawa.
Di wilayah Reksonegoro, perayaan Lebaran ketupat diramaikan dengan kehadiran Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama unsur Forkopimda.
Panggung-panggung disiapkan untuk menampilkan berbagai atraksi budaya khas Jawa Tondano, yang menjadikan tradisi ini terasa unik dibandingkan kebiasaan masyarakat Jawa di daerah lain.
“Lebaran ketupat selalu ramai. Ini jadi momen pemersatu keluarga dan warga, semua berkumpul dan menikmati hidangan bersama,” kata Muhammad Wonopatih, imam Masjid Reksonegoro.
Di Gorontalo, perayaan ini bahkan berdampak pada kepadatan lalu lintas karena antusiasme warga yang tinggi. Awalnya hanya berlangsung di kampung-kampung seperti Yosonegoro, Kaliyoso, dan Reksonegoro, kini tradisi ini juga berkembang di wilayah lain yang dihuni masyarakat Jawa Tondano.
Pemerintah Kota Gorontalo pun turut memfasilitasi perayaan di Leato Selatan, dengan agenda utama berupa pesta kuliner.
Tak hanya itu, warga Jawa Tondano yang bermukim di daerah lain juga mengadakan open house, menyajikan makanan berat untuk menjamu keluarga, kerabat, dan tamu yang datang.(*)
Editor : Wodo Ndaya Coya
Sumber Berita: Kompas.com









