Metrosiar – Keputusan mengejutkan datang dari panggung politik nasional. Rahayu Saraswati Djojohadikusumo resmi mengundurkan diri dari kursi DPR RI, dan langkah ini sontak memicu kemarahan publik, khususnya masyarakat di Daerah Pemilihan (Dapil) Jakarta III yang telah mempercayakan suara mereka pada Pemilu 2024.
Bagi warga, keputusan tersebut dianggap sebagai pengkhianatan terhadap amanah rakyat. Mereka menilai langkah Rahayu bukan hanya mendadak, tetapi juga mencoreng wajah demokrasi.
“Kami memilih beliau bukan karena nama besar keluarganya, tapi karena kerja nyata yang langsung dirasakan. Mundurnya Bu Saras ini benar-benar memukul hati rakyat,” tegas Ramadhan, tokoh pemuda Dapil Jakarta III, dengan nada geram, di Jakarta (15/09/25).
Rakyat Kecewa Berat, Tuduhan Tekanan Politik Menguat
Sejak awal menjabat, Rahayu dikenal vokal dan berani melawan arus. Ia lantang memperjuangkan perlindungan perempuan, pemberdayaan UMKM, hingga transparansi anggaran. Bahkan, sikap kritisnya terhadap kebijakan pemerintah membuatnya dicap sebagai wakil rakyat berintegritas.
Karena itu, pengunduran dirinya kini menimbulkan kecurigaan adanya tekanan politik. Warga menduga ada “tangan-tangan tak terlihat” yang sengaja menyingkirkan sosok yang kerap dianggap pengganggu oleh elite tertentu.
“Bu Saras itu berbeda. Dia bukan politisi instan yang hanya muncul saat kampanye. Dia turun langsung, mendengar keluhan rakyat, dan bertindak cepat. Kalau orang seperti ini mundur, patut dicurigai ada permainan kotor!” seru Rifqi, aktivis pemuda setempat.

Gelombang Penolakan dan Ancaman Gerakan Moral
Warga Dapil Jakarta III kini bersatu dalam gerakan moral menolak pengunduran diri Rahayu Saraswati. Mereka bahkan berencana melayangkan surat terbuka kepada Rahayu dan partai pengusungnya, serta menggalang dukungan di media sosial agar suara rakyat tak diabaikan.
“Kami tidak akan tinggal diam! Kursi DPR bukan milik pribadi, tapi amanah rakyat. Kalau ditinggalkan seenaknya, ini sama saja melecehkan suara kami,” kata Aisyah, seorang ibu rumah tangga yang mengaku terbantu program UMKM dari Rahayu.
Rahayu di Persimpangan: Bertahan atau Takluk?
Rahayu Saraswati sebelumnya dikenal luas lewat kiprahnya di berbagai organisasi sosial yang fokus pada pemberdayaan perempuan dan pelestarian budaya. Keputusannya maju ke Senayan pada 2024 disambut optimisme besar, namun kini langkah mundurnya justru menimbulkan gelombang kekecewaan dan kemarahan rakyat.
Pertanyaan besar pun menggantung di udara:
Apakah Rahayu benar-benar mundur atas kehendaknya sendiri? Atau ada kekuatan politik besar yang menekan hingga ia tak kuasa bertahan?
Yang jelas, rakyat Jakarta III sudah bersuara lantang: mereka menolak ditinggalkan begitu saja.*









