Gempa Susulan Luluhlantakkan Rumah Janda 64 Tahun di Ngada, Balita Kini Kehilangan Tempat Berteduh

Avatar photo

Selasa, 25 Agustus 2026 - 09:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gempa Susulan Luluhlantakkan Rumah Janda 64 Tahun di Ngada, Balita Kini Kehilangan Tempat Berteduh. (Foto: Istimewa)

Gempa Susulan Luluhlantakkan Rumah Janda 64 Tahun di Ngada, Balita Kini Kehilangan Tempat Berteduh. (Foto: Istimewa)

Bajawa.Metrosiar- Penderitaan warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Ngada belum berakhir. Saat sebagian warga masih berjuang bangkit dari kerusakan akibat gempa sebelumnya, gempa susulan kembali datang dan menghancurkan rumah seorang janda lanjut usia di Desa Radabata, Kecamatan Golewa.

Gempa susulan berkekuatan magnitudo 4,5 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (24/8/2026) sekitar pukul 04.57 WITA, menjadi pukulan telak bagi Imelda Wea (64).

Rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh bagi perempuan yang akrab disapa Mama Imelda itu akhirnya tak mampu lagi bertahan. Bangunan bagian depan rumah yang sebelumnya telah mengalami retak dan rusak berat akibat gempa utama pada 15 Agustus lalu, ambruk diterjang guncangan susulan hingga rata dengan tanah.

Kini, yang tersisa hanyalah puing-puing

Peristiwa memilukan itu membuat Mama Imelda bersama keluarganya kehilangan tempat tinggal yang layak. Rumah tersebut dihuni oleh tiga orang, termasuk seorang balita yang kini ikut merasakan pahitnya hidup di tengah bencana.

Tokoh pemuda Desa Radabata, Oston Suruh, mengatakan seluruh dinding dan atap bangunan bagian depan rumah korban runtuh ketika gempa susulan mengguncang wilayah tersebut pada dini hari.

Baca juga:  Gerakan Pemuda Peduli Bersama Kembali Adakan Agenda Rutin Santunan Yatim Piatu

Beruntung, Mama Imelda bersama anggota keluarganya tidak berada di bagian rumah yang roboh.

“Beruntung mereka berada di rumah bagian belakang yang terbuat dari pelupu atau bambu belah. Sejak gempa pertama tanggal 15 Agustus, rumah bagian depan memang sudah rusak berat, sehingga mereka memilih tidur di bagian belakang. Gempa susulan tadi pagi akhirnya membuat rumah bagian depan hancur total dan rata tanah,” ujar Oston kepada awak media, Senin (24/8/2026).

Meski selamat dari maut dan tidak ada korban jiwa, keluarga kecil tersebut kini menghadapi persoalan baru yang tak kalah berat: kehilangan tempat berlindung di tengah ancaman gempa susulan yang masih menghantui.

Bangunan yang sebelumnya sudah mengalami kerusakan berat memang sangat rentan. Guncangan susulan yang terjadi pada Senin dini hari menjadi akhir dari perjuangan rumah itu untuk tetap berdiri.

Ironisnya, hingga informasi ini diterima, rumah Mama Imelda disebut belum masuk dalam pendataan penanganan maupun belum menerima bantuan darurat setelah bangunan utamanya roboh.

Di tengah belum adanya kepastian bantuan, warga Desa Radabata memilih untuk tidak tinggal diam.

Baca juga:  Tanggapi Sorotan Anggota DPRD, Proyek Jalan Bontor-Santak Belum Rampung, PPK Beri Adendum 50 Hari

Solidaritas pun bergerak

Warga bergotong royong mengumpulkan sekitar 300 lembar naja atau bambu untuk membuat pelupuh yang dalam istilah setempat dikenal sebagai Kawu Naja. Material sederhana itu rencananya digunakan untuk membangun hunian sementara bagi Mama Imelda dan keluarganya.

Bagi warga, bantuan itu mungkin belum mampu menggantikan rumah yang telah hancur. Namun, setidaknya keluarga Mama Imelda tidak terus berada dalam kondisi rentan dan memiliki tempat untuk berlindung.

Semangat gotong royong warga menjadi harapan pertama yang hadir setelah gempa merobohkan rumah tersebut.

Di tengah puing-puing bangunan dan keterbatasan yang dihadapi, masyarakat Radabata memilih bergandengan tangan, memastikan seorang janda berusia 64 tahun bersama keluarganya—termasuk seorang balita—tidak dibiarkan menghadapi bencana seorang diri.

Kini warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera turun ke lokasi untuk melakukan pendataan serta memberikan bantuan, terutama hunian darurat yang layak.

Sebab bagi Mama Imelda, gempa susulan bukan hanya kembali mengguncang tanah di Desa Radabata.

Gempa itu juga merobohkan satu-satunya rumah yang selama ini menjadi tempatnya pulang dan berteduh.*

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Ngada Tembus Wilayah Terdampak Gempa, Tegaskan Warga Golewa Selatan Tidak Ditinggalkan
Как вывести деньги с Mostbet: Рекомендации для быстрой транзакции
The Design and Aesthetics of 7Melons Casino Schweiz
The Design and Aesthetics of 7Melons Casino Schweiz
The Design and Aesthetics of 7Melons Casino Schweiz
DPC Squad Nusantara Kabupaten Tangerang Resmi Bubar, Ada Apa?
BNPB Turun ke Jantung Bencana Ngada, Isroil Samihardjo Bawa Bantuan dan Kobarkan Semangat Warga
Wat is het nieuwste online casino in Nederland? Partnering met influencers
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 09:11 WIB

Gempa Susulan Luluhlantakkan Rumah Janda 64 Tahun di Ngada, Balita Kini Kehilangan Tempat Berteduh

Selasa, 25 Agustus 2026 - 07:45 WIB

Bupati Ngada Tembus Wilayah Terdampak Gempa, Tegaskan Warga Golewa Selatan Tidak Ditinggalkan

Senin, 24 Agustus 2026 - 23:59 WIB

Как вывести деньги с Mostbet: Рекомендации для быстрой транзакции

Senin, 24 Agustus 2026 - 23:50 WIB

The Design and Aesthetics of 7Melons Casino Schweiz

Senin, 24 Agustus 2026 - 23:50 WIB

The Design and Aesthetics of 7Melons Casino Schweiz

Berita Terbaru

Nusantara

The Design and Aesthetics of 7Melons Casino Schweiz

Senin, 24 Agu 2026 - 23:50 WIB

Nusantara

The Design and Aesthetics of 7Melons Casino Schweiz

Senin, 24 Agu 2026 - 23:50 WIB