Metrosiar – Berdasarkan laporan lembaga kajian Ember, pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) memasok 32 persen kebutuhan listrik global selama 2024, naik dari 30 persen pada tahun sebelumnya.
Analis Ember, Euan Graham, mengungkapkan bahwa peningkatan ini disebabkan oleh naiknya permintaan listrik akibat gelombang panas yang terjadi di banyak wilayah. Di samping itu, meningkatnya kekhawatiran atas keamanan energi, yang diperburuk oleh ketegangan geopolitik dan konflik dagang, turut mendorong pemanfaatan EBT.
Graham menyebutkan bahwa lonjakan tarif impor oleh Presiden AS Donald Trump terhadap 180 negara menciptakan ketidakpastian di pasar energi dan pasar saham, yang meningkatkan risiko resesi global dan dapat mempercepat peralihan menuju energi terbarukan.
Ember mencatat bahwa sumber listrik dari tenaga angin, air, dan surya mengalami pertumbuhan signifikan dibandingkan tahun lalu.
Kenaikan permintaan listrik sebesar 0,7 persen didorong oleh penggunaan teknologi baru seperti kecerdasan buatan, pusat data, kendaraan listrik, dan pompa panas. Selain itu, gelombang panas menyumbang tambahan 208 terawatt jam (TWh) karena peningkatan penggunaan pendingin udara.
Pembangkit listrik berbahan bakar gas menghasilkan 22 persen dari total listrik dunia, sementara batu bara masih mendominasi dengan porsi 34 persen, turun dari 36 persen pada 2023. Listrik dari pembangkit nuklir menyumbang 9 persen, sedikit lebih rendah dari 9,1 persen tahun sebelumnya.
Graham menambahkan bahwa kebijakan impor Amerika Serikat bisa memberikan keuntungan bagi EBT, meskipun dampaknya terhadap permintaan listrik global masih perlu diteliti lebih lanjut. Ia juga mencatat bahwa semakin banyak negara kini memprioritaskan ketahanan energi nasional, menjadikan EBT seperti angin dan surya sebagai alternatif yang menarik.
Sementara itu, CEO Global Renewables Alliance, Bruce Douglas, menyampaikan bahwa sepanjang 2024, sektor EBT berhasil menghasilkan 858 TWh listrik secara global. Angka ini melampaui total konsumsi listrik tahunan gabungan Inggris dan Prancis.(*)
Editor : Wodo Ndaya Coya
Sumber Berita: Reuters









