Metrosiar – Aktivis konservatif Amerika Serikat, Charlie Kirk, meninggal dunia usai ditembak di bagian leher ketika menghadiri acara debat publik bertajuk “Prove Me Wrong” di Utah Valley University, Rabu (10/9/25) waktu setempat.
Insiden ini mengejutkan publik AS hingga memicu reaksi keras dari Presiden Donald Trump.
Kirk (31), yang juga menjabat sebagai direktur eksekutif organisasi nirlaba Turning Point USA, sempat dievakuasi dari lokasi oleh pihak keamanan sebelum akhirnya dinyatakan meninggal.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump meminta rakyat Amerika mendoakan Kirk.
“Kita semua harus berdoa untuk Charlie Kirk… Tuhan memberkati dia,” tulisnya.
Saksi mata menyebut tembakan dilepaskan dari atap sebuah gedung sekitar 200 yard dari lokasi acara, sekitar 20 menit setelah debat dimulai.
Polisi segera menangkap seorang tersangka di Orem, Utah, dan universitas setempat menutup kampus untuk sisa hari itu.
Gubernur Utah, Spencer Cox, menegaskan bahwa penembakan ini merupakan “pembunuhan politik”. Ia bahkan mengingatkan bahwa negara bagian Utah masih menerapkan hukuman mati.
Charlie Kirk dikenal luas sebagai pendiri Turning Point USA pada 2012. Organisasi tersebut berfokus pada gerakan mahasiswa yang mendorong nilai pasar bebas dan pemerintahan terbatas.
Selama kiprahnya, Kirk aktif mengadakan debat dengan kalangan liberal, vokal mendukung Donald Trump di pemilu 2016 dan 2024, serta menjadi pengkritik kebijakan “woke” dan dukungan AS terhadap Ukraina.
Penasihat presiden Rusia, Kirill Dmitriev, melalui Telegram juga menanggapi insiden ini.
Ia menyebut serangan terhadap Kirk mencerminkan dalamnya polarisasi politik di AS, sekaligus memuji sikap Kirk yang mendorong dialog dengan Moskow.*
Editor : Nedu Wodo Mezhe









