Sampah, Kerja, dan Bertahan Hidup: Potret Warga yang Menggantungkan Asa di Bantargebang

Avatar photo

Selasa, 16 Desember 2025 - 14:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah gunungan sampah TPST Bantargebang, warga bertahan hidup dari limbah plastik. Kisah perjuangan ekonomi, risiko kesehatan, dan harapan di balik sampah. (Foto Ilustrasi/AI)

Di tengah gunungan sampah TPST Bantargebang, warga bertahan hidup dari limbah plastik. Kisah perjuangan ekonomi, risiko kesehatan, dan harapan di balik sampah. (Foto Ilustrasi/AI)

BEKASI, Metrosiar – Bergelut dengan sampah kerap dipandang sebagai pekerjaan yang menjijikkan bagi sebagian orang.

Namun, bagi warga yang tinggal di sekitar Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, sampah justru menjadi sumber penghidupan sekaligus harapan ekonomi.

Ribuan warga menggantungkan hidup di TPST Bantargebang yang kini kondisinya semakin membeludak dan telah melampaui kapasitas. Tumpukan sampah yang menggunung itu seolah berubah menjadi “rezeki” bagi sebagian warga yang bersedia mengolahnya.

Salah satunya adalah Andi (34), pengepul limbah plastik yang telah bertahun-tahun mencari nafkah dari sisa-sisa sampah di Bantargebang. Dari pekerjaan tersebut, Andi mampu meraup keuntungan hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya.

“Sukanya kalau keuntungan lebih dari ekspetasi kami, itu bulan kemarin Rp 30 juta per bulan,” jelas Andi ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Jumat (12/12/25).

Usaha Turun-temurun Sejak 1996

Kisah Andi warga Bantargebang yang menggantungkan hidup dari limbah plastik, antara harapan ekonomi, risiko kesehatan, dan perjuangan bertahan hidup. (Foto: Dok. Kompasc.com)

Usaha pengepulan limbah plastik yang digeluti Andi merupakan bisnis turun-temurun yang telah berdiri sejak 1996. Awalnya, ayah Andi bekerja sebagai pemulung di Bantargebang.

Dari pengalamannya, ia menyadari bahwa limbah plastik memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan kemudian beralih menjadi pengepul.

Usaha tersebut dikenal dengan nama “Lapak Bos Min”. Seiring bertambahnya usia, sang ayah menyerahkan pengelolaan usaha itu kepada Andi yang hingga kini terus menjalankannya.

Andi menjelaskan, sistem kerja usahanya dimulai dengan membeli limbah plastik dari para pemulung di area TPST Bantargebang.

Baca juga:  Musyawarah Desa Kemiri Kecamatan Kemiri: Wujudkan Koperasi Merah Putih Sebagai Pilar Ekonomi Warga

“Kami beli ada yang Rp 450 perak sampai Rp 700 itu biaya angkut dan sortir tanggungan saya, mereka (pemulung) hanya cari,” jelas Andi.

Limbah plastik kemudian dibawa ke lapak yang berada tepat di samping TPST Bantargebang untuk dicuci, disortir, dan dijemur hingga kering.

“Kalau di sini jenis plastik yang banyak Polypropylene (PP), HDPE-High-Density Polyethylene (HD), Polyethylene (PE), dan plastik sablon warna,” ujar Andi.

Dijual ke Distributor dan Buka Lapangan Kerja

Plastik yang telah bersih dan kering dijual ke distributor dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp 1.300 hingga Rp 6.000 per kilogram, tergantung jenisnya. Limbah tersebut kemudian didaur ulang menjadi berbagai produk seperti kursi dan palet.

Selain keuntungan ekonomi, Andi menilai usahanya turut membantu mengurangi beban sampah di Bantargebang.

“Kalau semua jenis plastik sekitar 3 – 4 ton bisa saya kumpulin dalam satu hari,” ungkap Andi.

Usaha tersebut juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Saat ini, Andi mempekerjakan tujuh orang karyawan.

“Kalau buat sortir sekarang ada tujuh orang. Ibu-ibu ada dua, sisanya pemuda yang malas cari kerja di luar,” tutur Andi.

Salah satu pekerja, Surheni (36), mengaku bersyukur meski penghasilannya terbatas.

“Rp 85.000 itu harian, sebenarnya enggak cukup, cuma dicukup-cukupin aja. Namanya orang susah, kalau butuh ya harus beli beras, beli kebutuhan pokok,” tutur Surheni.

Baca juga:  Cara Tambahkan Gelar di KTP, Ini Prosedur Resminya dari Dukcapil

Namun, pekerjaan tersebut juga menyimpan risiko kesehatan.

“Pernah sakit karena sampah tapi paling sehari atau dua hari. Biasanya flu dan sakit kepala. Alhamdulillah enggak yang parah,” jelas dia.

Risiko Kesehatan dan Desakan Perbaikan

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, mengingatkan bahaya paparan gas metana dari sampah.

“Tapi, yang jelas ketika dia terpapar dengan sampah, gas metana, segala macem, itu tentu yang akan terganggu adalah paru-parunya,” ucap Ari.

Sementara itu, Pakar Lingkungan UI Mahawan Karuniasa menekankan pentingnya pengurangan sampah dari hulu.

“Kemudian, strategi memperpanjang tentu saja agar TPST itu terus dapat menampung sampah tentu saja yang pertama kita harus lihat dari hulunya, bagaimana mengurangi 7.000 ton per hari itu yang masuk ke Bantar Gebang,” ungkap Mahawan.

Dari sisi legislatif, DPRD DKI Jakarta turut mendesak perbaikan pengelolaan.

“Persoalan Bantargebang menjadi permasalahan yang selalu menjadi perhatian kami di DPRD DKI Jakarta. Namun, akar permasalahannya terletak di jumlah sampah yang dihasilkan oleh Jakarta,” ungkap Bun Joi Phiau.

“Perihal ini, kami meminta Pemprov DKI untuk memonitor ketahanan tanggul-tanggul yang dibangun di sekitar Bantar Gebang. Semua bagiannya harus dicek secara berkala,” tutur Bun.*

Editor : Nedu Wodo

Sumber Berita: Kompas.com

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Anis Matta: “Partai Politik Kalau Hanya Ikut Arus, Kita Bukan Pemimpin!”
Pesan Menyentuh Kapolres Cilegon di Hari Donor Darah Sedunia, Ajak Warga Selamatkan Nyawa
Rapimnas LMP 2026 Bongkar Arah Baru Organisasi
Anis Matta Yakin Gelora Tembus Senayan 2029, Ini Strateginya
Posyandu Pasar Kemis Dibidik Jadi yang Terbaik di Banten, Tim Kabupaten Turun Langsung!
Gelar Perkara Tuntas, Polda Banten Hentikan Kasus Dugaan Pemalsuan Dokumen
Partai Gelora Dorong Percepatan Energi Nuklir, Dinilai Jadi Kunci Kemandirian Energi Indonesia
Bulan Muharram Bulannya Allah Ini Amalan dan Keutamannya
Berita ini 23 kali dibaca
Di tengah gunungan sampah TPST Bantargebang, warga bertahan hidup dari limbah plastik. Kisah perjuangan ekonomi, risiko kesehatan, dan harapan di balik sampah.

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 11:51 WIB

Anis Matta: “Partai Politik Kalau Hanya Ikut Arus, Kita Bukan Pemimpin!”

Senin, 15 Juni 2026 - 11:21 WIB

Pesan Menyentuh Kapolres Cilegon di Hari Donor Darah Sedunia, Ajak Warga Selamatkan Nyawa

Senin, 15 Juni 2026 - 10:15 WIB

Rapimnas LMP 2026 Bongkar Arah Baru Organisasi

Sabtu, 13 Juni 2026 - 15:21 WIB

Posyandu Pasar Kemis Dibidik Jadi yang Terbaik di Banten, Tim Kabupaten Turun Langsung!

Sabtu, 13 Juni 2026 - 15:18 WIB

Gelar Perkara Tuntas, Polda Banten Hentikan Kasus Dugaan Pemalsuan Dokumen

Berita Terbaru

Emas mulai naik di awal pekan, Investor mulai semangat lagi mengamankan emas sebagai Safe Haven sebelum harga emas semakin naik tinggi.

Bisnis & Investasi

Damai AS-Iran Bikin Harga Emas Melejit, Investor Serbu Aset Safe Haven

Senin, 15 Jun 2026 - 12:37 WIB

Politik & Pemerintahan

Anis Matta: “Partai Politik Kalau Hanya Ikut Arus, Kita Bukan Pemimpin!”

Senin, 15 Jun 2026 - 11:51 WIB

Jajaran pengurus pusat dan daerah Laskar Merah Putih berfoto bersama usai pelaksanaan Rapimnas 2026 di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Sabtu (13/6/2026).

Nusantara

Rapimnas LMP 2026 Bongkar Arah Baru Organisasi

Senin, 15 Jun 2026 - 10:15 WIB

Suasana penyampaian keterangan kepada awak media usai rapat paripurna DPRD DKI Jakarta terkait pengesahan Peraturan Daerah tentang Fasilitasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika (P4GN), di Gedung DPRD DKI Jakarta.

Hukum & Kriminal

137 Wilayah Jakarta Rawan Narkoba, DPRD Sahkan Perda Baru!

Senin, 15 Jun 2026 - 07:14 WIB