Metrosiar – Terapis Okupasi Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam Samarinda, Kalimantan Timur, Yolanda Pebria Cantikaningrum, membagikan sejumlah cara efektif yang dapat diterapkan orang tua dalam menghadapi anak yang mengalami tantrum akut.
“Anak yang sering tantrum hingga melempar atau memecahkan barang menunjukkan perilaku yang tidak lazim. Kondisi ini, lanjutnya, dapat menghambat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya,” ujarnya di Samarinda, Sabtu, (19/4) dikutip dari Antara.
Yolanda menjelaskan anak dengan perkembangan normal umumnya mampu menyampaikan keinginan secara verbal atau melalui permintaan bantuan.
Sebaliknya, anak yang mengalami gangguan perkembangan cenderung mengekspresikan keinginannya dengan ledakan emosi, seperti marah atau melempar barang.
Menurutnya, tanda-tanda perilaku seperti ini sudah dapat diamati sejak usia dua tahun. Orang tua perlu memperhatikan jika anak belum lancar berbicara, kurang fokus, atau emosinya tampak tidak stabil.
“Ini juga harus diwaspadai orang tua, terutama orang tua muda,” tegas Yolanda.
Agar tantrum bisa diminimalisir, ia menyarankan agar orang tua membangun komunikasi dua arah yang aktif. Hal ini membantu anak belajar menyalurkan perasaan secara sehat.
Selain itu, menjaga keseimbangan nutrisi anak juga penting karena gangguan pada pencernaan dapat memengaruhi suasana hati.
“Pelukan hangat orang tua dan mengalihkan pada emosi yang sehat seperti nyanyian atau canda bisa membantu anak meredakan sikap ledakan amarah,” tambahnya.
Yolanda menekankan pentingnya orang tua memahami perilaku anak dan segera mencari informasi jika menemukan hal yang tidak biasa.
Ia mengingatkan agar tidak langsung menganggap anak sebagai introvert hanya karena sering diam, karena bisa jadi terdapat gangguan perkembangan yang belum terdeteksi.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya memperhatikan kemajuan perilaku anak. Jika sebelumnya anak sudah mampu menyampaikan keinginan tapi kemudian menjadi lebih sering marah tanpa alasan jelas, hal ini dapat menjadi tanda adanya gangguan.
“Misalnya, tadinya anak sudah bisa menyampaikan keinginannya, tapi kok semakin ke sini dia malah sering marah-marah tanpa alasan yang jelas. Itu berarti ada sebuah kemunduran yang bisa menjadi tanda adanya sesuatu yang tidak normal atau berbeda dari yang lain,” paparnya.
Yolanda menambahkan salah satu penyebab umum tantrum pada anak usia dini adalah ketidakmampuan mereka menyampaikan kebutuhan secara verbal.(*)
Editor : Lisan Al-Ghaib
Sumber Berita: Antara









