Sebut Indonesia, Bill Gates Soroti Dampak Emisi Gas Rumah Kaca, Peran Lemak Hewani hingga Industri Minyak Sawit

Avatar photo

Minggu, 23 Februari 2025 - 10:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendiri Microsoft, Bill Gates ungkap kiamat sudah dekat.(instagram.com/thisbillgates)

Pendiri Microsoft, Bill Gates ungkap kiamat sudah dekat.(instagram.com/thisbillgates)

Metrosiar – Pendiri Microsoft, Bill Gates, kembali menyoroti dampak perubahan iklim yang semakin nyata.

Dalam blog pribadinya beberapa waktu lalu, ia mengungkapkan fakta terbaru mengenai emisi gas rumah kaca serta menyoroti Indonesia sebagai salah satu negara terdampak.

Gates menyebutkan bahwa aktivitas manusia menghasilkan 51 miliar ton gas rumah kaca setiap tahunnya, dengan sekitar 7% berasal dari produksi lemak dan minyak hewani maupun nabati.

“Untuk memerangi perubahan iklim, kita harus mengubah angka itu menjadi nol,” ujarnya dalam blog pribadinya pada Sabtu, 29 Juni 2024.

Namun, ia menyadari bahwa menghentikan konsumsi lemak hewani sepenuhnya bukan solusi realistis, mengingat kandungan nutrisinya yang penting.

Sebagai alternatif, ia menyoroti inovasi dari startup Savor yang mengembangkan cara memproduksi lemak tanpa emisi berbahaya atau dampak negatif terhadap hewan.

Savor menggunakan karbon dioksida dari udara dan hidrogen dari air untuk menghasilkan lemak melalui pemanasan dan oksidasi.

Baca juga:  Perang Iran–Israel Makin Membara, Benarkah Israel Akan Jadi Musuh Bersama di Kawasan?

Gates menyebut bahwa produk ini memiliki molekul serupa dengan lemak dalam susu, keju, daging sapi, dan minyak nabati.

Dampak Industri Kelapa Sawit terhadap Lingkungan

Selain emisi dari lemak hewani, Gates juga menyoroti industri minyak sawit sebagai faktor lain yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Ia menjelaskan bahwa minyak sawit adalah lemak nabati paling banyak dikonsumsi di dunia dan ditemukan dalam berbagai produk sehari-hari, mulai dari makanan hingga produk perawatan tubuh.

Gates menyebut kelapa sawit hanya bisa tumbuh di wilayah sekitar khatulistiwa, yang menyebabkan deforestasi besar-besaran di daerah seperti Indonesia dan Malaysia.

“Proses ini berdampak buruk terhadap keanekaragaman hayati dan memperburuk perubahan iklim. Pembakaran hutan melepaskan banyak emisi ke atmosfer dan meningkatkan suhu global,” jelasnya.

Pada 2018, kerusakan lingkungan di Malaysia dan Indonesia disebut menyumbang sekitar 1,4% dari total emisi global, lebih besar dari seluruh emisi negara bagian California dan hampir setara dengan industri penerbangan dunia.

Baca juga:  Ratusan Ribu Perempuan AS Tinggalkan Pekerjaan, Apa yang Terjadi?

Meski memiliki dampak lingkungan yang besar, menurut Gates, minyak sawit sulit digantikan karena sifatnya yang murah, tidak berbau, dan memiliki keseimbangan lemak yang ideal untuk berbagai industri.

Alternatif Minyak Sawit Ramah Lingkungan

Untuk mengatasi dampak industri minyak sawit, Gates menyebut beberapa perusahaan tengah mengembangkan alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Salah satunya adalah C16 Biosciences, yang sejak 2017 menggunakan mikroba ragi liar dalam proses fermentasi untuk menghasilkan minyak tanpa emisi.

Meskipun secara kimiawi berbeda dari minyak sawit konvensional, produk ini tetap mengandung asam lemak serupa sehingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan industri.

Dengan adanya inovasi ini, Gates berharap dampak perubahan iklim dapat dikurangi agar kondisi lingkungan tidak semakin memburuk.(*)

Editor : Lisan Al-Ghaib

Sumber Berita: gatesnotes.com

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kaki Tak Ia Miliki, Tapi Mimpinya Melangkah Jauh: Rinto Moti dan Lukisan yang Menyentuh Jiwa dari Boradho
Viral! Ribuan Jamaah Haji Jalan Kaki di Tengah Panas 42 Derajat
Viral! Kakek Jamaah Haji Asal Indonesia Hilang Misterius di Tanah Suci
Heboh! Pagi Hari di Makkah Berasa di Bogor, Jemaah Diingatkan Selalu Bawa Kartu Nusuk
Uang Rusak Masih Banyak Beredar, Warga Kesulitan Bertransaksi
Kacau di Terminal Ajyad! Jamaah Haji Saling Dorong demi Naik Bus Sholawat
Geger Penembakan di Gala Dinner Gedung Putih, Ini Sosok Cole Tomas Allen, Sang Guru Terbaik yang Menjadi Pelaku
Harga Emas Terpukul, Lonjakan Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 18:26 WIB

Kaki Tak Ia Miliki, Tapi Mimpinya Melangkah Jauh: Rinto Moti dan Lukisan yang Menyentuh Jiwa dari Boradho

Jumat, 22 Mei 2026 - 19:19 WIB

Viral! Ribuan Jamaah Haji Jalan Kaki di Tengah Panas 42 Derajat

Selasa, 19 Mei 2026 - 12:35 WIB

Viral! Kakek Jamaah Haji Asal Indonesia Hilang Misterius di Tanah Suci

Minggu, 17 Mei 2026 - 21:05 WIB

Heboh! Pagi Hari di Makkah Berasa di Bogor, Jemaah Diingatkan Selalu Bawa Kartu Nusuk

Minggu, 17 Mei 2026 - 20:33 WIB

Uang Rusak Masih Banyak Beredar, Warga Kesulitan Bertransaksi

Berita Terbaru

Petugas Polres Serang melakukan penertiban terhadap truk angkutan tambang yang diduga melanggar jam operasional di wilayah Kabupaten Serang.

Hukum & Kriminal

Bikin Resah Pengguna Jalan, Truk Tambang Langsung Ditindak

Senin, 1 Jun 2026 - 01:08 WIB

Kabidhumas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea memberikan keterangan terkait imbauan kepada masyarakat untuk menghentikan aksi balap liar demi menjaga keselamatan dan ketertiban berlalu lintas di wilayah Banten.

Hukum & Kriminal

Polda Banten Buka Suara, Balap Liar Bisa Hancurkan Masa Depan

Senin, 1 Jun 2026 - 00:39 WIB