Bajawa.Metrosiar- Wakil Bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu (BDN), menegaskan pentingnya pengembangan kawasan wisata Riung sebagai bagian dari upaya membangun masa depan pariwisata Kabupaten Ngada yang berkelanjutan.
Hal itu disampaikannya saat membuka kegiatan Lokakarya atau Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Destinasi Wisata Riung, Kamis (18/6/2026), di Bajawa.
Dalam sambutannya, BDN menekankan bahwa pengembangan sektor pariwisata tidak semata-mata berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Lebih dari itu, pariwisata harus menjadi instrumen pembangunan yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Hari ini kita tidak sedang berbicara tentang bagaimana menambah jumlah wisatawan semata. Kita sedang berbicara tentang bagaimana memastikan bahwa pariwisata benar-benar menjadi instrumen pembangunan yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat identitas budaya, sekaligus membuka ruang ekonomi yang lebih luas bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang,” ujar BDN.

Menurutnya, Riung merupakan kawasan yang memiliki kekuatan alam, budaya, dan karakter sosial yang khas. Potensi besar tersebut merupakan anugerah yang harus dikelola secara bijaksana dan berkelanjutan.
BDN menegaskan, pembangunan sektor pariwisata tidak boleh hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi di atas kertas. Pengembangan destinasi harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, menciptakan lapangan kerja, menggerakkan usaha kecil, serta menjaga ruang hidup masyarakat yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.
Dukungan Penuh untuk Konservasi Komodo di Ontoloe
Pada kesempatan itu, BDN juga menyampaikan dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Ngada dan masyarakat terhadap inisiatif Kementerian Kehutanan bersama Project InFlores untuk menjadikan Pulau Ontoloe atau Pulau Kelelawar sebagai Pusat Pemulihan Ekosistem Komodo.
Menurutnya, program tersebut sangat penting untuk menjaga keberlangsungan populasi Mbou Riung yang merupakan salah satu kekayaan hayati dan kebanggaan masyarakat Ngada.
“Kami meyakini bahwa keberhasilan program ini tidak hanya akan memperkuat konservasi komodo, tetapi juga menjadi daya ungkit pengembangan pariwisata berkelanjutan yang pada akhirnya memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat Riung dan Kabupaten Ngada secara keseluruhan,” katanya.
BDN menilai lokakarya yang digelar tersebut menjadi momentum strategis untuk menyatukan arah pembangunan, menyamakan persepsi, serta membangun komitmen bersama seluruh pihak yang berkepentingan terhadap masa depan kawasan wisata Riung.
Ia menegaskan bahwa pengembangan destinasi wisata Riung tidak dapat dilakukan secara parsial maupun sektoral. Diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, akademisi, lembaga konservasi, dan seluruh pemangku kepentingan agar pembangunan yang dilakukan benar-benar berkelanjutan.

Lima Agenda Prioritas Pengembangan Wisata Riung
Dalam forum tersebut, BDN juga memaparkan lima hal penting yang harus menjadi perhatian bersama dalam merumuskan arah pengembangan pariwisata Riung ke depan.
Pertama, pariwisata harus bertumpu pada masyarakat lokal. Menurutnya, masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri, melainkan harus menjadi pelaku utama, penerima manfaat utama, sekaligus penjaga keberlanjutan destinasi wisata.
Kedua, keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian harus menjadi prinsip utama. Riung memiliki kekayaan alam yang menjadi daya tarik utama sehingga seluruh aktivitas pembangunan harus menghormati daya dukung lingkungan dan tidak mengorbankan kelestarian demi keuntungan jangka pendek.
Ketiga, penguatan konektivitas dan kualitas layanan harus menjadi agenda bersama. Wisatawan saat ini tidak hanya mencari destinasi yang indah, tetapi juga pengalaman yang nyaman, aman, dan berkualitas. Karena itu, peningkatan aksesibilitas, infrastruktur dasar, kebersihan kawasan, kualitas pelayanan, serta kesiapan sumber daya manusia menjadi kebutuhan mendesak.
Keempat, Riung harus diposisikan sebagai bagian dari jejaring destinasi unggulan Flores. Dengan integrasi yang kuat dalam koridor pariwisata Flores, arus kunjungan wisatawan diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Kabupaten Terukur
Butuh Peta Jalan yang Jelas dan Terukur
Kelima, BDN menegaskan bahwa hasil forum ini harus menghasilkan langkah-langkah nyata dan terukur. Dibutuhkan peta jalan yang jelas, pembagian peran yang tegas, serta komitmen pelaksanaan yang konsisten dari seluruh pihak.
Menurutnya, dokumen perencanaan hanya akan memiliki nilai apabila mampu diterjemahkan menjadi program, kegiatan, dan investasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
BDN menambahkan, Pemerintah Kabupaten Ngada berkomitmen menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah yang tetap berpijak pada prinsip keberlanjutan, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan.
Komitmen tersebut, kata dia, sejalan dengan arah pembangunan daerah yang menempatkan masyarakat sebagai pusat pembangunan dan penerima manfaat utama dari setiap kebijakan yang dijalankan.
“Saya berharap forum ini menjadi ruang diskusi yang produktif, terbuka, dan menghasilkan rekomendasi yang aplikatif. Sampaikan gagasan, kritik, dan masukan secara konstruktif agar keputusan yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan lapangan dan tantangan yang kita hadapi bersama,” tutup BDN.*









