Bajawa.Metrosiar- Bowali Cup kini bukan lagi sekadar turnamen sepak bola biasa. Di tengah gemuruh ribuan suporter, lautan manusia di tribun, dentuman drum, dan tensi panas antar tim, Bowali Cup perlahan menjelma menjadi kekuatan baru yang mengguncang denyut ekonomi rakyat sekaligus membuka era baru sport tourism di Kabupaten Ngada.
Ketua DPRD Ngada, Romilus Juji, menegaskan bahwa Bowali Cup kini telah melampaui batas sebagai sekadar ajang perebutan trofi di lapangan hijau. Menurutnya, turnamen ini sudah berubah menjadi panggung ekonomi rakyat yang nyata.
“Bowali Cup bukan hanya soal menang dan kalah. Ini sudah menjadi ruang hidup masyarakat. Pedagang bergerak, UMKM tumbuh, ojek jalan, makanan habis terjual, penginapan ramai. Ini kekuatan besar yang harus dijaga bersama,” tegas Romilus Juji saat menghadiri semifinal leg kedua antara Marsela Langa kontra Golewa Raya yang dipadati ribuan penonton, Selasa (12/5/2026).
Atmosfer Bowali Cup tahun ini memang terasa luar biasa. Jalan menuju lapangan dipenuhi kendaraan dari berbagai wilayah. Lapak-lapak dadakan tumbuh di hampir setiap sudut arena pertandingan. Aroma jagung bakar, kopi, dan kuliner lokal bercampur dengan teriakan suporter yang menggema sepanjang laga berlangsung.
Bagi masyarakat kecil, Bowali Cup bukan hanya hiburan, tetapi sumber penghasilan baru. Banyak pedagang mengaku omzet mereka melonjak drastis setiap kali pertandingan digelar. Bahkan sejumlah pelaku UMKM mengaku mampu meraup keuntungan berkali-kali lipat dibanding hari biasa.
Tak hanya itu, Bowali Cup mulai menyedot perhatian pencinta sepak bola dari luar daerah. Banyak penonton datang bukan sekadar menyaksikan pertandingan, tetapi juga menikmati suasana kampung, budaya lokal, kuliner khas, hingga keramahan masyarakat Ngada.
Fenomena ini dinilai menjadi pintu masuk lahirnya sport tourism yang selama ini belum tergarap maksimal di daerah tersebut.
Politisi Partai Golkar itu bahkan menyebut Bowali Cup sebagai “mesin baru” yang berpotensi mengangkat wajah daerah jika dikelola secara serius dan profesional.
“Kalau ditata dengan baik, Bowali Cup bisa menjadi agenda tahunan kebanggaan Ngada. Orang datang bukan hanya untuk bola, tetapi juga menikmati budaya, wisata, dan kehidupan masyarakat kita. Ini peluang emas bagi pariwisata dan ekonomi rakyat,” ujarnya.
Sebagai Ketua Komunitas MasGibol Ngada, Romilus Juji juga mendorong seluruh pihak — pemerintah, panitia, sponsor, klub, hingga masyarakat — untuk bersama-sama menjaga kualitas penyelenggaraan turnamen agar terus berkembang dan menjadi ikon olahraga daerah.
Di tengah ledakan antusiasme masyarakat, Bowali Cup kini telah berubah wajah. Ia bukan lagi sekadar kompetisi sepak bola kampung, melainkan panggung persatuan, hiburan rakyat, denyut ekonomi baru, sekaligus simbol kebangkitan sport tourism di Kabupaten Ngada.
Lapangan hijau itu kini tak hanya melahirkan gol dan kemenangan, tetapi juga harapan baru bagi ekonomi masyarakat dan masa depan olahraga daerah.*









