Proyek Tanggul Laut Rp1.300 Triliun, Pengamat Nilai Bisa Rusak Pulau Jawa

Avatar photo

Kamis, 28 Agustus 2025 - 18:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Ilustrasi - Prabowo lantik Kepala Badan Otorita Tanggul Laut Pantura Jawa, proyek Rp1.300 triliun dikritik pengamat karena dinilai bisa merusak Pulau Jawa. (AI Generated/Metrosiar)

Foto Ilustrasi - Prabowo lantik Kepala Badan Otorita Tanggul Laut Pantura Jawa, proyek Rp1.300 triliun dikritik pengamat karena dinilai bisa merusak Pulau Jawa. (AI Generated/Metrosiar)

Metrosiar – Presiden RI Prabowo Subianto resmi melantik mantan Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan Ashaf, sebagai Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa atau Badan Otorita Tanggul Laut Pantura Jawa.

Prosesi pelantikan berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/8/25), berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 76/P Tahun 2025.

Pembentukan badan otorita ini merupakan langkah strategis pemerintah untuk menuntaskan megaproyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall yang sudah digagas sejak era Presiden Soeharto lebih dari tiga dekade lalu.

Proyek ini diperkirakan menelan biaya sekitar 80 miliar dolar AS atau setara Rp1,28 kuadriliun.

Tanggul sepanjang lebih dari 500 kilometer, membentang dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur, ditargetkan rampung dalam kurun waktu 15–20 tahun.

Pemerintah menilai pembangunan tanggul laut dapat menjadi solusi permanen dalam menghadapi ancaman banjir rob di kawasan pantai utara Jawa.

Baca juga:  BRI Bangun PLTMH Dorong Kemandirian Desa Jatihurip Tasikmalaya

Kritik dari pegiat lingkungan

Meski begitu, proyek ambisius ini menuai kritik dari sejumlah pihak. Peneliti Kelautan Auriga Nusantara, Parid Ridwanuddin, menilai pembangunan tanggul laut justru berpotensi merusak ekosistem Pulau Jawa.

“Kalau pemerintah tetap ngotot melanjutkan proyek ini, itu tanda yang buruk. Pulau Jawa akan semakin tereksploitasi. Pembangunan tanggul membutuhkan miliaran kubik pasir dari darat dan laut yang berpotensi menimbulkan kerusakan besar,” ujar Parid, Rabu (27/8/25) dilansir dari Kompas.com.

Ia juga menilai, masalah banjir rob tidak bisa hanya diatasi dengan membangun tanggul laut.

Menurut Parid, dana yang mencapai hampir Rp1.300 triliun seharusnya lebih bermanfaat jika dialokasikan untuk sektor pendidikan, kesehatan, serta pemulihan lingkungan.

“Guru dan dosen masih kurang mendapat apresiasi, gaji mereka kecil, dan di banyak daerah terpencil sekolah serta fasilitas kesehatan masih minim. Itu yang harusnya diprioritaskan,” tegasnya.

Baca juga:  Berikut ini Rekayasa Lalin Malam Muhasabah di Monas

Evaluasi tata ruang dinilai lebih penting

Lebih lanjut, Parid menekankan perlunya evaluasi tata ruang di Pulau Jawa sebelum melanjutkan pembangunan tanggul laut.

Kawasan utara Jawa disebut telah didominasi kepentingan industri, sementara ruang untuk masyarakat dan ekologi semakin sempit. Saat ini, hutan alam di Jawa tersisa kurang dari 9 persen.

“Kita belajar dari proyek IKN. Badan otorita di sana juga mengelola dana besar, tetapi progresnya tersendat.

Indonesia perlu politik anggaran yang berpihak pada lingkungan dan rakyat, bukan hanya pada proyek raksasa,” ujarnya.

Menurutnya, jika pemerintah benar-benar ingin mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, maka fokus utama harus diarahkan pada tiga hal: pendidikan, kesehatan, dan pemulihan lingkungan.*

Editor : Lisan Al-Ghaib

Sumber Berita: Kompas.com

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

545 Calon Jemaah Haji Jalani Tes Kebugaran dan Pemeriksaan Gratis
Kemenko Pangan Salurkan Rp1,2 Miliar, Korban Gempa Ngada Dapat Bantuan Tunai hingga Logistik
Naas! Minibus EB 1539 DI Terjun ke Jurang 50 Meter di Golewa Selatan, 2 Tewas
Deputi BNPB Cek Gudang Logistik Ngada: Stok Sangat Memadai, Jangan Lama Disimpan!
3,6 Km Irigasi Dibangun di Ngada, Wabup Dorong Sawah Petani Makin Produktif
147 CPNS Ngada Resmi Lulus, Bupati Ray: Jangan Terjebak Rutinitas, Hadir untuk Masyarakat
Polantas Genap 71 Tahun, Polres Ngada Teguhkan Semangat “Presisi, Mengabdi untuk Negeri”
Musancab 2026, PKB Ngada Panaskan Mesin Politik: Bidik Tambahan Kursi di Legislatif
Berita ini 22 kali dibaca
“Kalau pemerintah tetap ngotot melanjutkan proyek ini, itu tanda yang buruk. Pulau Jawa akan semakin tereksploitasi. Pembangunan tanggul membutuhkan miliaran kubik pasir dari darat dan laut yang berpotensi menimbulkan kerusakan besar,” ujar Parid saat dihubungi, Rabu (27/8/25). Ia juga menilai, masalah banjir rob tidak bisa hanya diatasi dengan membangun tanggul laut. Menurut Parid, dana yang mencapai hampir Rp1.300 triliun seharusnya lebih bermanfaat jika dialokasikan untuk sektor pendidikan, kesehatan, serta pemulihan lingkungan. “Guru dan dosen masih kurang mendapat apresiasi, gaji mereka kecil, dan di banyak daerah terpencil sekolah serta fasilitas kesehatan masih minim. Itu yang harusnya diprioritaskan,” tegasnya.

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 12:07 WIB

545 Calon Jemaah Haji Jalani Tes Kebugaran dan Pemeriksaan Gratis

Kamis, 24 September 2026 - 20:45 WIB

Kemenko Pangan Salurkan Rp1,2 Miliar, Korban Gempa Ngada Dapat Bantuan Tunai hingga Logistik

Kamis, 24 September 2026 - 13:45 WIB

Naas! Minibus EB 1539 DI Terjun ke Jurang 50 Meter di Golewa Selatan, 2 Tewas

Rabu, 23 September 2026 - 14:15 WIB

Deputi BNPB Cek Gudang Logistik Ngada: Stok Sangat Memadai, Jangan Lama Disimpan!

Selasa, 22 September 2026 - 17:49 WIB

3,6 Km Irigasi Dibangun di Ngada, Wabup Dorong Sawah Petani Makin Produktif

Berita Terbaru

Bisnis & Investasi

Akses Keuangan 92,76%, Annisa Mahesa Bongkar Masalah yang Masih Mengintai!

Jumat, 25 Sep 2026 - 14:05 WIB