Jombang, Metrosiar – Rangkaian napak tilas spiritual menyongsong peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2026 diwarnai layanan kesehatan gratis yang digelar Lembaga Ketabiban Pengurus Wilayah Persaudaraan Sepuh NU (PWPSNU) PAGARNUSA Jawa Timur.
Layanan pengobatan terpadu berbasis medis dan non-medis tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Minggu (4/1/26).
Napak tilas dimulai dari Bangkalan, Madura, dengan titik awal makam Syaikhona Kholil Bangkalan. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Surabaya dan singgah di Stasiun Gubeng, sebelum bergerak ke Stasiun Jombang dan berakhir di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng.
Setibanya di Tebuireng, prosesi simbolik berupa penyerahan tongkat dan tasbih dilaksanakan kepada dzurriyah K.H. Hasyim Asy’ari.
Usai acara utama, tim Lembaga Ketabiban PWPSNU PAGARNUSA Jawa Timur langsung membuka pelayanan kesehatan bagi peserta napak tilas mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai.

Kepala Lembaga Ketabiban PWPSNU PAGARNUSA Jawa Timur, Agus Mulyo atau Ki Ageng Purwo, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh anggota yang terlibat aktif dalam pelayanan kesehatan tersebut.
“Saya sangat berterima kasih kepada seluruh anggota yang telah menyempatkan dan meluangkan waktunya untuk berpartisipasi, mengobati peserta napak tilas yang membutuhkan pengobatan. Semua peserta yang berobat juga kami beri ramuan herbal atau jamu herbal yang dibuat oleh anggota lembaga ketabiban PWPSNU PAGARNUSA Jawa Timur,” ujarnya.
Ia menambahkan, antusiasme dan respons peserta sangat positif terhadap layanan yang diberikan.
“Semua peserta napak tilas sejarah NU yang diterapi dan yang diberi obat herbal serta minuman herbal merasa sangat senang dan berterima kasih banyak kepada lembaga ketabiban PWPSNU PAGARNUSA Jawa Timur,” tambahnya.
Layanan kesehatan ini diperkuat oleh 35 anggota Lembaga Ketabiban dari berbagai daerah di Jawa Timur dan sekitarnya, dengan latar belakang keahlian mulai dari terapi, herbal, bekam, akupuntur, tulang dan saraf, hingga spiritual dan dakwah.
Napak tilas spiritual tersebut diikuti ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain Samarinda, Balikpapan, Bontang, Paser, Penajam Paser Utara, Kutai Kartanegara, serta wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra, dan Sulawesi.
Secara filosofis, kegiatan ini menegaskan kembali hubungan keilmuan dan spiritual antara Syaikhona Kholil Bangkalan sebagai guru dan K.H. Hasyim Asy’ari sebagai murid yang kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama.
Perjalanan napak tilas dibagi dalam beberapa etape. Etape awal dilakukan dengan berjalan kaki dari Bangkalan menuju Pelabuhan Kamal.
Etape berikutnya ditempuh menggunakan kereta api menuju Kabupaten Jombang. Pada puncak kegiatan, ribuan jamaah dari Madura dan Jombang berkumpul di Alun-alun Jombang sekitar pukul 18.00 WIB, lalu berjalan kaki bersama sejauh enam kilometer menuju Pondok Pesantren Tebuireng.
Pelepasan peserta dilakukan secara resmi oleh Bupati Jombang, H. Warsubi, bersama sejumlah pejabat daerah sekitar pukul 20.00 WIB, setelah seluruh peserta berkumpul di Alun-alun Jombang.
Sejumlah peserta mengaku terharu mengikuti rangkaian napak tilas tersebut.
“Saya dari Bangkalan ikut napak tilas ini sebagai momentum bersejarah untuk menjaga ruh pendirian NU agar tetap hidup dari generasi ke generasi,” ujar salah seorang peserta.
Peserta dari wilayah Jombang sendiri diperkirakan mencapai ribuan orang, terdiri dari pengurus NU, badan otonom, organisasi kemasyarakatan, serta masyarakat umum.
Dukungan dan apresiasi juga disampaikan Ketua Yayasan Jombang Ibukota Nahdliyin (JIK-NAH), Ustaz H. Muhtazuddin, S.H.
“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung penuh kegiatan napak tilas dalam rangka Harlah 1 Abad NU, Isyaroh dan Tasbih Muassis NU Tahun 2026 yang dipusatkan di Pondok Pesantren Tebuireng. Ini adalah momen bersejarah dalam merawat dan menjaga tradisi luhur para ulama NU,” tuturnya.
Hingga berita ini diturunkan, para peserta terus melanjutkan rangkaian napak tilas dari Bangkalan menuju Jombang Kota Santri, dengan titik akhir bermunajat bersama di kompleks makam Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, Tebuireng.*
Editor : Nedu Wodo
Sumber Berita: Siaran Pers Pagarnusa Jatim









