Kasus Korupsi Eks Wali Kota Semarang: Suap Rp8,7 Miliar dan Aliran Dana ke Institusi Penegak Hukum

Rabu, 30 April 2025 - 14:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: Ilustrasi/Freepik)

(Foto: Ilustrasi/Freepik)

Metrosiar – Kasus korupsi yang melibatkan mantan Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryati Rahayu alias Mbak Ita, dan suaminya, Alwin Basri, terus menjadi sorotan publik.

Keduanya diduga menerima suap dan gratifikasi senilai Rp8,7 miliar terkait pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemerintah Kota Semarang.

Dalam sidang lanjutan yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang pada 28 April 2025, Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan tiga saksi, yakni Eko Yuniarto (Camat Gayamsari sekaligus mantan Ketua Paguyuban Camat Kota Semarang), Suroto (Camat Genuk), dan Ronny Cahyo Nugroho (Camat Semarang Selatan).

Permintaan Dana hingga Rp16 Miliar oleh Alwin Basri

Dalam kesaksiannya, Eko Yuniarto mengungkap Alwin Basri, yang kala itu menjabat sebagai Ketua PKK Kota Semarang, meminta dana sebesar Rp16 miliar dari Paguyuban Camat Kota Semarang. Eko mengatakan pihaknya sempat melakukan negosiasi agar jumlah tersebut dapat dikurangi.

“Kami dari paguyuban sempat nego di Rp10 miliar, namun, Pak Alwin minta Rp16 miliar,” jelas Eko di hadapan majelis hakim.

Lebih lanjut, Eko juga mengungkapkan bahwa dirinya diperintahkan oleh Mbak Ita untuk menghilangkan barang bukti ketika kasus tersebut mulai tercium oleh KPK.

“Saya diminta membuang telepon genggam dan bukti transfer oleh Mbak Ita,” ungkapnya.

Baca juga:  Gubernur Banten Anjurkan Masyarakat Manfaatkan Kebijakan Penghapusan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor

Upaya Pengkondisian dan Instruksi Tidak Hadir ke KPK

Tidak hanya itu, Eko juga membeberkan bahwa Mbak Ita sempat menginstruksikan para camat untuk tidak menghadiri panggilan pemeriksaan dari KPK yang dilakukan di Kantor BPK Perwakilan Jawa Tengah.

“Mbak Ita memerintahkan kami agar tidak hadir,” katanya.

Eko menambahkan Mbak Ita meminta para pihak yang terlibat untuk tetap tenang dan tidak panik.

“Pokoknya tak usah datang begitu,” tambahnya menirukan perintah sang mantan wali kota.

Aliran Dana “Vitamin” ke Institusi Penegak Hukum

Persidangan juga mengungkap adanya aliran dana yang disebut sebagai “vitamin” kepada sejumlah institusi. Dana tersebut berasal dari Martono, Ketua Gapensi Kota Semarang, dan diserahkan melalui Eko Yuniarto serta Ade Bhakti, mantan Camat Gajahmungkur.

Eko menjelaskan dana tersebut diberikan ke Polrestabes Semarang dan Kejaksaan.

“Di kejaksaan melalui kasi intel, yang di Polrestabes melalui Kanit Tipikor Polrestabes Semarang,” ujarnya.

Ia mengakui dirinya dan Ade Bhakti bertugas menyerahkan uang tersebut atas perintah Martono.

Pengembalian Uang oleh Camat Genuk

Sementara itu, Camat Genuk, Suroto, menyatakan dirinya diminta untuk mengembalikan dana sebesar Rp614 juta ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jawa Tengah.

Dana tersebut merupakan bagian dari temuan BPK terkait proyek pengaspalan dan lainnya.

“Yang meminta Pak Alwin dan diserahkan ke Bu Wali,” ungkap Suroto.

Baca juga:  Semangat Nasionalisme Menggema di Kecamatan Kemiri pada Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-97

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Eko Yuniarto, yang mengungkap beberapa camat lainnya juga diminta untuk mengembalikan dana serupa atas temuan BPK.

Proyek yang menjadi sumber dana tersebut disebut berasal dari pengadaan yang diakomodir oleh Martono dan didistribusikan melalui paguyuban camat.

Upaya Pemprov Jawa Tengah Cegah Korupsi

Sebagai langkah preventif terhadap praktik korupsi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggagas program Sekolah Antikorupsi bagi 7.000 kepala desa dari 35 kabupaten/kota.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Lutfhi, menyatakan program ini bertujuan untuk memastikan pembangunan desa berjalan secara transparan dan bebas korupsi.

“Ini adalah upaya agar pembangunan yang leading sektornya di desa nanti betul-betul tepat sasaran, dan tidak ada korupsi,” ujar Lutfi saat peluncuran program di Semarang pada 29 April 2025.

Ia menambahkan hingga saat ini sudah ada 30 desa yang menjadi percontohan Desa Antikorupsi dari total 297 desa yang ditargetkan.

Kasus dugaan korupsi yang menjerat Hevearita G. Rahayu dan suaminya menjadi perhatian publik karena melibatkan pejabat tinggi daerah serta dugaan pengaruh mereka terhadap aparatur sipil dan institusi hukum.

Persidangan masih terus berjalan dan diharapkan dapat mengungkap seluruh fakta secara transparan demi penegakan hukum yang adil.(*)

Editor : Nedu Wodo

Sumber Berita: Antaranews

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kawal Ketat PIP, Fridus Muga Kumpulkan Kepsek: Data Harus Valid, Bantuan Tak Boleh Salah Sasaran
Fahri Hamzah Bongkar Cara Prabowo Kelola Ekonomi, Publik Ternyata Salah Paham!
Warga Kutabumi Tak Tinggal Diam, Infrastruktur Jadi Tuntutan ke DPRD!
Polisi Turun Tangan Tanam Jagung 2 Hektare, Ada Apa di Sukamantri?
Tak Hanya Mudik Lancar, Polda Banten Juga Gagalkan Sabu Jumbo!
Kawal Ojol ke Monas, Aksi Polisi Ini Bikin Perjalanan May Day Tanpa Drama
May Day Aman Terkendali, Kapolresta Tangerang Turun Hingga Dini Hari
Dilirik Karisma Premium Bandung, Mimpi Veren Menembus Timnas Kian Nyata
Berita ini 16 kali dibaca
Eks Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryati Rahayu alias Mbak Ita, dan suaminya Alwin Basri diduga menerima suap serta gratifikasi senilai Rp8,7 miliar. Dalam sidang Tipikor Semarang, saksi mengungkap permintaan dana Rp16 miliar, instruksi menghilangkan barang bukti, hingga aliran dana ke institusi penegak hukum. Kasus ini menguak dugaan korupsi terstruktur di lingkungan Pemkot Semarang.

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 11:48 WIB

Kawal Ketat PIP, Fridus Muga Kumpulkan Kepsek: Data Harus Valid, Bantuan Tak Boleh Salah Sasaran

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:50 WIB

Fahri Hamzah Bongkar Cara Prabowo Kelola Ekonomi, Publik Ternyata Salah Paham!

Sabtu, 2 Mei 2026 - 23:12 WIB

Warga Kutabumi Tak Tinggal Diam, Infrastruktur Jadi Tuntutan ke DPRD!

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:53 WIB

Tak Hanya Mudik Lancar, Polda Banten Juga Gagalkan Sabu Jumbo!

Sabtu, 2 Mei 2026 - 12:02 WIB

Kawal Ojol ke Monas, Aksi Polisi Ini Bikin Perjalanan May Day Tanpa Drama

Berita Terbaru

Fahri Hamzah menyampaikan pandangannya terkait pengelolaan ekonomi nasional dalam kajian bertema “Negara dan Hari Buruh”.

Keuangan & Perpajakan

Fahri Hamzah Bongkar Cara Prabowo Kelola Ekonomi, Publik Ternyata Salah Paham!

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:50 WIB

Petani merawat kebun bawang di Saruran, Enrekang, dengan latar pegunungan yang asri, mencerminkan harapan dan kesejahteraan dari hasil panen yang menjanjikan.

Bisnis & Investasi

Harga Bawang Stabil, Enrekang Jadi Ladang Emas Petani

Minggu, 3 Mei 2026 - 00:12 WIB

Anggota DPRD Provinsi Banten H. Taufik Arahman (tengah) menyampaikan sambutan saat kegiatan silaturahmi bersama warga RW 017 Bumi Asri Kutabumi, didampingi para tokoh dan pengurus wilayah.

Politik & Pemerintahan

Warga Kutabumi Tak Tinggal Diam, Infrastruktur Jadi Tuntutan ke DPRD!

Sabtu, 2 Mei 2026 - 23:12 WIB