Ngada.Metroaiar- Dari Watulajar, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, sebuah pesan besar tentang masa depan kawasan pesisir kembali dikumandangkan: menjaga komodo berarti menjaga alam, menghidupkan pariwisata, sekaligus membuka jalan bagi kesejahteraan masyarakat.
Pesan itu menguat dalam Festival Komodo Riung 2026 yang resmi dibuka Bupati Ngada, Raymundus Bena, Selasa (11/8/2026), di pesisir Desa Lengkosambi Utara.
Festival ini bukan sekadar perayaan budaya dan pariwisata. Lebih dari itu, Watulajar menjadi panggung untuk mempertemukan kepentingan konservasi, masyarakat lokal, budaya, pariwisata dan ekonomi dalam satu gerakan bersama.
Kegiatan tersebut diselenggarakan melalui kerja sama Pemerintah Kabupaten Ngada dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, dengan dukungan INFLORES GeF UNDP.
Pelaksanaannya berada di bawah koordinasi Forum Konservasi Mbou (Komodo) Riung bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Ngada.
Pembukaan festival dihadiri Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu, Bupati Nagekeo Simplisius Donatus, jajaran Forkopimda Ngada, Kepala BBKSDA NTT, Project Manager In Flores, anggota DPRD Ngada, para Asisten Setda Ngada, pimpinan OPD lingkup Pemkab Ngada, Camat Riung dan Forkopimcam, pelaku UMKM, pelaku pariwisata serta masyarakat setempat.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa masa depan Riung tidak bisa dibebankan kepada satu institusi.
Komodo tidak bisa diselamatkan hanya dengan aturan. Pariwisata tidak bisa tumbuh hanya dengan promosi. Dan ekonomi masyarakat tidak akan bergerak tanpa keterlibatan warga. Ketiganya harus berjalan bersama
KOMODO ADALAH ASET MASA DEPAN RIUNG
Bagi masyarakat Riung, komodo atau mbou bukan sekadar satwa liar.
Ia adalah bagian dari identitas kawasan, kekayaan hayati sekaligus magnet yang memiliki nilai strategis bagi pengembangan pariwisata.
Namun, kekayaan tersebut sekaligus menyimpan tantangan.
Ketika pariwisata berkembang, tekanan terhadap lingkungan juga dapat meningkat. Karena itu, pertumbuhan wisata harus berjalan seiring dengan perlindungan habitat komodo dan ekosistem pesisir.
Festival Komodo Riung 2026 membawa pesan tegas bahwa konservasi tidak boleh dipandang sebagai penghambat pembangunan. Sebaliknya, konservasi harus menjadi fondasi pembangunan.
Alam yang terjaga akan menjadi modal utama pariwisata.
Pariwisata yang tumbuh secara berkelanjutan akan membuka peluang ekonomi.
Dan ekonomi yang tumbuh harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan kawasan konservasi.
MASYARAKAT BUKAN PENONTON
Di tengah agenda besar konservasi tersebut, masyarakat lokal ditempatkan sebagai kekuatan utama.
Forum Konservasi Mbou Riung mendorong keterlibatan masyarakat bukan sebagai penonton, melainkan sebagai aktor penjaga kawasan.
Masyarakat memiliki pengetahuan lokal, pengalaman serta hubungan yang panjang dengan alam dan wilayah pesisir Riung.
Karena itu, konservasi akan jauh lebih kuat ketika masyarakat menjadi bagian dari keputusan, pelaksanaan hingga menikmati manfaat ekonomi dari kawasan yang mereka jaga.
Konsep inilah yang menjadi penting: alam dijaga, masyarakat diberdayakan, pariwisata dikembangkan.
RIUNG, MAGNET BARU PARIWISATA NGADA
Festival Komodo Riung 2026 sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat posisi Riung sebagai salah satu kekuatan utama pariwisata Kabupaten Ngada.
Riung memiliki modal yang sulit ditandingi. Laut yang luas, pulau-pulau eksotis, kawasan pesisir, kekayaan bawah laut, budaya masyarakat serta keberadaan komodo menjadi satu paket destinasi yang memiliki daya tarik besar.
Jika dikelola secara berkelanjutan, potensi tersebut tidak hanya menghadirkan wisatawan.
Ia juga dapat menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
UMKM, kuliner lokal, jasa transportasi, pemandu wisata, penginapan, kerajinan, usaha perahu hingga berbagai sektor ekonomi kreatif berpeluang tumbuh mengikuti perkembangan pariwisata.
Namun, ada garis merah yang tidak boleh dilanggar:
Jangan menjadikan alam sebagai korban pariwisata.
Sebaliknya, pariwisata harus menjadi kekuatan untuk memperkuat konservasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
WATULAJAR: FESTIVAL YANG MENYATUKAN ALAM, BUDAYA DAN EKONOMI
Festival Komodo Riung 2026 dikemas dengan berbagai kegiatan yang mempertemukan masyarakat, budaya, lingkungan dan pariwisata.
Rangkaian kegiatan meliputi tracking, bazar UMKM, pemeriksaan kesehatan gratis, lomba dayung tradisional, lomba perahu hias, api unggun, konser musik pantai, pentas seni malam dan Ja’i bersama.
Ada pula lomba balap karung, tarik tambang, atraksi Mbela Tadho, pesta kembang api pantai serta musik hiburan.
Pesan lingkungan juga menjadi bagian penting dari festival melalui agenda tour ke TWAL serta penanaman anakan bakau di kawasan Pulau Kelelawar/Ontoloe.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa festival bukan hanya soal panggung dan hiburan.
Di dalamnya ada promosi destinasi, pelestarian budaya, pemberdayaan UMKM, edukasi lingkungan dan penguatan konservasi.
Dengan kata lain, Watulajar sedang mencoba menunjukkan wajah Riung yang lebih lengkap: alamnya indah, budayanya hidup, masyarakatnya bergerak dan konservasinya menjadi fondasi.
JANGAN BERHENTI SEBAGAI FESTIVAL
Tantangan terbesar Festival Komodo Riung 2026 justru dimulai setelah panggung festival berakhir.
Festival ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan yang meriah, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang terus menjaga komodo, melindungi ekosistem, memperkuat pariwisata dan membuka ruang ekonomi bagi masyarakat.
Sebab, ketika komodo hilang, Riung kehilangan salah satu identitas terbesarnya.
Ketika laut rusak, masyarakat kehilangan sumber kehidupannya.
Dan ketika alam kehilangan daya tariknya, pariwisata pun kehilangan masa depannya.
Karena itu, menjaga Riung bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga konservasi.
Ia adalah tanggung jawab bersama.
Dari Watulajar, bara itu dinyalakan.
Bara untuk menjaga komodo.
Bara untuk melindungi laut dan pesisir.
Bara untuk menghidupkan pariwisata.
Dan yang paling penting, bara untuk memastikan masyarakat Riung menjadi penerima manfaat utama dari kekayaan alam yang mereka jaga.
Festival Komodo Riung 2026 akhirnya bukan sekadar tentang merayakan komodo.
Ini tentang bagaimana komodo tetap hidup, alam tetap lestari, pariwisata terus tumbuh dan masyarakat Riung memiliki masa depan ekonomi yang lebih baik.*









