Dokter Spesialis Tapi Tak Waras? Kalau Mau Riset Psikologi, Jangan Korbankan Privasi Orang!
Metrosiar – Aksi tak senonoh yang dilakukan seorang dokter yang sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) membuat publik terkejut sekaligus muak.
Bagaimana tidak, seseorang yang seharusnya menjadi penjaga etika dan profesionalisme justru nekat merekam mahasiswi yang sedang mandi di kamar indekos kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Kamera tersembunyi dipasang di ventilasi kamar mandi, satu langkah “kreatif” yang lebih cocok untuk film kriminal daripada dunia medis.
Menurut pakar psikologi forensik, perilaku seperti ini bisa mengindikasikan gangguan kepribadian, seperti voyeurisme suatu kelainan yang membuat pelaku merasa terpuaskan dengan mengintip aktivitas intim orang lain secara diam-diam.
Dalam beberapa kasus, ini juga bisa menunjukkan adanya dorongan seksual menyimpang yang tidak terkendali, serta kurangnya empati terhadap privasi dan hak orang lain.
Bayangkan, ini dilakukan oleh seseorang yang sedang dilatih untuk merawat dan menjaga martabat pasien?
Di sisi lain, psikolog klinis menekankan bahwa korban dapat mengalami trauma psikologis yang signifikan.
Efek jangka pendek bisa berupa rasa takut, malu, atau stres berat.
Sementara dalam jangka panjang, korban bisa mengalami gangguan kecemasan, depresi, bahkan PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), terutama jika pelaku adalah seseorang yang dianggap berpendidikan dan dihormati.
“Ketika pelaku adalah figur yang seharusnya bisa dipercaya, dampaknya terhadap korban jauh lebih dalam,” ujar seorang ahli trauma dari UI.
“Itu bisa merusak kepercayaan korban terhadap lingkungan sekitarnya, bahkan institusi pendidikan atau profesi itu sendiri.”
Ironis, bukan? Seorang dokter yang seharusnya menyembuhkan luka justru menjadi sumber luka itu sendiri. Dunia medis butuh penyembuh, bukan penyelinap!(*)
Editor : Nedu Wodo
Sumber Berita: Kompas.tv









