Dari Jalur Ekstrem hingga Api Unggun, Festival Komodo Riung 2026 Makin Menggigit

Avatar photo

Kamis, 13 Agustus 2026 - 22:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rombongan Trecking Sedang Menyusuri Kawasan Hutan Konservasi. Nampak Ketua Tim Penggerak PKK Ngada, Ibu Blandina Mamo dan Bupati Ngada, Raymundus Bena. (Foto: Elfrat Frans Dhena)

Rombongan Trecking Sedang Menyusuri Kawasan Hutan Konservasi. Nampak Ketua Tim Penggerak PKK Ngada, Ibu Blandina Mamo dan Bupati Ngada, Raymundus Bena. (Foto: Elfrat Frans Dhena)

Ngada.Metrosiar- Festival Komodo Riung 2026 tak sekadar menjadi panggung hiburan dan pertunjukan seni. Festival yang mengusung kekayaan alam, konservasi, budaya, dan pariwisata Riung ini juga menghadirkan pengalaman petualangan yang menantang.

Rabu, 12 Agustus 2026, rombongan peserta festival mengikuti tracking menuju Kampung Lama Riung, menembus jalur hutan konservasi dengan medan terjal dan berbatu.

Tracking dipimpin langsung Bupati Ngada Raymundus Bena bersama Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu. Peserta harus berjalan menyusuri jalan setapak yang sempit, terjal, dan dikelilingi vegetasi hutan.

Medan yang cukup ekstrem membuat perjalanan tidak mudah. Namun, kondisi tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman petualangan yang membuat tracking semakin menarik.

Langkah demi langkah, rombongan terus bergerak menuju Kampung Lama Riung. Sesekali peserta harus ekstra hati-hati melewati jalur berbatu dan tanjakan yang cukup curam.

Di balik beratnya perjalanan, peserta disuguhi bentang alam Riung yang masih alami. Kawasan hutan konservasi dan jejak sejarah Kampung Lama menjadi potensi wisata yang ingin diperkenalkan lebih luas melalui Festival Komodo Riung 2026.

Baca juga:  Pentingnya Pendidikan untuk Masa Depan: Kunci Sukses dalam Mengembangkan Diri, Meningkatkan Karier, dan Mewujudkan Impian dengan Ilmu dan Keterampilan

Tracking ini bukan sekadar aktivitas fisik. Kegiatan tersebut menjadi cara untuk mengajak masyarakat dan wisatawan mengenal lebih dekat alam, sejarah, sekaligus potensi wisata Riung.

Pesan konservasi juga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Keindahan alam Riung, termasuk kawasan yang menjadi habitat satwa endemik, membutuhkan komitmen bersama agar tetap terjaga.

Dari Hutan ke Api Unggun, Watulajar Berubah Jadi Panggung Rakyat

Semangat Festival Komodo Riung 2026 kemudian berlanjut pada malam harinya.

Kawasan Watulajar, Desa Lengkosambi Utara, Kecamatan Riung, berubah menjadi pusat keramaian. Ribuan warga dan pengunjung memadati lokasi untuk menikmati malam hiburan yang dikemas dengan seni, musik, dan tarian.

Suasana semakin meriah ketika Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu menyalakan api unggun.

Nyala api unggun berpadu dengan gemerlap lampu panggung dan alunan musik. Masyarakat dari berbagai wilayah larut dalam kemeriahan malam Festival Komodo Riung 2026.

Baca juga:  Terungkap! Modus Lowongan Kerja Restoran Berujung Perdagangan Orang, Pasutri di Banten Ditangkap

Namun, festival ini tidak berhenti pada hiburan.

Di balik panggung dan kemeriahan, terselip pesan kuat tentang pentingnya menjaga alam. Komodo, kawasan pesisir, hutan konservasi, budaya, dan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masa depan pariwisata Riung.

Festival juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan kreativitas sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi ekonomi lokal.

Riung ingin menunjukkan bahwa konservasi tidak harus berjarak dengan masyarakat. Sebaliknya, kelestarian alam dapat menjadi fondasi bagi berkembangnya pariwisata dan ekonomi warga.

Dari jalur ekstrem Kampung Lama hingga nyala api unggun di Watulajar, Festival Komodo Riung 2026 menghadirkan satu pesan yang kuat:

alam dijaga, budaya dihidupkan, wisata dikembangkan, dan masyarakat menjadi bagian utama dari masa depan Riung.

Festival Komodo Riung 2026 pun bukan sekadar pesta. Ia menjadi panggung untuk memperkenalkan wajah Riung sekaligus mengingatkan bahwa menjaga alam hari ini berarti menjaga masa depan masyarakat.*

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tapal Batas Ngada-Manggarai Timur Segera Dipatok, Pilar 1-4 Ditargetkan Terpasang Oktober
7.855 Rumah Rusak Akibat Gempa Ngada Masuk Tahap I, BNPB Segera Tindak Lanjuti
Gerindra DPR RI Gerak Cepat, Salurkan 10.000 Paket Sembako dan Selimut untuk Warga Terdampak Gempa NTT
Yunus Takandewa di Tengah Luka Gempa: Dari Beras, Telur hingga Kepedulian
Dojang Sapto Unjuk Keberanian di PORCAM Taekwondo Pasarkemis: Ajang Seleksi & Tryout POPDA 2028
545 Calon Jemaah Haji Jalani Tes Kebugaran dan Pemeriksaan Gratis
Kemenko Pangan Salurkan Rp1,2 Miliar, Korban Gempa Ngada Dapat Bantuan Tunai hingga Logistik
Naas! Minibus EB 1539 DI Terjun ke Jurang 50 Meter di Golewa Selatan, 2 Tewas
Berita ini 38 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 20:29 WIB

Tapal Batas Ngada-Manggarai Timur Segera Dipatok, Pilar 1-4 Ditargetkan Terpasang Oktober

Selasa, 29 September 2026 - 17:16 WIB

7.855 Rumah Rusak Akibat Gempa Ngada Masuk Tahap I, BNPB Segera Tindak Lanjuti

Selasa, 29 September 2026 - 12:54 WIB

Gerindra DPR RI Gerak Cepat, Salurkan 10.000 Paket Sembako dan Selimut untuk Warga Terdampak Gempa NTT

Selasa, 29 September 2026 - 08:25 WIB

Yunus Takandewa di Tengah Luka Gempa: Dari Beras, Telur hingga Kepedulian

Minggu, 27 September 2026 - 23:37 WIB

Dojang Sapto Unjuk Keberanian di PORCAM Taekwondo Pasarkemis: Ajang Seleksi & Tryout POPDA 2028

Berita Terbaru

Religi

Umroh Sambil Dukung Timnas, Ini Kesempatan Langka!

Selasa, 29 Sep 2026 - 15:34 WIB

Foto udara kondisi perbaikan Jalan Bayur Sangego, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Provinsi Banten, Selasa (15/9/26). (Sumber : Dinas Kominfo Kota Tangerang) (NOVAN NANDA AJITA)

Bisnis & Investasi

Empat Jalan Tangerang Tuntas, Akses Warga Kembali Lancar

Selasa, 29 Sep 2026 - 13:19 WIB