Tradisi Lebaran Ketupat Warnai Penutupan Puasa Syawal Masyarakat Jawa Tondano

Avatar photo

Minggu, 6 April 2025 - 18:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dua warga Jawa Tondano tampak menyiapkan nasi buluh atau nasi jaha di area belakang rumah, hidangan khas yang disajikan saat lebaran ketupat. (Kredit via Kompas.com/ROSYID A AZHAR)

Dua warga Jawa Tondano tampak menyiapkan nasi buluh atau nasi jaha di area belakang rumah, hidangan khas yang disajikan saat lebaran ketupat. (Kredit via Kompas.com/ROSYID A AZHAR)

 

Metrosiar – Warga Jawa Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara, khususnya kalangan lanjut usia, merayakan berakhirnya puasa sunah enam hari di bulan Syawal dengan menggelar tradisi lebaran ketupat. Perayaan ini dikenal dengan aneka sajian khas seperti ketupat, jenang, dan nasi buluh.

Puasa sunah Syawal telah menjadi bagian dari warisan budaya yang dibawa oleh para leluhur mereka, terutama para pengikut Kiyai Mojo yang diasingkan ke Sulawesi oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada 1828 saat berlangsungnya Perang Jawa atau Perang Diponegoro.

“Puasa Syawal ini biasa dilakukan oleh orang-orang tua, meski masih ada anak muda yang ikut. Ini sudah menjadi kebiasaan kami,” ujar Haryono Suronoto, Minggu (6/4/2025).

Ia menjelaskan bahwa tradisi lebaran ketupat digelar sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat dari Allah SWT, seiring dengan anjuran berpuasa di bulan Syawal.

Baca juga:  Prabowo : Saya Lebih Hormat Ke Pemulung Tukang Becak Yang Bekerja Keras Dibandingkan Dengan Koruptor

Di sisi lain, ia juga mengakui bahwa kebiasaan ini mulai berkurang peminatnya di kalangan generasi muda.

Meski begitu, semangat untuk melestarikan tradisi tetap ada. Sebab, bagi masyarakat Jawa Tondano, ajaran Islam dan amalan leluhur tetap dijaga, termasuk puasa Syawal, shalawat ghalibah, salat Jawa, dan hadrah yang diwariskan dari masa para pejuang Perang Jawa.

Di wilayah Reksonegoro, perayaan Lebaran ketupat diramaikan dengan kehadiran Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama unsur Forkopimda.

Panggung-panggung disiapkan untuk menampilkan berbagai atraksi budaya khas Jawa Tondano, yang menjadikan tradisi ini terasa unik dibandingkan kebiasaan masyarakat Jawa di daerah lain.

Baca juga:  Niat Pulang ke Bogor, Santri Ini Malah Kehabisan Bekal hingga Dibantu Polisi

“Lebaran ketupat selalu ramai. Ini jadi momen pemersatu keluarga dan warga, semua berkumpul dan menikmati hidangan bersama,” kata Muhammad Wonopatih, imam Masjid Reksonegoro.

Di Gorontalo, perayaan ini bahkan berdampak pada kepadatan lalu lintas karena antusiasme warga yang tinggi. Awalnya hanya berlangsung di kampung-kampung seperti Yosonegoro, Kaliyoso, dan Reksonegoro, kini tradisi ini juga berkembang di wilayah lain yang dihuni masyarakat Jawa Tondano.

Pemerintah Kota Gorontalo pun turut memfasilitasi perayaan di Leato Selatan, dengan agenda utama berupa pesta kuliner.

Tak hanya itu, warga Jawa Tondano yang bermukim di daerah lain juga mengadakan open house, menyajikan makanan berat untuk menjamu keluarga, kerabat, dan tamu yang datang.(*)

Editor : Wodo Ndaya Coya

Sumber Berita: Kompas.com

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tapal Batas Ngada-Manggarai Timur Segera Dipatok, Pilar 1-4 Ditargetkan Terpasang Oktober
7.855 Rumah Rusak Akibat Gempa Ngada Masuk Tahap I, BNPB Segera Tindak Lanjuti
Gerindra DPR RI Gerak Cepat, Salurkan 10.000 Paket Sembako dan Selimut untuk Warga Terdampak Gempa NTT
Yunus Takandewa di Tengah Luka Gempa: Dari Beras, Telur hingga Kepedulian
Dojang Sapto Unjuk Keberanian di PORCAM Taekwondo Pasarkemis: Ajang Seleksi & Tryout POPDA 2028
545 Calon Jemaah Haji Jalani Tes Kebugaran dan Pemeriksaan Gratis
Kemenko Pangan Salurkan Rp1,2 Miliar, Korban Gempa Ngada Dapat Bantuan Tunai hingga Logistik
Naas! Minibus EB 1539 DI Terjun ke Jurang 50 Meter di Golewa Selatan, 2 Tewas
Berita ini 18 kali dibaca
Lebaran ketupat Jawa Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, jadi tradisi penutup puasa Syawal, dirayakan dengan kuliner khas dan budaya warisan leluhur sejak masa pengasingan Kiyai Mojo.

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 20:29 WIB

Tapal Batas Ngada-Manggarai Timur Segera Dipatok, Pilar 1-4 Ditargetkan Terpasang Oktober

Selasa, 29 September 2026 - 17:16 WIB

7.855 Rumah Rusak Akibat Gempa Ngada Masuk Tahap I, BNPB Segera Tindak Lanjuti

Selasa, 29 September 2026 - 12:54 WIB

Gerindra DPR RI Gerak Cepat, Salurkan 10.000 Paket Sembako dan Selimut untuk Warga Terdampak Gempa NTT

Selasa, 29 September 2026 - 08:25 WIB

Yunus Takandewa di Tengah Luka Gempa: Dari Beras, Telur hingga Kepedulian

Minggu, 27 September 2026 - 23:37 WIB

Dojang Sapto Unjuk Keberanian di PORCAM Taekwondo Pasarkemis: Ajang Seleksi & Tryout POPDA 2028

Berita Terbaru

Religi

Umroh Sambil Dukung Timnas, Ini Kesempatan Langka!

Selasa, 29 Sep 2026 - 15:34 WIB

Foto udara kondisi perbaikan Jalan Bayur Sangego, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Provinsi Banten, Selasa (15/9/26). (Sumber : Dinas Kominfo Kota Tangerang) (NOVAN NANDA AJITA)

Bisnis & Investasi

Empat Jalan Tangerang Tuntas, Akses Warga Kembali Lancar

Selasa, 29 Sep 2026 - 13:19 WIB