Metrosiar – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut kebijakan ekonomi Presiden AS Donald Trump, beserta tarif balasan dari negara lain, telah menciptakan ketegangan yang dia sebut sebagai war game dalam bidang ekonomi.
Awal Mula Perang Tarif
Perang tarif ini dimulai pada Februari ketika Trump mengumumkan tarif bea masuk impor sebesar 25% terhadap China, Kanada, dan Meksiko.
Menanggapi kebijakan tersebut, China dan Kanada segera mengenakan tarif balasan.
Tidak hanya berhenti di sana, Trump terus meluncurkan kebijakan tarif tambahan, dengan pengenaan tarif 25% terhadap aluminium dan baja dari Kanada yang mulai berlaku pada 11 Maret 2025.
“Jadi ini yang disebut the war game di bidang ekonomi. Trump memang mengincar negara yang surplus atau AS mengalami defisit terhadap negara ini,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers, Kamis (13/3/2025), dikutip Metrosiar.com dari Bisnis.com.
Daftar Negara Surplus Perdagangan AS
Sri Mulyani juga mengungkapkan terdapat 20 negara yang mengalami surplus perdagangan dengan AS, di mana China menduduki posisi pertama dengan surplus mencapai US$319,1 miliar, disusul oleh Meksiko dengan surplus US$175,9 miliar.
Indonesia tercatat berada di posisi ke-15, dengan surplus perdagangan sebesar US$19,3 miliar pada tahun 2024.
Kewaspadaan Potensi Dampak Tarif Global
Bendahara Negara memperingatkan Indonesia harus mewaspadai potensi dampak kebijakan tarif AS terhadap negara-negara yang mengalami surplus perdagangan.
Vietnam, misalnya, disebut-sebut menjadi target tarif selanjutnya dari Trump.
“Ini yang harus kita sekarang teliti dan waspadai. Kalau diberlakukan kebijakan tarif kepada negara yang surplus, Indonesia peringkat 15, ini berpotensi menciptakan biaya dari supply chain manufaktur dan terutama sektor digital yang akan meningkat,” jelas Sri Mulyani.
Disrupsi Rantai Pasok dan Ketidakpastian Pasar
Lebih lanjut, Sri Mulyani menjelaskan disrupsi dalam rantai pasok secara umum bisa terjadi, apalagi dengan harga komoditas yang semakin bergejolak.
Menurutnya, hal ini menjadi perhatian utama, mengingat harga komoditas merupakan salah satu sumber utama penerimaan negara Indonesia.
Ia menambahkan sentimen pasar diprediksi akan semakin volatile, sebagaimana yang terlihat dalam sebulan terakhir.
Tantangan Peta Ekonomi Global
Keadaan ini menimbulkan ketidakpastian dan pertanyaan besar bagi negara-negara di seluruh dunia mengenai arah peta ekonomi global.
“Ternyata selama ini yang dianggap aman, friendshoring, itu sekarang tidak ada friends lagi. Kalau kamu berteman, kita amankan. Ternyata definisi teman, tidak ada lagi di dalam konteks hari ini,” ujar Bendahara Negara.
Peluang Rekonfigurasi Rantai Pasok
Meski demikian, Sri Mulyani melihat adanya peluang bagi Indonesia, seperti relokasi dari rekonfigurasi rantai pasok.
Selain itu, kerja sama yang lebih kuat dengan ASEAN dan BRICS juga menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan.(*)
Editor : Konrad
Sumber Berita: BeritaMediaSiber









