Perang Tarif AS-China Picu Banjir Produk China di Indonesia, Industri Tekstil Tertekan

Avatar photo

Senin, 28 April 2025 - 21:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kain tekstil asal China yang membanjiri Indonesia (Pixabay)

Ilustrasi kain tekstil asal China yang membanjiri Indonesia (Pixabay)

Metrosiar – Perang tarif antara Amerika Serikat dan China memicu banjir produk dari China ke Indonesia.

Barang-barang yang sulit masuk ke pasar AS kini mencari pasar baru, termasuk Indonesia, dengan harga lebih murah dan daya saing tinggi.

Seorang penjual produk pakaian tidur di Jakarta, Isma Savitri, mengaku “cemas” atas dampak perang tarif tersebut.

“Sempat cemas karena membayangkan dampaknya ke Indonesia,” kata Isma, pemilik merek lokal Helopopy, dilansir Metrosiar dari BBC News Indonesia, Senin (28/04/25).

Isma menilai pebisnis menengah sepertinya “rentan” terhadap persaingan dengan barang impor murah.

Ia menambahkan, “Sektor tekstil dan mode kita bisa dibilang sangat rentan dipengaruhi barang China yang semakin jor-joran masuk ke Indonesia beberapa tahun terakhir ini.”

Isma bahkan pernah menemukan produk baju tidur asal China yang dijual jauh lebih murah.

“Ada satu produk baju tidur yang saya jual harga Rp119.000, tapi belakangan China membuat produk serupa dengan harga Rp70.000,” ujarnya.

Meski begitu, ia berstrategi dengan pendekatan personal ke pembeli dan memperbarui variasi produk untuk menjaga daya saing.

Industri Tekstil Tertekan, Potensi PHK Massal

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (Apsyfi), Redma Gita Wiraswasta, menyatakan industri nasional kini menghadapi tekanan ganda.

Baca juga:  Forbisda HIPMI Banten: Raka Aditya Sebut Pengusaha Muda Kini Jadi “Game Changer” di Tengah Ketidakpastian Global

“Industri dalam negeri kita terserang dua kali, pertama, terserang dari barang-barang China dalam negeri, yang kedua ekspor [dari Indonesia] ke Amerika juga jadi terhambat karena kena tambahan biaya dumping,” ujar Redma kepada BBC News Indonesia, Minggu (27/04/25), seperti dikutip Metrosiar.

Menurut Redma, banjir produk filamen dari China sudah terjadi sejak 2020. Data BPS menunjukkan impor filamen artifisial dari China naik signifikan, dari 1.191 ton (2020) menjadi 2.676 ton (2022), dengan 98,29% impor berasal dari China.

Dampaknya, ia memperkirakan sekitar 125.000 pekerja di sektor produksi benang filamen bisa kehilangan pekerjaan.

Pemerintah Akui Praktik Transhipment

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengakui adanya keluhan soal banjir pakaian impor di tengah perang tarif. Ia menjelaskan persoalan ini diperparah praktik transhipment atau pengalihan status negara asal barang.

“Pemerintah mendesak pemerintah daerah memperketat pemberian SKA untuk barang-barang yang akan dikirim ke luar negeri guna mencegah penyalahgunaan dokumen asal barang,” kata Agus.

Selain itu, Agus mengeklaim akan memperkuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional.

Baca juga:  Indonesia Resmi Menjadi Anggota Penuh BRICS Sejak 6 Januari 2025

“Melindungi industri TPT lokal berarti melindungi jutaan pekerja di dalamnya,” ujarnya, seraya menambahkan pemerintah telah menyiapkan program insentif untuk industri padat karya ini.

Indonesia Semakin Bergantung ke China

Pengamat ekonomi Bhima Yudhistira dari Center of Economic and Law Studies (Celios) memperingatkan bahwa perang tarif justru memperkuat ketergantungan Indonesia kepada China.

“Apa pun yang terjadi nanti Indonesia ini makin bergantung dengan Cina sebenarnya secara faktual,” kata Bhima kepada BBC News Indonesia, Selasa (22/04) yang dikutip Metrosiar.

Menurut Bhima, meski ada pelonggaran non-tariff measures, produk China tetap lebih siap memasuki pasar Indonesia dibandingkan produk AS.

Ia menilai hambatan impor AS hanya bisa dilonggarkan terbatas, misalnya untuk pangan melalui Bulog atau alutsista.

Usulan Redma untuk Lindungi Industri Lokal

Untuk mencegah dampak lebih parah, Redma menyarankan pemerintah menerapkan safeguard dan bea masuk anti-dumping terhadap produk impor.

“Kalau enggak dibenerin nanti barang-barang China banyak yang transhipment lewat Indonesia,” katanya.

Redma menekankan perlunya ketat dalam penerbitan Surat Keterangan Asal barang agar tidak menjadi celah bagi produk China masuk dengan mudah ke pasar global melalui Indonesia.(*)

Editor : Lisan Al-Ghaib

Sumber Berita: BBC News Indonesia

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Partai Gelora Dorong Percepatan Energi Nuklir, Dinilai Jadi Kunci Kemandirian Energi Indonesia
KUR Obor Mas Mengalir Lebih dari Rp1 Miliar di Bajawa! Bupati Ngada Bergabung Jadi Anggota, Sinergi dengan Koperasi Merah Putih Kian Menguat
Obor Mas Jangan Hanya Besar, Tapi Harus Terus Bertumbuh! Bupati Ngada Ajak Anggota Bersatu dan Berani Bermimpi Lebih Tinggi
Danantara Garap Eksportir Tunggal, Fauzan Fadel ingatkan Negara Harus Jadi Mitra Strategis, Bukan Monopoli
Pasar Sentral Sudu: Ikon Masyarakat yang Kini Tampak Kumuh dan Semrawut
Gubernur Andra Soni Dukung DOB Cilangkahan: Siap Mekar, Infrastruktur Dikebut
Uang Rusak Masih Banyak Beredar, Warga Kesulitan Bertransaksi
Denyut Perdagangan Kambing dari Pasar Sentral Sudu Menuju Palopo Jelang Idul Qurban
Berita ini 49 kali dibaca
Perang tarif antara Amerika Serikat dan China membawa dampak besar ke Indonesia. Produk-produk dari China yang sulit masuk ke pasar AS kini mencari tempat baru, termasuk membanjiri pasar domestik Indonesia dengan harga lebih murah. Sejumlah pelaku usaha lokal mengaku cemas dengan kondisi ini. Isma Savitri, pemilik merek pakaian tidur lokal Helopopy di Jakarta, mengatakan perang tarif membuat dirinya was-was. Ia menilai bisnis menengah sangat rentan terhadap serbuan produk murah dari China. Sementara itu, Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (Apsyfi) juga mengungkap kekhawatirannya. Ketua Umum Apsyfi, Redma Gita Wiraswasta, mengatakan industri dalam negeri kini menghadapi tekanan ganda: banjir barang impor di pasar domestik dan hambatan ekspor akibat kenaikan tarif masuk ke AS.

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:00 WIB

Partai Gelora Dorong Percepatan Energi Nuklir, Dinilai Jadi Kunci Kemandirian Energi Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 - 09:03 WIB

KUR Obor Mas Mengalir Lebih dari Rp1 Miliar di Bajawa! Bupati Ngada Bergabung Jadi Anggota, Sinergi dengan Koperasi Merah Putih Kian Menguat

Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:34 WIB

Obor Mas Jangan Hanya Besar, Tapi Harus Terus Bertumbuh! Bupati Ngada Ajak Anggota Bersatu dan Berani Bermimpi Lebih Tinggi

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:54 WIB

Danantara Garap Eksportir Tunggal, Fauzan Fadel ingatkan Negara Harus Jadi Mitra Strategis, Bukan Monopoli

Kamis, 21 Mei 2026 - 14:15 WIB

Pasar Sentral Sudu: Ikon Masyarakat yang Kini Tampak Kumuh dan Semrawut

Berita Terbaru

Nusantara

Bulan Muharram Bulannya Allah Ini Amalan dan Keutamannya

Sabtu, 13 Jun 2026 - 10:58 WIB