Metrosiar – Perang tarif antara Amerika Serikat dan China memicu banjir produk dari China ke Indonesia.
Barang-barang yang sulit masuk ke pasar AS kini mencari pasar baru, termasuk Indonesia, dengan harga lebih murah dan daya saing tinggi.
Seorang penjual produk pakaian tidur di Jakarta, Isma Savitri, mengaku “cemas” atas dampak perang tarif tersebut.
“Sempat cemas karena membayangkan dampaknya ke Indonesia,” kata Isma, pemilik merek lokal Helopopy, dilansir Metrosiar dari BBC News Indonesia, Senin (28/04/25).
Isma menilai pebisnis menengah sepertinya “rentan” terhadap persaingan dengan barang impor murah.
Ia menambahkan, “Sektor tekstil dan mode kita bisa dibilang sangat rentan dipengaruhi barang China yang semakin jor-joran masuk ke Indonesia beberapa tahun terakhir ini.”
Isma bahkan pernah menemukan produk baju tidur asal China yang dijual jauh lebih murah.
“Ada satu produk baju tidur yang saya jual harga Rp119.000, tapi belakangan China membuat produk serupa dengan harga Rp70.000,” ujarnya.
Meski begitu, ia berstrategi dengan pendekatan personal ke pembeli dan memperbarui variasi produk untuk menjaga daya saing.
Industri Tekstil Tertekan, Potensi PHK Massal
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (Apsyfi), Redma Gita Wiraswasta, menyatakan industri nasional kini menghadapi tekanan ganda.
“Industri dalam negeri kita terserang dua kali, pertama, terserang dari barang-barang China dalam negeri, yang kedua ekspor [dari Indonesia] ke Amerika juga jadi terhambat karena kena tambahan biaya dumping,” ujar Redma kepada BBC News Indonesia, Minggu (27/04/25), seperti dikutip Metrosiar.
Menurut Redma, banjir produk filamen dari China sudah terjadi sejak 2020. Data BPS menunjukkan impor filamen artifisial dari China naik signifikan, dari 1.191 ton (2020) menjadi 2.676 ton (2022), dengan 98,29% impor berasal dari China.
Dampaknya, ia memperkirakan sekitar 125.000 pekerja di sektor produksi benang filamen bisa kehilangan pekerjaan.
Pemerintah Akui Praktik Transhipment
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengakui adanya keluhan soal banjir pakaian impor di tengah perang tarif. Ia menjelaskan persoalan ini diperparah praktik transhipment atau pengalihan status negara asal barang.
“Pemerintah mendesak pemerintah daerah memperketat pemberian SKA untuk barang-barang yang akan dikirim ke luar negeri guna mencegah penyalahgunaan dokumen asal barang,” kata Agus.
Selain itu, Agus mengeklaim akan memperkuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional.
“Melindungi industri TPT lokal berarti melindungi jutaan pekerja di dalamnya,” ujarnya, seraya menambahkan pemerintah telah menyiapkan program insentif untuk industri padat karya ini.
Indonesia Semakin Bergantung ke China
Pengamat ekonomi Bhima Yudhistira dari Center of Economic and Law Studies (Celios) memperingatkan bahwa perang tarif justru memperkuat ketergantungan Indonesia kepada China.
“Apa pun yang terjadi nanti Indonesia ini makin bergantung dengan Cina sebenarnya secara faktual,” kata Bhima kepada BBC News Indonesia, Selasa (22/04) yang dikutip Metrosiar.
Menurut Bhima, meski ada pelonggaran non-tariff measures, produk China tetap lebih siap memasuki pasar Indonesia dibandingkan produk AS.
Ia menilai hambatan impor AS hanya bisa dilonggarkan terbatas, misalnya untuk pangan melalui Bulog atau alutsista.
Usulan Redma untuk Lindungi Industri Lokal
Untuk mencegah dampak lebih parah, Redma menyarankan pemerintah menerapkan safeguard dan bea masuk anti-dumping terhadap produk impor.
“Kalau enggak dibenerin nanti barang-barang China banyak yang transhipment lewat Indonesia,” katanya.
Redma menekankan perlunya ketat dalam penerbitan Surat Keterangan Asal barang agar tidak menjadi celah bagi produk China masuk dengan mudah ke pasar global melalui Indonesia.(*)
Editor : Lisan Al-Ghaib
Sumber Berita: BBC News Indonesia









