Metrosiar — Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengonfirmasi bahwa Presiden Prabowo Subianto tidak melapor terlebih dahulu kepada Presiden ke-7 Indonesia Joko Widodo sebelum mengadakan pertemuan dengan Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri.
Pertemuan tersebut berlangsung pada Senin (7/4) di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Jakarta.
Menurut Dasco, pertemuan tersebut merupakan bagian dari silaturahmi dalam suasana Lebaran.
Ia mengatakan sebagai tokoh bangsa, Prabowo memiliki kebebasan untuk bersilaturahmi dengan siapa pun.
“Enggak (lapor ke Jokowi), ini kan silaturahmi, bisa dilakukan dengan siapa saja,” ujar Dasco di Gedung DPR RI, Selasa (8/4).
Dasco menjelaskan, dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 1,5 jam itu, Prabowo dan Megawati berbincang santai serta bertukar pandangan tentang masa depan Indonesia.
Ia menyebut suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh canda tawa.
Keduanya juga sempat berbicara empat mata, meskipun isi pembicaraan secara detail tidak diungkap.
“Yang pasti, yang dibahas soal kebersamaan membangun Indonesia ke depan,” tambah Dasco.
Pertemuan ini menjadi sorotan publik mengingat wacana pertemuan antara Prabowo dan Megawati sudah lama mencuat sejak Prabowo dan Gibran Rakabuming Raka terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2024–2029.
Namun, realisasinya baru terjadi kemarin, Selasa 8 April 2025.
Sebelumnya, santer beredar spekulasi bahwa Presiden Jokowi menjadi faktor penghambat pertemuan kedua tokoh tersebut, menyusul renggangnya hubungan antara Jokowi dan Megawati setelah Gibran, putra sulung Jokowi, mendampingi Prabowo di Pilpres 2024.
Pengamat politik Adi Prayitno menyebut sempat muncul anggapan bahwa hubungan erat antara Prabowo dan Jokowi membuat pertemuan dengan Megawati sulit terjadi.
Tetapi, jika hubungan Prabowo dan Jokowi merenggang, pertemuan dengan Megawati dianggap lebih mungkin terwujud.
Meski demikian, Adi menilai Jokowi tidak seharusnya dianggap sebagai penghalang pertemuan tersebut.
“Jokowi nonfaktor. Kalau mau bertemu, ya bertemu saja. Tidak perlu dikaitkan dengan faktor eksternal,” tegas dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.(*)
Editor : Ndaya Coya
Sumber Berita: Kompas.com









