Taruhan Nyawa di Tengah Kepungan Air: Kisah Ibu Melahirkan Saat Banjir Bandang Aceh Tamiang

Avatar photo

Rabu, 14 Januari 2026 - 01:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rumah yang Tenggelam dan Harapan yang Tersisa, Kesaksian Ali Warga Terdampak Parah Banjir Bandang Aceh Tamiang. (Kolase: Instagram/chefharipurwanto)

Rumah yang Tenggelam dan Harapan yang Tersisa, Kesaksian Ali Warga Terdampak Parah Banjir Bandang Aceh Tamiang. (Kolase: Instagram/chefharipurwanto)

Aceh Tamiang, Metrosiar – Bencana banjir di 3 provinsi di Sumatra yang terjadi pada akhir November 2025 lalu meninggalkan duka mendalam bagi warga wilayah terdampak.

Bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor itu datang tiba-tiba dan meluluhlantakkan jalur yang dilewatinya, termasuk permukiman warga.

Lebih dari seribu orang pun meninggal dunia karena bencana yang datang tiba-tiba itu.

Meski sudah lebih dari sebulan pascabanjir, momen detik-detik air dengan arus deras menenggelamkan rumah masih terekam di ingatan warga.

Salah satunya Ali, salah satu anak dari Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang.

Dikira Banjir Biasa, Tak Ada Persiapan Hadapi Bencana

Ali menceritakan bahwa mereka tak tahu banjir yang terjadi pada akhir November 2025 akan menjadi bencana besar hingga lebih dari sebulan pun masih membutuhkan penanganan darurat.

“Kami nggak tahu kalau akan banjir sebesar ini. Jadi, kami nggak ada persiapan,” ujar Ali, dikutip dari video unggahan chef Hari Purwanto di Instagramnya, @chefharipurwanto, pada Selasa (13/1/26).

Masih mengira banjir pertama akan cepat suru, ia dan warga lainnya saat itu masih bersantai dan tidak melakukan persiapan menghadapi kemungkinan bencana lebih besar lainnya.

Baca juga:  100 Personel Turun Tangan! Ribuan Miras Disita dalam Operasi Pekat Maung 2026

“Kami masih bersantai, lihat-lihat banjir, masih main-main air sungai, masih selow seperti banjir biasa. Banjir biasa kan nggak seperti ini,” lanjutnya.

Siapa menyangka jika di sore hari, wilayah banjir makin luas hingga mencapai jalan raya kampungnya.

“Rupanya, malamnya air sudah di depan rumah, Di situlah kami mulai gaduh, kami nggak bisa tidur. Rumah-rumah tetangga kami depan rumah sudah hancur, bahkan lewat depan mata kami. Itu yang buat kami sedih,” terangnya.

Ungkap Cerita Saudara Melahirkan saat Air Makin Naik

Saat malam hari, menurut Ali, air makin mendekati pemukiman dan bersama keluarganya, sudah bersiap untuk pergi.

“Mau pergi ke atas dulu, di atas bukit. Rupanya paginya, air naik lagi sampai situ. Pindah lagi,” tambahnya.

Saat momen genting untuk mencari tempat aman, Ali menceritakan tetangga sekaligus salah satu keluarganya harus melahirkan.

“Malamnya, di situ ada orang mau melahirkan, adiknya ayah. Di situ ada dokternya, langsung dilahirkan (di tempat itu) anaknya. Setelah selesai, langsung pindah lagi, itu jam 3 malam melahirkannya,” terangnya.

Baca juga:  Kapolri Melayat ke Rumah Duka Eks Wakapolri: Polri Kehilangan Sosok Syafruddin

Berharap Bantuan Rumah dan Air Bersih

Dalam kesempatan tersebut, Ali juga mengungkapkan harapannya untuk mendapatkan bantuan rumah dan air bersih bagi penyintas.

“Yang diharapkan, mudah-mudahan ada rumah. Kalau untuk saya sendiri masih ada rumah, untuk warga-warga. Rumah dan air bersih saja udah berterima kasih, udah nggak layak,” sambungnya.

Ia juga membagikan kabar duka bahwa beberapa saat lalu, orang tuanya baru saja meninggal dunia dan mengatakan telah ikhlas menerima takdirnya.

“Yang paling sedih buat saya, 4 hari lalu, orang tua saya meninggal. Tapi mau bagaimana lagi, setiap yang bernyawa akan pasti mati,” tuturnya.

“Awalnya, saya masih semangat hidupnya. Masih ada ibu, masih enak,” tandasnya.

Semenatara itu, Aceh merupakan satu dari 4 kabupaten di Provinsi Aceh yang memperpanjang masa tanggap darurat bencana hingga 22 Januari 2026.

Adapun kabupaten lain di Aceh yang memperpanjang status tanggap darurat adalah Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Pidie Jaya.*

Editor : Lisan Al-Ghaib

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

HAN ke-42 di Ngada Jadi Alarm: Ray Bena Soroti Kekerasan, Bahaya Digital dan Hak Anak
Pengurus PW Matahari Pagi Indonesia Provinsi Banten akan Perkuat Kolaborasi Membangun Daerah
Jaga Kondusivitas Wilayah, Polresta Tangerang Bentuk Sabuk Kamtibmas Libatkan Buruh hingga Ojol
Partai Gelora Kota Tangerang Perkuat Kepedulian Sosial Lewat Program Makan Gratis untuk Warga
Pengemudi Ojek Online dan Warga Sambut Antusias Program Makan Gratis dari Partai Gelora Kota Tangerang.
Pahlawan Nasional dari Papua yang Mengukuhkan Semangat Persatuan Indonesia
Indo Beauty Expo 2026 Jadi Langkah Strategis PT Pillars Cosmetiklon Indonesia Perluas Kemitraan Bisnis
Kapolres Baru Langsung Diuji! GMNI Ngada Tantang Berantas Dugaan Rokok Ilegal: “Jangan Sampai Hukum Tumpul ke Pelanggar”
Berita ini 12 kali dibaca
Ali menceritakan bahwa mereka tak tahu banjir yang terjadi pada akhir November 2025 akan menjadi bencana besar hingga lebih dari sebulan pun masih membutuhkan penanganan darurat.

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 22:53 WIB

HAN ke-42 di Ngada Jadi Alarm: Ray Bena Soroti Kekerasan, Bahaya Digital dan Hak Anak

Jumat, 7 Agustus 2026 - 21:52 WIB

Pengurus PW Matahari Pagi Indonesia Provinsi Banten akan Perkuat Kolaborasi Membangun Daerah

Jumat, 7 Agustus 2026 - 00:49 WIB

Jaga Kondusivitas Wilayah, Polresta Tangerang Bentuk Sabuk Kamtibmas Libatkan Buruh hingga Ojol

Kamis, 6 Agustus 2026 - 12:57 WIB

Partai Gelora Kota Tangerang Perkuat Kepedulian Sosial Lewat Program Makan Gratis untuk Warga

Kamis, 6 Agustus 2026 - 07:57 WIB

Pahlawan Nasional dari Papua yang Mengukuhkan Semangat Persatuan Indonesia

Berita Terbaru