Dorong ‘Trias Politica’ Efektif, Fahri Hamzah: Partai Gelora akan Perbaiki Sistem Demokrasi Indonesia

Avatar photo

Minggu, 28 Desember 2025 - 05:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah menegaskan pentingnya keseimbangan eksekutif, legislatif, dan yudikatif demi demokrasi yang sehat.

Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah menegaskan pentingnya keseimbangan eksekutif, legislatif, dan yudikatif demi demokrasi yang sehat.

Jakarta, Metrosiar – Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah menegaskan komitmen Partai Gelora untuk mendorong penguatan sistem Trias Politica dalam praktik demokrasi Indonesia. Menurutnya, keseimbangan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif mutlak diperlukan agar ketiganya berjalan efektif, sejalan, dan saling mengawasi melalui mekanisme check and balance.

“Trias Politica mendorong supaya kita bisa memandang berbagai persoalan secara utuh, bukan parsial agar kita tidak mengalami keterjebakan dalam berbangsa dan bernegara,” kata Fahri Hamzah.

Kajian bertema Wawasan Kebangsaan Seri ke-12 menjadi ruang diskusi Fahri Hamzah dalam membedah sistem ketatanegaraan dan Trias Politica di Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Fahri dalam Kajian Pengembangan Wawasan bertema Wawasan Kebangsaan Seri ke-12 yang diselenggarakan DPP Partai Gelora di Jakarta, Jumat (26/12/2025) malam.

Dalam paparannya, Fahri menyoroti cara bangsa ini memandang kepemimpinan nasional dari masa ke masa. Ia menilai, presiden kerap dikultuskan saat berkuasa, namun justru disalahkan dan dicaci ketika masa jabatannya berakhir.

“Saya ingin mengambil contoh dari cara kita melihat presiden dari waktu ke waktu. Di negara kita, sering ujung-ujungnya menyalahkan presiden dari zaman Orde Lama, Orde Baru, Era Reformasi hingga kini,” ujarnya.

Ia mencontohkan sosok Presiden pertama RI Soekarno yang sempat didewakan, namun kemudian dicerca setelah tak lagi menjabat. Hal serupa juga terjadi pada Presiden Soeharto yang memimpin selama 32 tahun di era Orde Baru.

“Tapi begitu Presiden Soeharto berhenti, lalu kita memaki-makinya seolah-olah tidak ada harganya dan tidak pernah ada jasanya,” katanya.

Baca juga:  Mahfuz Sidik: Partai Gelora Tumbuh Jadi Partai Berbobot, Menjanjikan, dan Layak Dipilih di Pemilu 2029

Fahri menilai, pemberian gelar Pahlawan kepada Soeharto oleh Presiden Prabowo Subianto pada HUT RI ke-80 Agustus 2025 lalu patut disyukuri sebagai upaya melihat sejarah secara lebih adil.

Fenomena serupa, menurutnya, juga dialami para presiden setelahnya, mulai dari BJ Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hingga Joko Widodo (Jokowi).

“Terutama yang memimpin agak lama. Waktu itu pernah Pak SBY diganggu. Sekarang kita masih menyaksikan bagaimana Pak Jokowi diganggu luar biasa,” ungkapnya.

Padahal, lanjut Fahri, saat masih berkuasa Jokowi mendapat pujian dan dukungan besar dari publik.

“Saya sendiri pernah mengalami, karena mengkritik Pak Jokowi. Sebagai anggota dewan, saya sempat didemonstrasi sama orang, bahkan diacung-acungkan pedang di suatu tempat, karena dianggap mengkritik Pak Jokowi,” kata Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini.

Menurut Fahri, kritik tersebut dilakukan sebagai bagian dari fungsi legislatif, bukan bentuk kebencian terhadap pemimpin. Namun situasi berbalik ketika masa jabatan berakhir.

“Kemudian begitu Pak Jokowi berhenti, tiba-tiba semua orang menyerang Pak Jokowi seolah-olah tidak ada jasanya. Padahal beliau memiliki jasa juga bagi kemajuan dan pertumbuhan bangsa kita, terlepas dari kekurangan-kekurangannya,” kata Fahri.

Ia menegaskan, pola ekstrem memuja lalu membenci pemimpin akan terus berulang jika bangsa ini gagal memandang negara sebagai sebuah sistem yang utuh.

“Tapi kemudian pada saat yang bersamaan kita bisa bersikap sadis, setelah pemimpin itu berhenti, kita akan membencinya. Gejala ini, saya anggap sebagai salah satu yang disebabkan oleh kelemahan kita dalam memandang negara sebagai sebuah sistem,” ujarnya.

Baca juga:  Kritik Tajam AWN Soroti LKPJ Bupati Ngada Dalam Rapat Kerja Komisi 2
Fahri Hamzah menyampaikan pemikiran tentang penguatan Trias Politica dalam Kajian Pengembangan Wawasan DPP Partai Gelora yang digelar secara daring.

Sebagai Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman RI, Fahri juga menekankan peran rakyat sebagai komponen penting negara yang harus terus belajar agar tidak salah memilih pemimpin.

“Rakyat itu komponen yang harus terus menerus mendidik diri supaya tidak salah pilih. Karena begitu salah pilih, yang menyesal dan marah kita juga,” katanya.

Karena itu, ia mengajak semua pihak untuk lebih cermat menilai calon pemimpin sekaligus berani menawarkan perbaikan sistem berbangsa dan bernegara.

“Jelas dalam hal ini, Partai Gelora adalah partai yang ingin mengajak semua untuk memperbaiki sistem, termasuk yang dianggap anggap harus kita evaluasi,” katanya.

Partai Gelora, lanjut Fahri, membuka ruang dialog seluas-luasnya untuk menyempurnakan sistem politik, mekanisme pemilu, hingga sistem ketatanegaraan.

“Bahkan menurut saya diskusi tentang amandemen kelima untuk menyempurnakan

konstitusi juga tetap harus kita buka,” katanya.

Ia menilai, setelah 30 tahun pasca-amandemen UUD I–IV, banyak persoalan konstitusional yang perlu kembali diperbaiki.

“Diharapkan nanti kita akan menemukan satu sistem yang lebih ideal dan lebih solid. Sebab sebuah sistem terutama konstitusi dan undang-undang itu adalah karya manusia. Dia terbuka untuk didiskusikan, serta dibahas perbaikan dan penyempurnaannya ke depan,” pungkas Fahri.

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DP3AKKB Provinsi Banten: Gebyar Bakti Sosial RW 05 Kutabaru, Wujud Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat
Lurah Kutabaru Ai Nurmayati: Gebyar Bakti Sosial RW 05 Jadi Inspirasi Menyambut HUT RI ke-81
85 Anak Ikuti Khitanan Massal Gratis di Kutabaru Pasarkemis, Bupati Tangerang Beri Apresiasi
Logo HUT ke-81 RI Resmi diluncurkan, download disini!
Sikap Gibran Kemungkinan Disebut Perintah Jokowi Bukan Diatur Prabowo
Mendorong Pilkada Asimetris 2029
PERNYATAAN BERSAMA TIGA PILAR KELURAHAN KUTABUMI
Pelantikan Tim Pembina dan Pendamping Inovasi Remaja Pelopor Anti Narkoba RW 14 Kelurahan Kutabumi.
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 13:33 WIB

DP3AKKB Provinsi Banten: Gebyar Bakti Sosial RW 05 Kutabaru, Wujud Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:44 WIB

85 Anak Ikuti Khitanan Massal Gratis di Kutabaru Pasarkemis, Bupati Tangerang Beri Apresiasi

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:41 WIB

Logo HUT ke-81 RI Resmi diluncurkan, download disini!

Jumat, 24 Juli 2026 - 21:40 WIB

Sikap Gibran Kemungkinan Disebut Perintah Jokowi Bukan Diatur Prabowo

Kamis, 16 Juli 2026 - 16:15 WIB

Mendorong Pilkada Asimetris 2029

Berita Terbaru