Metrosiar- Wakil Bupati Ngada, Bernadinus “Berni” Dhey Ngebu mengatakan pengolahan sampah organik dan anorganik bisa mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan menjadi solusi terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hal ini diungkapkan Berni ketika membuka kegiatan Bimtek Peningkatan Kapasitas Teknologi Tepat Guna Perubahan Iklim yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup RI, di Bajawa, Kamis (21/8/25).
“Dengan upaya bersama, sampah organik dan anorganik di Kabupaten Ngada bisa diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat, mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan menjadi solusi terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan Bimtek ini sangat penting karena bertujuan untuk tutur Berni meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai dampak perubahan iklim serta mengenalkan dan mendorong penerapan teknologi tepat guna sebagai solusi inovatif, khususnya dalam praktik pengolahan sampah organik dan anorganik di Provinsi Nusa Tenggara Timur khususnya Kabupaten Ngada.


Metode Pengolahan Sampah
Dia menjelaskan, teknologi pengolahan sampah organik dan anorganik mencakup berbagai metode. Salah satu metode pengolahan sampah organik yakni sebut Berni berbasis Eco Enzyme.
Eco Enzyme adalah metode memanfaatkan sampah organik dapur seperti, sisa sayuran dan buah-buahan untuk diolah menjadi cairan serbaguna melalui proses fermentasi, terang Berni Dhey.
Cairan eco enzyme ini dapat digunakan dalam berbagai keperluan termasuk pupuk organik untuk menjaga keseimbangan nutrisi dan memperbaiki struktur tanah, pembersih dan lain-lain. Dengan demukian kata Berni, volume sampah yang dibuang ke lingkungan sekitar kita pun dapat berkurang.
Sementara itu sampah anorganik seperti lanjut dia, plastik dan logam menggunakan metode Reuse (penggunaan kembali), Reduce (pengurangan), Recycle (daur ulang), dan metode lain seperti Insinerasi, Sanitary Landfill, dan Bioremediasi.
Tantangan Pengolahan Sampah di Ngada
Berni mengungkapkan, sampah organik dan anorganik di Kabupaten Ngada cukup melimpah, namun pengolahannya masih menjadi tantangan karena tidak adanya teknologi pengolahan yang terintegrasi dan tepat guna, serta masih minimnya kesadaran pemahaman masyarakat tentang cara memilah dan mengolah sampah-sampah tersebut.

Lebih jauh kata Berni Dhey, langkah-langkah yang dilakukan seperti memberikan penyuluhan dan pendampingan kepada masyarakat serta pembangunan fasilitas pengolahan sampah organik dan anorganik menjadi kebutuhan yang sangat urgen di Kabupaten Ngada.
Fasilitas pengolahan sampah itu antara lain sebut Berni, Tempat Pengomposan Komunal atau Instalasi Biogas skala kecil, dan Fasilitas Pengolahan Sampah Terpadu berbasis teknogi Refuse-Derived Fuel (RDF) untuk mengurangi ketergantungan pada TPA serta Pusat-Pusat Daur Ulang (PDU).
Maka kata Berni, sangat diperlukan kerjasama yang melibatkan berbagai pihak, seperti Pemerintah Pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), DPR RI, Pemerintah Daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan pihak swasta, dalam pengelolaan sampah organik maupun anorganik, tutup Berni Dhey.
Informasi yang dihimpun media, Bimtek ini diselenggarakan oleh Direktorat Mobilisasi Sumberdaya Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI dan Anggota Komisi XII DPR RI, Dipo Nusantara Pua Upa.
Adapun peserta yang terlibat dalam kegiatan ini sebanyak 50 orang meliputi perwakilan Pemerintah Pusat, perwakilan Pemerintah Daerah Provinsi NTT dan Kabupaten Ngada, perwakilan Kelompok ProKlim, Asosiasi Bank Sampah, Perwakilan komunitas berbasis lingkungan, akademisi, dan juga praktisi.*
Editor : Frans Dhena
Sumber Berita: Metrosiar









