Kabupaten Tangerang, Metrosiar — Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Tangerang sejak Minggu (11/1/2026) malam hingga Senin dini hari menyebabkan banjir di sejumlah kawasan permukiman. Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah adalah Perumahan Graha Kayu Agung, Kecamatan Sepatan. Ketinggian air di beberapa titik dilaporkan mencapai lutut orang dewasa, bahkan merendam hampir seluruh kawasan perumahan. Senin (12/1/2026)

Genangan air mulai memasuki permukiman warga sejak dini hari dan terus bertahan hingga pagi. Aktivitas warga pun lumpuh. Sejumlah rumah terendam, perabotan rusak, dan akses keluar-masuk perumahan terputus akibat air yang menggenang di jalan lingkungan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, ketinggian air banjir di luar rumah warga berkisar antara 60 hingga 80 sentimeter. Sedikitnya 100 persen rumah di Perumahan Graha Kayu Agung terendam air. Warga terpaksa mengamankan barang-barang seadanya ke tempat yang lebih tinggi, sementara sebagian lainnya memilih bertahan di dalam rumah.
Ketua RT 07 RW 05 Perumahan Graha Kayu Agung, Pak Hendra, mengatakan banjir di wilayahnya bukan kali pertama terjadi. Menurut dia, banjir hampir menjadi peristiwa tahunan yang terus berulang dan sangat berdampak pada kehidupan warga.
“Di lingkungan RW 05, banjir seperti ini hampir setiap tahun terjadi. Warga kami sebagian besar ekonominya menengah ke bawah, sehingga setiap banjir menimbulkan kerugian besar, terutama peralatan rumah tangga,” ujar Hendra saat ditemui, Senin.
Ia menuturkan, banjir tidak hanya merusak perabotan rumah tangga, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi warga. Banyak di antara mereka yang harus absen bekerja karena rumah terendam air dan lingkungan tidak bisa dilalui kendaraan.
Hendra menjelaskan, salah satu penyebab utama banjir adalah buruknya sistem drainase di kawasan perumahan. Saluran pembuangan air dinilai tidak memiliki jalur yang jelas dan tidak terintegrasi dengan baik ke saluran utama desa.
Permasalahan tersebut, kata dia, diperparah oleh kondisi kontur perumahan yang lebih rendah dibandingkan jalan desa. Akibatnya, air hujan tidak dapat mengalir keluar dan justru menggenang di dalam kawasan permukiman.
“Saluran pembuangan airnya tidak jelas jalurnya. Saat pembangunan dulu, pihak pengembang tidak melibatkan warga. Akhirnya, posisi perumahan lebih rendah dari jalan desa dan pembuangan air tidak berjalan dengan baik,” katanya.
Warga pun berharap pemerintah daerah segera turun tangan secara langsung untuk memberikan solusi nyata. Normalisasi saluran air dan perbaikan sistem drainase dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar banjir tidak terus berulang setiap musim hujan.
“Kami berharap kehadiran pemerintah bisa langsung melihat kondisi di lapangan dan memberikan solusi. Jangan sampai banjir ini terus menjadi masalah tahunan tanpa penyelesaian,” ucap Hendra.
Menurut warga, penanganan sementara seperti penyedotan air atau pembersihan saluran tidak cukup. Diperlukan solusi permanen dan terencana, termasuk penataan ulang drainase, pelebaran saluran air, serta koordinasi lintas wilayah agar aliran air tidak terhambat.

Hingga Senin siang, genangan air masih terlihat di sejumlah titik dan warga terus bersiaga mengantisipasi hujan susulan. Mereka berharap, perhatian serius dari pemerintah daerah dapat segera diwujudkan agar Perumahan Graha Kayu Agung terbebas dari ancaman banjir yang terus menghantui setiap tahunnya.









