Indonesia Siap Kirim 8.000 TNI ke Gaza, Dunia Kaget: Berani Ambil Risiko Besar?

Avatar photo

Kamis, 12 Februari 2026 - 09:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tentara Indonesia

Tentara Indonesia

Jakarta, Metrosiar – Indonesia mendadak menjadi pusat perhatian dunia. Sorotan tajam media internasional mengarah ke Jakarta setelah pemerintah menyatakan kesiapan mengirimkan hingga 8.000 personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke Jalur Gaza, Palestina.

Langkah ini bukan sekadar diplomasi biasa. Indonesia disebut-sebut sebagai negara pertama yang siap mendaratkan pasukan dalam Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) di tengah bara konflik Gaza yang belum benar-benar padam. Publik pun terbelah: ini bukti keberanian dan komitmen kemanusiaan, atau keputusan berisiko tinggi yang bisa menyeret Indonesia lebih jauh ke pusaran konflik global?

TNI AD Mulai Bergerak, 5.000–8.000 Personel Disiapkan

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak mengonfirmasi bahwa TNI AD telah mulai melakukan persiapan internal. Pelatihan intensif dilakukan sambil menunggu keputusan final dari Mabes TNI dan Presiden.

“Sudah mulai berlatih orang-orang yang kemungkinan nanti jadi pasukan perdamaian. Korps zeni, kesehatan, yang biasa bertugas dalam misi perdamaian, kami siapkan,” ujar Maruli di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Meski demikian, Maruli menegaskan pihaknya hanya bertugas menyiapkan pasukan. Keputusan akhir tetap berada di tingkat komando tertinggi.

Di sisi lain, Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita menekankan bahwa Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam misi perdamaian PBB seperti UNIFIL. Personel yang akan diberangkatkan disebut berasal dari satuan-satuan berpengalaman.

Baca juga:  Presiden Prabowo Bertemu Raja Abdullah II di Yordania, Bahas Dukungan Palestina dan Kerja Sama Strategis

Namun satu hal yang belum jelas: kapan dan dalam skema apa pasukan itu benar-benar diberangkatkan?

Istana Masih Hitung Risiko

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut angka 8.000 personel memang sedang dibahas. Namun belum ada keputusan final.

“Belum, sedang dibicarakan. Tapi ada kemungkinan kita akan kurang lebih di angka 8.000 itu,” katanya.

Pernyataan ini memunculkan tanda tanya besar. Jika benar direalisasikan, pengerahan ribuan pasukan ke Gaza akan menjadi salah satu operasi luar negeri terbesar dalam sejarah militer Indonesia.

Apakah Indonesia siap menghadapi konsekuensi politik, keamanan, dan diplomatiknya?

Kemlu Tegaskan Fokus Kemanusiaan

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan bahwa peran Indonesia akan fokus pada bantuan kemanusiaan, rekonstruksi, dan mendukung gencatan senjata.

“Lebih fokus pada humanitarian, bantuan rekonstruksi, dan mendukung gencatan senjata,” ujar Juru Bicara Kemlu Vahd Nabyl Achmad Mulachela.

Namun publik bertanya-tanya, mungkinkah pasukan benar-benar hanya menjalankan fungsi kemanusiaan di wilayah yang masih rawan eskalasi?

Kemlu juga mengakui belum ada timeline maupun jumlah final pasukan yang akan diberangkatkan.

Baca juga:  Sungguh Malang Trump Disoraki Saat Serahkan Trofi Juara Piala Dunia 2026 ke Spanyol

Media Israel dan Barat Sorot Indonesia

Langkah Indonesia langsung menjadi headline media asing.
The Jerusalem Post menulis: “Indonesia to be first peacekeeping contributor to Gaza’s International Stabilization Force.”

The Times of Israel melaporkan kesiapan 5.000 hingga 8.000 tentara Indonesia dalam skema rencana perdamaian yang disebut terkait fase kedua gencatan senjata.

Bahkan The Guardian Inggris ikut mengulasnya dalam artikel berjudul: “Indonesia prepares to send up to 8,000 troops to Gaza as part of Trump plan.”

Fakta bahwa Indonesia menjadi negara pertama yang disebut siap bergerak secara konkret membuat posisi Jakarta berada di panggung geopolitik yang sangat sensitif.

Komitmen Palestina atau Ujian Terbesar Diplomasi RI?

Istana menegaskan komitmen Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina. Indonesia juga disebut bergabung bersama tujuh negara Muslim lain dalam Board of Peace (BoP).

Namun langkah ini bisa menjadi ujian terbesar diplomasi Indonesia dalam satu dekade terakhir.

Di tengah dinamika politik global, pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia peduli pada Palestina — melainkan sejauh mana Indonesia siap menanggung risiko nyata di medan konflik Gaza.

Dunia memperhatikan.
Rakyat menunggu kejelasan.
Dan sejarah mungkin sedang ditulis.

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Terungkap! Ini Profil Kampus Gibran, MDIS Singapura, Benarkah Kontroversial?
MDIS Tegaskan Gibran Lulusan Singapura, Tapi Putusan MK Bikin Polemik Makin Panas
Hari Hak untuk Tahu: Perjalanan Panjang Menuju Keterbukaan Informasi
Serangan Rusia-Ukraina Meningkat, WNI Diminta Waspada
Mahfuz Sidik Prediksi Perang Dingin Baru AS-Tiongkok dalam 5-15 Tahun
Markas Baru Ronaldinho di Italia: Stadio Bruno Benelli Siap Jadi Panggung Comeback R10
Ronaldinho Comeback di Usia 46 Tahun, Bidik Gol ke-300 Bersama Ravenna FC
Sungguh Malang Trump Disoraki Saat Serahkan Trofi Juara Piala Dunia 2026 ke Spanyol
Berita ini 52 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:28 WIB

Terungkap! Ini Profil Kampus Gibran, MDIS Singapura, Benarkah Kontroversial?

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:48 WIB

MDIS Tegaskan Gibran Lulusan Singapura, Tapi Putusan MK Bikin Polemik Makin Panas

Senin, 28 September 2026 - 09:59 WIB

Hari Hak untuk Tahu: Perjalanan Panjang Menuju Keterbukaan Informasi

Selasa, 22 September 2026 - 10:32 WIB

Serangan Rusia-Ukraina Meningkat, WNI Diminta Waspada

Minggu, 6 September 2026 - 15:21 WIB

Mahfuz Sidik Prediksi Perang Dingin Baru AS-Tiongkok dalam 5-15 Tahun

Berita Terbaru

Hukum & Kriminal

Operasi Patuh Jaya 2026 Dimulai, 2.938 Personel Gabungan Dikerahkan

Senin, 26 Okt 2026 - 11:31 WIB

Pemerintahan

Mantan Panglima TNI Widodo AS Dimakamkan, Sejumlah Tokoh Hadir

Senin, 26 Okt 2026 - 11:16 WIB

Hukum & Kriminal

BYD Tabrak Beruntun, Ojol Terlindas di Panglima Polim

Senin, 26 Okt 2026 - 11:01 WIB

Hukum & Kriminal

54 Ton Batu Hitam Diduga Disamarkan sebagai Kemiri, 5 Orang Ditangkap

Sabtu, 24 Okt 2026 - 18:28 WIB