Trump Tegaskan Kesepakatan TikTok Masih Terbuka, Tenggat Waktu Diperpanjang Hingga 2025

Kamis, 10 April 2025 - 10:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Trump tegaskan kesepakatan TikTok-AS masih terbuka, divestasi ByteDance diperpanjang hingga Juni 2025 demi alasan keamanan nasional. (Aplikasi TikTok/Pixabay)

Trump tegaskan kesepakatan TikTok-AS masih terbuka, divestasi ByteDance diperpanjang hingga Juni 2025 demi alasan keamanan nasional. (Aplikasi TikTok/Pixabay)

 

Metrosiar – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa proses pemisahan operasional TikTok dari induk perusahaannya di China, ByteDance, masih berlangsung dan belum dibatalkan.

Ia menambahkan bahwa sejumlah perusahaan besar di Amerika siap mengambil alih TikTok, namun pelaksanaan kesepakatan tersebut bergantung pada dinamika hubungan AS-China.

TikTok, dengan sekitar 170 juta pengguna di AS, kembali menuai sorotan terkait isu keamanan data dan dugaan kedekatannya dengan pemerintah China. Untuk alasan keamanan nasional, pemerintah AS meminta ByteDance melepaskan kendali atas TikTok di wilayah Amerika.

Trump memperpanjang tenggat waktu divestasi hingga 19 Juni 2025. Jika tidak tercapai kesepakatan hingga waktu tersebut, TikTok terancam dilarang di AS.

Baca juga:  DPR Soroti Food Tray Impor China untuk Program MBG, Dorong Gunakan Produk Lokal

Rencana saat ini mencakup pembentukan entitas baru yang berbasis di Amerika Serikat dengan kepemilikan mayoritas oleh investor lokal, guna mengurangi pengaruh China dalam pengelolaan aplikasi tersebut.

Tetapi, langkah Trump dikritik oleh sejumlah senator. Senator Mark Warner dan Ed Markey meragukan legalitas perpanjangan tenggat waktu yang dilakukan presiden. Bahkan, upaya Markey untuk memperpanjang batas waktu secara legislatif hingga Oktober gagal disetujui Senat.

Ketua Komite Intelijen Senat, Tom Cotton, memperingatkan investor AS agar benar-benar memutus hubungan bisnis dengan China jika ingin terlibat dalam pengambilalihan TikTok.

Ia juga menekankan Kongres tidak akan memberikan perlindungan hukum bagi investor yang tetap berhubungan dengan entitas yang memiliki kaitan dengan pemerintah Tiongkok.

Baca juga:  Jelang Imlek, Pasar Glodok Ramai dan Memerah

Sementara itu, pembahasan kesepakatan antara ByteDance dan investor Amerika masih berlanjut. Tetapi, keberhasilan kesepakatan tersebut tetap memerlukan persetujuan dari pemerintah China.

Selain itu, penyelesaian ketegangan dagang antara AS dan China juga dianggap berperan dalam kelangsungan proses ini.

Sesuai undang-undang yang berlaku, TikTok semestinya dihentikan operasinya pada 19 Januari 2025 jika ByteDance belum melakukan divestasi.

Tetapi, setelah Trump kembali menjabat sebagai Presiden pada 20 Januari, ia memutuskan untuk tidak menegakkan larangan itu. Bahkan, Departemen Kehakiman AS telah mengizinkan Apple dan Google untuk tetap menyediakan TikTok di toko aplikasi mereka.(*)

Editor : Konrad

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Geger Penembakan di Gala Dinner Gedung Putih, Ini Sosok Cole Tomas Allen, Sang Guru Terbaik yang Menjadi Pelaku
Harga Emas Terpukul, Lonjakan Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu
Kapolri Turun ke Cikupa, Ungkap Fakta Penting soal Buruh dan Investasi
Ngada Dibidik Investor, Ketua DPRD Bongkar Potensi Besar yang Belum Tergarap
Ngada Mulai Dilirik! Dewi Cokorda Sentil Peluang Investasi Pariwisata
Optimalkan Layanan Jasa Perbankan, Pemkab Ngada dan Bank NTT Teken PKS
Awas! Share Video Serangan di Saudi Bisa Dipidana
Haji 2026 Tetap Jalan di Tengah Konflik Timur Tengah, Ini Jaminan Saudi
Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan pemisahan TikTok dari ByteDance masih berjalan dan belum dibatalkan. Ia memperpanjang tenggat waktu divestasi hingga 19 Juni 2025 untuk memberi kesempatan tercapainya kesepakatan antara investor AS dan ByteDance. Langkah ini diambil sebagai upaya menjaga keamanan nasional dari potensi pengaruh pemerintah China. Meski demikian, sejumlah anggota Senat mengkritik kebijakan ini dan mempertanyakan kewenangan hukum presiden dalam memperpanjang tenggat waktu. Negosiasi terus berlangsung dengan berbagai faktor, termasuk persetujuan dari China dan kondisi hubungan dagang kedua negara.

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 15:44 WIB

Geger Penembakan di Gala Dinner Gedung Putih, Ini Sosok Cole Tomas Allen, Sang Guru Terbaik yang Menjadi Pelaku

Senin, 20 April 2026 - 07:46 WIB

Harga Emas Terpukul, Lonjakan Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

Rabu, 15 April 2026 - 06:50 WIB

Kapolri Turun ke Cikupa, Ungkap Fakta Penting soal Buruh dan Investasi

Rabu, 15 April 2026 - 00:41 WIB

Ngada Dibidik Investor, Ketua DPRD Bongkar Potensi Besar yang Belum Tergarap

Selasa, 14 April 2026 - 21:14 WIB

Ngada Mulai Dilirik! Dewi Cokorda Sentil Peluang Investasi Pariwisata

Berita Terbaru

Foto Ilustrasi/Gemini

Hukum & Kriminal

Daycare Little Aresha, Ruang Penitipan yang Menjelma Jadi Labirin Trauma

Minggu, 26 Apr 2026 - 17:28 WIB

Petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api yang melalap area gudang, dengan kobaran api masih terlihat cukup besar di latar belakang.

Peristiwa & Bencana

Gudang Packaging di Sepatan Tangerang Dilalap Api, 8 Unit Damkar Dikerahkan!

Minggu, 26 Apr 2026 - 17:07 WIB