Sejarah Pembangunan Jalan Tol di Indonesia: Dari Gagasan 1950-an hingga Kenyataan di Era Modern

Avatar photo

Selasa, 1 April 2025 - 20:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gagasan jalan tol di Indonesia bermula pada 1950-an dari Soediro. Jalan Tol Jagorawi, yang pertama, diresmikan pada 1978, kini jaringan tol luas. (Ilustrasi)

Gagasan jalan tol di Indonesia bermula pada 1950-an dari Soediro. Jalan Tol Jagorawi, yang pertama, diresmikan pada 1978, kini jaringan tol luas. (Ilustrasi)

 

Metrosiar – Pembangunan jalan tol di Indonesia dimulai dengan gagasan yang muncul sejak era 1950-an, meski baru terwujud pada tahun 1978.

Jalan Tol Jagorawi, yang menghubungkan Jakarta, Bogor, dan Ciawi, menjadi jalan tol pertama di Indonesia.

Pada tahun 1955, Wali Kota Jakarta, Soediro, mengusulkan pembangunan jalan tol sebagai cara untuk menambah pendapatan bagi pembangunan kota.

Pada tahun 1970, Menteri Pekerjaan Umum, Sutami, mengajukan ide pembangunan jalan tol berbayar untuk mengatasi kemacetan yang semakin parah.

Pada tahun 1973, pembangunan Jalan Tol Jagorawi dimulai, dan pada 1978, Presiden Soeharto meresmikan jalan tol pertama ini.

Program pembangunan jalan tol sempat terhenti pada tahun 1997 akibat krisis moneter, namun pada 2002, pemerintah kembali melanjutkan proyek infrastruktur ini dengan menerbitkan Keputusan Presiden.

Pada 2004, pemerintah mengesahkan Undang-Undang tentang Jalan yang mendirikan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), yang kemudian dibentuk pada tahun 2005 sebagai regulator jalan tol di Indonesia.

Saat ini, Indonesia memiliki sejumlah jalan tol besar, seperti Tol Trans Jawa, Tol Trans Sumatera, serta jalan tol di Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Kehadiran jalan tol telah mempercepat perjalanan, terutama saat musim mudik Lebaran, dengan mengurangi waktu tempuh yang dulunya bisa memakan waktu berjam-jam.

Baca juga:  BRI Gelar Pelatihan Pupuk Kompos di Bali, Perkuat Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Ide Awal Soediro yang Menginspirasi Pembangunan Jalan Tol

Gagasan jalan tol pertama kali dicetuskan oleh Soediro, yang menjabat sebagai Wali Kota Jakarta pada tahun 1950-an.

Pada saat itu, Jakarta menghadapi masalah kepadatan penduduk yang sangat tinggi, dengan sekitar 1,5 juta jiwa tercatat di kota ini.

Untuk mengatasi kesulitan pendanaan, Soediro mengusulkan penerapan jalan berbayar, yang akan mengenakan biaya bagi setiap kendaraan yang melintas.

Meskipun ide ini didasarkan pada konsep jalan tol yang sudah ada di luar negeri, terutama di Amerika Serikat, usulan Soediro mendapat penolakan dari sejumlah anggota DPRD Jakarta yang menganggapnya akan memberatkan masyarakat.

Penentangannya bahkan merujuk pada kenangan sejarah ketika jalan berbayar diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap pedagang Tionghoa.

Baca juga:  Servis Pembuka MasGibol Meledak! SPENDU CUP I Resmi Dibuka, Arena Voli Putri Ngada Langsung Membara

Meskipun ide jalan tol Soediro gagal terealisasi pada saat itu, gagasannya membuka jalan bagi pembangunan jalan tol berbayar di Indonesia pada tahun 1973.

Dalam menghadapi peningkatan jumlah penduduk dan kendaraan di Jakarta, Menteri Sutami akhirnya memutuskan untuk membangun jalan tol Jagorawi, yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor dan Ciawi.

Pembangunan jalan tol pertama ini berdampak besar, tidak hanya mengurangi kemacetan, tetapi juga memberikan kontribusi pada pendapatan negara.

Kini, setelah lebih dari dua dekade, jalan tol telah menjadi bagian penting dari infrastruktur transportasi di Indonesia.

Dengan total panjang lebih dari 2.893 km di seluruh negeri, keberadaan jalan tol sangat membantu kelancaran arus mudik dan perjalanan sehari-hari warga Indonesia.

Atas dasar inilah, warga Indonesia seharusnya berterima kasih kepada Soediro, yang meskipun ide awalnya tidak berhasil, telah meletakkan dasar penting bagi sistem jalan tol yang kini sangat berguna bagi mobilitas masyarakat.(*)

Editor : Nedu Wodo

Sumber Berita: CNBC Indonesia

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Omoda & Jaecoo Optimis raih target 4000 SPK di GIIAS 2026, antusiasme konsumen terus meningkat
BAZNAS Kabupaten Tangerang Dukung Khitanan Massal dan Gebyar Bakti Sosial RW 05 Kutabaru
Viral! Kereta Nusantara Explorer Hadir dengan Kabin Hotel, Lounge Piano, dan Balkon VIP
JAECOO OMODA Tampil percaya diri di GIIAS 2026, minat Konsumen terus meningkat.
DP3AKKB Provinsi Banten: Gebyar Bakti Sosial RW 05 Kutabaru, Wujud Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat
Lurah Kutabaru Ai Nurmayati: Gebyar Bakti Sosial RW 05 Jadi Inspirasi Menyambut HUT RI ke-81
Rumah Zakat Tangerang Salurkan 100 Paket Makan Fidyah dan Buka Layanan Kesehatan di Khitanan Massal PKK RW 05 Kutabaru
85 Anak Ikuti Khitanan Massal Gratis di Kutabaru Pasarkemis, Bupati Tangerang Beri Apresiasi
Berita ini 44 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 11:17 WIB

Omoda & Jaecoo Optimis raih target 4000 SPK di GIIAS 2026, antusiasme konsumen terus meningkat

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:37 WIB

BAZNAS Kabupaten Tangerang Dukung Khitanan Massal dan Gebyar Bakti Sosial RW 05 Kutabaru

Senin, 3 Agustus 2026 - 06:05 WIB

Viral! Kereta Nusantara Explorer Hadir dengan Kabin Hotel, Lounge Piano, dan Balkon VIP

Minggu, 2 Agustus 2026 - 15:38 WIB

JAECOO OMODA Tampil percaya diri di GIIAS 2026, minat Konsumen terus meningkat.

Minggu, 2 Agustus 2026 - 13:33 WIB

DP3AKKB Provinsi Banten: Gebyar Bakti Sosial RW 05 Kutabaru, Wujud Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat

Berita Terbaru