Demo “No Kings” Guncang AS, Trump Balas dengan Video AI

Avatar photo

Minggu, 19 Oktober 2025 - 13:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden AS Donald Trump (Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein/File Photo Purchase Licensing Rights)

Presiden AS Donald Trump (Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein/File Photo Purchase Licensing Rights)

Metrosiar – Gelombang protes besar-besaran mengguncang Amerika Serikat (AS) akhir pekan ini. Jutaan warga turun ke jalan di seluruh 50 negara bagian untuk menyerukan “No Kings” — simbol penolakan terhadap gaya kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dinilai otoriter.

Aksi yang diikuti sekitar tujuh juta orang itu berlangsung serentak, mulai dari New York hingga Los Angeles, bahkan menjalar ke kota-kota kecil termasuk di sekitar kediaman Trump di Florida. Para demonstran menyerukan agar demokrasi dijaga dari ancaman kekuasaan tunggal.

“Beginilah demokrasi!” teriak massa di Washington D.C., berdekatan dengan Gedung Capitol, yang hingga kini masih ditutup akibat kebuntuan legislatif selama tiga pekan. Slogan lain yang menggema di jalan-jalan ibu kota adalah, *“Hey hey, ho ho, Donald Trump has to go!”*

Banyak demonstran membawa bendera Amerika Serikat, beberapa di antaranya dikibarkan terbalik sebagai tanda keresahan. Spanduk dan poster berwarna-warni memenuhi jalan, berisi pesan “Protect Democracy” dan tuntutan agar pemerintahan AS menghapus **badan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE)** yang dinilai menjadi simbol kerasnya kebijakan anti-imigran Trump.

Baca juga:  Tebus Sembako Cuma Setengah Harga, Warga Pasar Kemis Diserbu Paket Murah Jelang Idul Adha

 

Trump Balas dengan Video AI

Menanggapi protes tersebut, Donald Trump justru memposting sebuah video buatan kecerdasan buatan (AI) di platform media sosialnya, Truth Social. Video itu menggambarkan dirinya sebagai seorang raja yang gagah mengendarai jet tempur bertuliskan *“King Trump.”*

Dalam video berdurasi 19 detik tersebut, Trump tampak mengenakan mahkota emas, lalu melemparkan sesuatu dari pesawatnya yang menyerupai kotoran ke arah kerumunan demonstran. Video itu awalnya diunggah oleh akun X (Twitter) bernama @Xerias_X, sebelum kemudian dibagikan ulang oleh Trump tanpa keterangan tambahan.

Langkah Trump ini memicu kontroversi baru. Banyak pihak menilai unggahan tersebut sebagai sindiran balik terhadap gerakan “No Kings,” sementara sebagian lain menganggapnya sebagai bentuk arogansi politik di tengah krisis kepercayaan publik.

 

Reaksi Politik di Kongres

Ketua DPR AS, Mike Johnson, yang juga sekutu dekat Trump, menanggapi aksi massa dengan nada mengejek. Ia menyebut demonstrasi tersebut sebagai bentuk “kebencian terhadap Amerika.”

Baca juga:  Dunia di Ambang Kejutan Besar? Mahfuz Sidik Ungkap Sinyal Bahaya Politik Global Pasca Venezuela

“Protes ini hanya menyatukan kaum Marxis, Sosialis, pendukung Antifa, anarkis, dan kelompok pro-Hamas dari sayap kiri Partai Demokrat,” ujar Johnson kepada awak media.

Pernyataan itu segera dibalas para demonstran dengan ejekan dan sorakan, menandakan semakin dalamnya polarisasi politik di negeri Paman Sam menjelang pemilihan presiden mendatang.

 

Aksi “No Kings” Jadi Simbol Perlawanan

Gerakan “No Kings” kini dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap gaya kepemimpinan yang dianggap berpotensi mengikis nilai-nilai demokrasi di AS. Dengan jutaan warga yang turun ke jalan secara serentak, aksi ini disebut-sebut sebagai salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah modern Amerika.

Meski berlangsung damai, protes tersebut menunjukkan ketegangan politik yang terus meningkat di bawah pemerintahan Trump, terutama terkait isu **imigrasi, kebebasan sipil, dan penyalahgunaan kekuasaan eksekutif**.

Para pengamat menilai, bagaimana Trump dan pemerintahannya merespons aksi ini akan menjadi ujian penting bagi masa depan demokrasi Amerika Serikat.

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hari Hak untuk Tahu: Perjalanan Panjang Menuju Keterbukaan Informasi
Indonesia Bidik Investor Data Center, Potensi Listrik Papua 23 GW
Akses Keuangan 92,76%, Annisa Mahesa Bongkar Masalah yang Masih Mengintai!
36 Titik Jalan Dicor, Supriyatna: “Ini Baru Luar Biasa”
Serangan Rusia-Ukraina Meningkat, WNI Diminta Waspada
Musancab 2026, PKB Ngada Panaskan Mesin Politik: Bidik Tambahan Kursi di Legislatif
Telepon Misterius Setop Rapat, Tak Lama Purbaya Dicopot dari Menkeu
Mahfuz Sidik Prediksi Perang Dingin Baru AS-Tiongkok dalam 5-15 Tahun
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 09:59 WIB

Hari Hak untuk Tahu: Perjalanan Panjang Menuju Keterbukaan Informasi

Senin, 28 September 2026 - 09:29 WIB

Indonesia Bidik Investor Data Center, Potensi Listrik Papua 23 GW

Jumat, 25 September 2026 - 14:05 WIB

Akses Keuangan 92,76%, Annisa Mahesa Bongkar Masalah yang Masih Mengintai!

Selasa, 22 September 2026 - 23:25 WIB

36 Titik Jalan Dicor, Supriyatna: “Ini Baru Luar Biasa”

Selasa, 22 September 2026 - 10:32 WIB

Serangan Rusia-Ukraina Meningkat, WNI Diminta Waspada

Berita Terbaru

Internasional

Hari Hak untuk Tahu: Perjalanan Panjang Menuju Keterbukaan Informasi

Senin, 28 Sep 2026 - 09:59 WIB

Bisnis & Investasi

Indonesia Bidik Investor Data Center, Potensi Listrik Papua 23 GW

Senin, 28 Sep 2026 - 09:29 WIB

Perdagangan Karbon: Peluang Ekonomi Hijau Capai Rp3.000 Triliun di Indonesia (Ilustrasi/Unsplash)

Bisnis & Investasi

AMDAL Jadi Kunci Proyek Aman, Ini Risiko Jika Diabaikan!

Senin, 28 Sep 2026 - 08:29 WIB

Hukum & Kriminal

Wakil Rektor IT&B Karo Ditemukan Tewas, Mobil dan HP Hilang

Senin, 28 Sep 2026 - 01:04 WIB