Metrosiar – Situasi Ibu Kota Jakarta dan sejumlah daerah di Indonesia memanas akibat aksi demonstrasi besar-besaran yang berlangsung sejak (28/8/25) lalu.
Gelombang protes yang dipicu oleh kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah dan DPR tersebut semakin mencekam setelah terjadi bentrokan antara aparat kepolisian dengan massa demonstran.
Aksi ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari buruh, pengemudi ojek online (ojol), mahasiswa, hingga pelajar. Rakyat menilai wakil rakyat sudah terlalu jauh membuat kebijakan yang dinilai membebani masyarakat kecil.
Kerusuhan Meluas
Bentrokan yang terjadi tidak hanya memakan korban luka dari pihak demonstran, tetapi juga dari aparat kepolisian. Situasi semakin sulit dikendalikan ketika gedung DPRD, kendaraan polisi, halte, serta sejumlah fasilitas umum terbakar.
Bahkan, beberapa rumah anggota DPR dan pejabat negara ikut menjadi sasaran massa. Aksi penjarahan dilaporkan terjadi di beberapa lokasi, termasuk di kediaman sejumlah figur publik.
Penyebab Utama
Menurut Prof. Mahfud, akar permasalahan ini adalah akumulasi kekecewaan rakyat terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil. Ia menilai, protes masyarakat sudah sering terjadi, namun tidak ada solusi konkret dan proses penegakan hukum yang jelas.
“Ini adalah ledakan dari rasa frustrasi yang menumpuk. Rakyat merasa keadilan tidak berpihak pada mereka,” ujarnya.
Demo Diprediksi Terus Berlanjut
Berdasarkan informasi yang beredar, aksi unjuk rasa masih akan terus berlangsung hingga (5/9/25). Massa menuntut agar DPR segera diturunkan dan kebijakan-kebijakan yang merugikan rakyat dibatalkan.
Hingga saat ini, situasi masih belum kondusif. Aparat terus berupaya mengendalikan keadaan, sementara masyarakat menunggu langkah tegas pemerintah untuk meredam konflik.*









