Metrosiar – Filosof Yunani kuno (Plato), ia mengungkapkan bahwa hidup bukanlah tentang berjalan di jalan yang mulus tanpa hambatan, melainkan tentang bagaimana kita menghadapi tanjakan curam, jalan berbatu, dan badai yang terus menghadang, alias dinamika hidup yang penuh onak duri.
Bahkan, sang filosof Plato-pun telah mengajarkan kita, bahwa dalam kesulitanlah kita akan menemukan kekuatan, dalam kegagalan kita juga akan menemukan kebijaksanaan, dan dalam rintangan kita akan menemukan strategi untuk melangkah jauh lebih maju.
Seperti seorang pandai besi yang ingin menciptakan pedang yang tajam dan kuat. Ia tidak bisa sekadar membentuk logam dengan tangan kosong, namun ia juga harus menempanya dengan api yg membara, memukulnya berkali-kali dengan palu, dan merendamnya dalam air dingin agar besi yang ia tempanya itu semakin kokoh.
Begitu pula manusia, tanpa ujian, tanpa kesulitan, kita tidak akan pernah menjadi pribadi yang tangguh dan kuat
Ketika kesulitan datang, maka kita diajarkan tentang soal ketahanan, yakni bagaimana agar kita tetap berdiri saat segala sesuatu terasa berat, bagaimana terus melangkah meskipun jalan terasa gelap.
Kegagalan pun bukan akhir, melainkan awal dari kebijaksanaan, karena dari setiap kejatuhan, maka kita belajar untuk memahami kelemahan, memperbaiki diri, dan bisa bangkit dengan cara yang lebih baik.
Sementara rintangan bukan penghalang, melainkan kesempatan untuk berpikir lebih cerdas, yakni untuk menemukan strategi baru, dan sekaligus sebagai ajang pembuktian bahwa kita lebih kuat dari yang kita bayangkan.
Sang filosof Plato telah mengngatkan kita, agar kita jangan takut pada kesulitan, jangan menyerah pada kegagalan, dan jangan pula menghindari rintangan.
Semua itu bukan untuk melemahkan diri kita, tetapi untuk membentuk diri kita agar menjadi pribadi yang lebih kuat. Karena hanya mereka yang berani menghadapi ujian hidup dengan hati yang kuat dan pikiran yang bijak, yang akhirnya akan mencapai puncak tertinggi dari potensinya.
Bahkan dalam kehidupan, kita seringkali menghadapi masa-masa sulit, penuh kesedihan, dan kegagalan. Namun, seperti langit yang penuh dengan bintang-bintang yang hanya bisa terlihat ketika gelap, momen-momen penuh tantangan itulah yang seringkali menjadi waktu terbaik untuk menemukan kekuatan dan potensi diri kita yang tak terlihat sebelumnya.
Bahkan dalam kegelapan, kita juga bisa melihat terang. Bahkan dalam situasi kesulitan, kita juga bisa menemukan pelajaran berharga.
Namun sebaliknya, ketika segala sesuatu berjalan dengan mudah dan mulus, kita mungkin tidak terlalu memperhatikan detail atau hal-hal yang sebenarnya penting untuk pertumbuhan pribadi kita. Tapi, ketika kita berada dalam situasi yang sulit, kita terpaksa harus mencari jalan keluar dan menggali potensi dalam diri kita.
Dalam “kegelapan” itu, kita belajar tentang ketahanan hidup, kesabaran, dan cara untuk menemukan solusi yang terbaik demi untuk mengatasi masalah yang ada dan yang kita hadapi.
Mungkin kita tidak bisa menghindari kegelapan, tetapi kita dapat memilih untuk melihatnya sebagai kesempatan untuk menemukan keindahan yang tersembunyi.
Bintang-bintang tidak bisa bersinar tanpa adanya kegelapan yang melatar-belakanginya. Begitu juga dengan hidup kita, kita seringkali tidak menyadari kekuatan dan kemampuan diri kita yang sejati sampai kita menghadapi tantangan yang memaksa kita untuk bangkit dan berkembang.
Ketika semuanya terasa suram dan penuh kesulitan, ingatlah bahwa bintang-bintang tetap bersinar, bahkan jika kita tidak bisa melihatnya dalam sekejap. Tapi, keindahan dan kesempatan bisa datang setelah kita melewati masa-masa sulit. Seperti halnya langit yang penuh bintang, hidup ini menawarkan banyak peluang dan keajaiban yang hanya akan terlihat ketika kita mampu melewati kegelapan itu dengan penuh keyakinan.
Rasa Sakit Yang Mendera
Bala, musibah dan rasa sakit, baik itu sakit yang bersifat fisik, maupun sakit yang bersifat non fisik (tekanan psikologi dan ledakan emosional), hal itu mendorong kita untuk tumbuh, merenung, dan mengevaluasi cara kita melihat dunia.
Tanpa rasa sakit, kita mungkin akan terjebak dalam kenyamanan sesaat atau kebiasaan yang tidak memicu perubahan signifikan dalam diri kita.
Rasa sakit dapat menjadi katalisator untuk perubahan besar bagi perjalanan hidup kita dan sekaligus membuka mata kita terhadap aspek kehidupan yang sebelumnya tidak pernah kita sadari.
Oleh karena itu, betapa pentingnya kita untuk membangun kesadaran diri. Sedangkan kesadaran yang dimaksud disini, bukan hanya tentang pengetahuan atau pemahaman intelektual, melainkan pemahaman yang datang dari pengalaman langsung, yaitu soal kepedihan dan cobaan hidup.
Pada realitanya, ketika kita menghadapi tantangan atau kesulitan, kita dipaksa untuk berhadapan dengan diri kita sendiri, nilai-nilai kita, dan tujuan hidup kita.
Dalam proses ini, maka kita banyak belajar tentang ketahanan, kelemahan, dan cara-cara kita beradaptasi dengan dunia di sekitar kita. Sedangkan kesadaran sejati seringkali terlahir dari perjuangan dan penderitaan, yang memaksa kita untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda dan yang lebih luas.
Rasa sakit juga dapat menjadi pengingat kita, yakni akan keterbatasan diri kita sebagai manusia. Tanpa mengalami rasa sakit atau penderitaan, kita mungkin tidak akan sepenuhnya menghargai kebahagiaan, kedamaian, atau keberhasilan yang kita capai.
Kontras atau paradoksal antara sakit dan bahagia memberikan kita pemahaman yang lebih dalam tentang nilai-nilai dan arti dari keduanya. Karena, rasa sakit mengajarkan kita untuk lebih empatik terhadap orang lain, karena kita tahu apa rasanya berjuang dalam situasi kepahitan dan kepedihan.
Bahkan dalam konteks sejarah perjalanan hidup seirang filosof Yunani kuno (Plato), ia pernah merasakan sakit secara non fisik (sakit batin), dan lalu ia berkata “lebih mudah memaafkan musuh daripada memaafkan seorang teman.” Seorang murid di Akademi Plato bertanya, “Guru, mengapa lebih sulit memaafkan seorang teman daripada musuh?” Plato tersenyum dan berkata, “Bayangkan seorang musuh kalau ia melempar batu ke arah kita, maka kita akan melihat dari arah mana batu itu datangnya, dan kita bersiap diri, dan kemudian menghindar.
Tapi kini bayangkan tangan yang melempar batu itu adalah tangan sahabat kita sendiri. Dan kita tak pernah mengira itu terjadi, jadi kita tak sempat bersiap, dan luka yang kita terima jauh lebih sakit dan lebih dalam.” Murid-murid Plato-pun terdiam.
Plato melanjutkan, “Dari musuh, kita tak pernah mengharapkan kebaikan. Luka dari mereka hanyalah konsekuensi dari permusuhan yang sudah kita sadari. Tetapi dari seorang teman? Kita pernah percaya, kita pernah berbagi rahasia, kita pernah berbagi tawa dan air mata.
Ketika teman kita itu menyakiti kita, bukan hanya hati kita yang terluka, tetapi juga kepercayaan kita pada persahabatan, pada kebaikan, bahkan pada diri kita sendiri.”
Seorang muridpun bertanya, “Lalu apakah kita tidak seharusnya percaya pada siapa pun?” Sang filosof Plato-pun menggelengkan kepala, “Bukan itu jawabannya. Hidup bukan tentang menghindari luka, tetapi tentang bagaimana kita memilih untuk sembuh.
Memaafkan musuh itu mudah, karena kita tidak pernah menggantungkan harapan pada musuh kita. Tetapi memaafkan teman berarti kita harus berdamai dengan rasa sakit, mengakui bahwa manusia tidak sempurna, dan memberi kesempatan kedua pada kehidupan.” Plato-pun menatap murid-muridnya dengan penuh kebijaksanaan.
“Bahwa pemenang sejati bukanlah mereka yang tak pernah terluka, tetapi mereka yang belajar memaafkan tanpa kehilangan kebijaksanaan. Jika kau bisa memaafkan seorang teman, bukan hanya dia yang kau bebaskan tetapi juga dirimu sendiri.” Para murid Plato-pun terdiam sambil merenungi makna yang begitu dalam. Bahkan mereka sadar, bahwa kebesaran hati tidak terletak pada membalas luka, tetapi pada kemampuan untuk tetap mencintai dunia meskipun pernah tersakiti begitu dalam.
Belajar Dari Pengalaman
Dinamika hidup dan kehidupan manusia di alam jagat raya ini, memang selalu dihiasi dengan berbagai ujian. Oleh karena itu, mari kita untuk belajar dari semua pengalaman.
Sedih dan bahagia memang selalu dipergilirkan, senyum dan tawa datang dan pergi. Bahkan, manusia diuji dengan kenikmatan agar manusia pandai bersyukur. Dibombardir dengan berbagai musikbah dan cobaan, agar kita kuat untuk menahan kesabaran.
Syukur, sabar, ihlas dan tawakal harus menjadi modal untuk mengarungi bahtera kehidupan yang fana di dunia ini. Allah SWT berfirman, “…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…” (QS. Ali Imran: 140).
Bahkan sepanjang perjalanan hidup, sudah barang tentu akan banyak hal yang kita ditemui. Namun, setiap yang kita alami, hendaknya kita dijadikan sebagai pelajaran dan kenangan.
Kepedihan dan kepahitan, kita jadikan sebagai suluh semangat. Sementara kebencian kita jadikan sebagai pemantik keberanian. Sedangkan kebahagiaan, mari kita jadikan sebagai tabungan, yakni agar saat kita sedih yang menghujam, maka ambillah setitik bahagia di jiwa kita agar luka tak dalam dan menganga.
Hidup manusia diantara itu (antara bahagia dan luka). Maka belajarlah dari benci, pedih, kalah, menang dan bahagia, hal itu harus menjadi guru (pengalaman) yang berharga.
Melalui kekalahan, maka kita belajar tentang bangkit dari keterpurukan, menerima kekalahan dan berdamai dengan kenyataan. Dari kemenangan, kita belajar tentang proses meraihnya, menghargai siapa pun yang ikut serta terlibat.
Merayakan kemenangan, hal itu sebagai setoran optimisme dikala hantaman ujian mendera, agar rasa pesimisme tidak mendominasi diri kita. Rasa benci mengajarkan kita tentang betapa lapangnya dada kita, dan mengakui kelemahan diri.
Sayidina Umar bin Khaththab mengungkapkan, “Aku tidak peduli apakah aku sedang mengalami apa yang aku suka atau sedang mengalami apa yang aku benci, Karena aku tidak tahu apakah kebaikan itu ada di dalam apa yang aku suka atau ada di dalam apa yang aku benci.” Allah SWT berfirman, “…Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS. Al-Baqarah: 216).
Yakinilah, bahwa kemudahan akan selalu datang bersama kesulitan. Bersama usaha dan ikhtiar, selalu ada harapan. Ada waktu yang tepat untuk setiap kejadian, karena Allah SWT telah merancang mana yang terbaik untuk makhluk ciptaan, termasuk semua insan.
Ketika kesulitan telah memuncak, jangan pernah menguasai keputusasaan. Sediakan tempat besar untuk mengumpulkan kekuatan. Ketika bahagia terus bersama, maka perbanyaklah bersyukur dan jangan terlena hingga lupa.
Sadarilah sepenuh hati, dunia ini hanya tiga hari. Hari kemarin yang sudah berlalu, hari ini yang sedang kita jalani, dan hari esok yang penuh misteri. Teruslah berbuat bai dan menebar manfaat.
Jadikanlah hari kemarin dan hari ini benar-benar bermakna, rencanakan esok sebaik mungkin untuk menunaikan tugas sebagai hamba.
Abu Hurairah RA berkata, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Bersegeralah kalian untuk mengerjakan amal-amal saleh, karena akan terjadi bencana yang menyerupai malam yang gelap gulata. Yaitu seseorang pada waktu pagi dia beriman namun pada waktu sore dia kafir. Dia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia.”(HR.Muslim).
Pernyataan diatas mengajak kita untuk merenungkan hubungan antara pikiran dan perasaan, serta bagaimana keduanya mempengaruhi cara kita memandang dunia dan diri kita sendiri.
Sementara pikiran merupakan hasil dari proses intelektual dan rasional, sedangkan perasaan lebih bersifat emosional dan intuitif. Tapi, perasaan cenderung lebih mendalam dan lebih kompleks, karena berasal dari pengalaman pribadi dan kekayaan batin yang tak selalu bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Sementara pikiran seringkali berusaha untuk menganalisis, merumuskan, dan memberikan penjelasan, tetapi seringkali pula hasilnya terasa lebih gelap dan kosong.
Seangkan perasaan kita lebih penuh warna dan bisa sangat kaya dalam nuansanya, bahkan berbagai macam emosi seperti cinta, kebahagiaan, kesedihan, kepahitan, dan kemarahan terus mengisi ruang dalam hati kita. Namun, ketika perasaan itu diterjemahkan ke dalam pikiran, ia seringkali kehilangan sebagian besar kedalaman dan kompleksitasnya.
Karena pikiran cenderung mereduksi perasaan menjadi sesuatu yang lebih sederhana, lebih rasional, dan terkadang lebih gelap. Pikiran bisa menjadi bayangan dari perasaan kita karena ia cenderung terbatas pada cara kita memahami dan menganalisis emosi, yang sering kali mengarah pada pemahaman yang lebih dangkal dan lebih terdistorsi.
Pernyataan diatas telah menunjukkan, yakni bagaimana alam pikiran, meskipun sering berfungsi untuk memberikan penjelasan atau solusi, namun seringkali tidak dapat sepenuhnya menangkap esensi dari perasaan yang lebih dalam.
Pikiran bisa terasa lebih kosong atau lebih gelap karena ia berusaha menyusun segala sesuatunya dengan logika, tetapi tidak selalu dapat menggambarkan betapa kuatnya atau betapa pedih dan rumitnya perasaan yang kita alami.
Dalam hal ini, pikiran seringkali menjadi perwakilan yang terbatas dari dunia perasaan yang jauh lebih luas dan penuh ritmik psikologis.
Pernyataan tentang kepedihan diatas, mengingatkan kita untuk lebih menghargai perasaan sebagai elemen yang lebih autentik dan menyeluruh dalam kehidupan kita, yang seringkali lebih sulit dipahami oleh pikiran. Kita seringkali mencoba untuk menyederhanakan atau mengendalikan perasaan kita melalui pikiran, tetapi kadang-kadang kita perlu menerima dan merasakan perasaan kita sepenuhnya tanpa berusaha untuk menafsirkannya dengan cara yang terlalu rasional atau logis.
Bahkan menurut sang psikolog Sigmund Freud, ia menjelaskan “Dari kesalahan ke kesalahan, akhirnya kita bisa menemukan seluruh kebenaran”. Hal itu mengandung gagasan tentang proses belajar manusia melalui pengalaman, terutama dari kegagalan dan kesalahan, karena kesalahan sebagai bagian dari pembelajaran.
Bahkan sang psikolog Sigmund Freud mengingatkan, kesalahan bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya, tetapi justru merupakan bagian alami dari perjalanan manusia untuk memahami kebenaran.
Dalam psikologi maupun kehidupan, setiap kesalahan memberikan pelajaran yang membawa kita lebih dekat pada pemahaman yang lebih mendalam tentang diri kita seutuhnya, memahami orang lain, serta memahami dunia yang lebih luas. Lebih dari itu menurut Sigmund Frend, bahwa kebenaran tidak ditemukan secara instan; ia adalah hasil dari eksplorasi yang berulang, termasuk kegagalan, keraguan, dan revisi pemahaman. Sedangkan kesalahan adalah pendorong kita untuk lebih introspeksi dan koreksi diri, yang memungkinkan kita bisa mendekati kebenaran secara perlahan tapi pasti.
Lebih dari itu, dari kesalahan dan kegagalan, kita juga harus menerimaan sifat manusia yang tidak sempurna. Karena, sifat manusia yang kompleks dan tidak sempurna itu, maka manusia seringkali membuat kesalahan karena adanya konflik dalam pikiran bawah sadar, ketidaksadaran, atau keterbatasan pengetahuan.
Tapi justru, dari proses itulah manusia berkembang dan memperluas wawasannya. Dengan kata lain, kesalahan tidak hanya sekadar kegagalan, tetapi juga sebuah jalan yang mengarahkan manusia untuk memahami kehidupan, belajar dari pengalaman, dan pada akhirnya bisa menemukan apa yang disebut benar dan sempurna itu. (*)
Penulis : Adung Abdul Haris
Editor : Ahmad
Sumber Berita: Adung Abdul Haris









