Jakarta, Metrosiar – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia sekaligus Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, mengingatkan bahwa dampak ketidakpastian geopolitik global akan sangat mempengaruhi situasi politik nasional.
“Penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengawali satu situasi yang bisa kita katakan bahwa tatanan dunia lama benar-benar sudah berakhir,” kata Anis Matta dalam keterangannya, Senin (26/1/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Anis Matta saat memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi DPP dan DPW Partai Gelora bertema Siaga Gelora untuk Indonesia yang digelar secara daring pada Sabtu (24/1/2026) malam.

Menurut Anis Matta, Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai institusi global dan berbagai organisasi multilateral lainnya telah kehilangan peran, sehingga hukum internasional tidak lagi berjalan efektif.
“Akan ada satu kondisi tidak terkendali, kekecewaan, dan tidak ada penyelesaian yang sistematis. Ujung-ujungnya akan terjadi perang dunia,” ujarnya.
Dalam masa transisi global ini, lanjut Anis Matta, Amerika Serikat sebagai negara adidaya menerapkan doktrin baru untuk melindungi keamanan nasionalnya.
“Amerika Serikat ingin mengontrol seluruh benua Amerika dan wilayah lain di dunia agar jalur logistik serta investasi mereka tetap lancar,” katanya.
Rencana penguasaan Greenland, menurut Anis Matta, merupakan upaya untuk mengeluarkan Rusia dari kawasan tersebut sekaligus menghambat investasi China.
“Tata kelola dunia yang dulu berbasis aturan sekarang sudah tidak ada. Tidak ada hukum internasional,” tegasnya.
Ia memprediksi akan terjadi kekacauan di berbagai kawasan dengan tujuan mendestabilisasi dan merusak iklim investasi China yang masif di banyak negara.
“Saya kira sasaran terakhir dari upaya destabilisasi ini adalah kawasan Asia Tenggara. Di sini ada 10 negara, termasuk Indonesia. Konflik Kamboja–Thailand yang berbatasan dengan China itu baru permulaan,” ujarnya.

Karena itu, Anis Matta menilai tahun 2026 akan menjadi tahun yang sangat berat bagi Indonesia dan menjadi periode pendalaman konflik kawasan.
“Namun jika kita melihat peta Indonesia, sesungguhnya masa depan kita adalah dunia Islam, dengan umat mencapai dua miliar jiwa,” katanya.
Ia menyebut volume perdagangan Indonesia dengan negara-negara dunia Islam lebih besar dibandingkan dengan China, Eropa, dan Amerika.
“Karena itu keterlibatan kita dengan dunia Islam menjadi sangat penting, termasuk ikut menyelesaikan konflik Somalia–Somaliland, karena wilayah itu bagian dari jalur distribusi,” jelasnya.
Keterlibatan Indonesia dalam Badan Perdamaian Gaza yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menurut Anis Matta, bertujuan mencegah konflik Palestina–Israel memicu eskalasi perang dunia.
“Perang 12 hari antara Iran dan Israel kemarin sudah kita khawatirkan bisa memicu perang lebih besar karena keduanya memiliki nuklir. Iran juga dekat dengan Pakistan dan Rusia yang sama-sama memiliki senjata nuklir,” katanya.
Selain mempercepat kemerdekaan Palestina dan menghentikan genosida, keikutsertaan Indonesia dalam badan tersebut juga untuk menekan Israel agar taat aturan dan tidak meningkatkan eskalasi konflik di Timur Tengah.
“Situasi yang tidak terkendali di Palestina dan Timur Tengah bisa menjadi pemicu perang dunia yang jauh lebih signifikan dibandingkan perang di Ukraina,” ujarnya.
Menurut Anis Matta, keterlibatan Indonesia merupakan kebijakan strategis untuk mengubah zona konflik menjadi zona pembangunan.
“Saya tekankan bahwa ini akan menjadi tahun yang berat bagi kita semua. Namun Partai Gelora harus memiliki narasi yang kuat bahwa tidak semua tantangan adalah ancaman. Bisa jadi itu peluang, dan tidak semua peluang adalah peluang, bisa jadi itu jebakan. Karena itu kita harus menyiapkan diri menghadapi guncangan-guncangan yang akan datang,” pungkasnya.
Rapat Koordinasi DPP–DPW Partai Gelora ini turut dihadiri Wakil Ketua Umum Fahri Hamzah, Sekretaris Jenderal Mahfuz Sidik, Bendahara Umum Achmad Rilyadi, serta jajaran fungsionaris DPP dan pimpinan DPW Partai Gelora se-Indonesia.









