Jakarta, Metrosiar – Dunia pendidikan kita kembali berduka, bukan karena kehilangan sosok pahlawan, melainkan karena luka lama yang kembali tersayat oleh realita.
Sejak Senin malam (19/1/26), media sosial riuh oleh isak tangis yang tertahan, suara para guru honorer yang merasa martabatnya seolah dikesampingkan oleh angka-angka di atas kertas gaji.
Viralnya video protes mengenai kesenjangan upah antara guru honorer dengan sopir operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi cermin retak bagi janji-janji kesejahteraan yang selama ini didengungkan.
Sebuah Perbandingan yang Mengiris Hati
Dalam sebuah unggahan di akun TikTok @duniapunyacerita_, seorang wanita berbaju ungu dengan suara bergetar menyuarakan jeritan hati ribuan pendidik di pelosok negeri.
Ia tak kuasa menahan getir saat mengetahui bahwa mereka yang memegang kemudi mobil pengangkut makanan mendapatkan apresiasi materi yang jauh lebih layak ketimbang mereka yang memegang pena untuk membentuk masa depan bangsa.
“Izin saya luapkan saja, ternyata gaji driver MBG itu jauh lebih layak daripada teman-teman yang mencerdaskan anak bangsa. Miris hati saya,” ucapnya dalam video yang telah ditonton ratusan ribu kali tersebut.
Ada kegetiran yang mendalam di sana. Bukan karena mereka iri pada rezeki orang lain, melainkan karena mereka bertanya-tanya: Seberapa murah harga sebuah ilmu di negeri ini?
Bertahan di Tengah Ketidakpastian
Realita di lapangan memang memilukan. Meski pemerintah telah menganggarkan insentif sebesar Rp400.000 per bulan pada tahun 2026 ini, angka tersebut bak setetes air di padang pasir bagi mereka yang sudah berkeluarga.
Sementara itu, kabar yang beredar menyebutkan bahwa sopir MBG bisa membawa pulang Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan.
Bagi guru honorer yang memiliki pasangan mapan, mungkin mereka bisa sedikit bernapas lega. Namun, wanita dalam video tersebut mengingatkan kita pada nasib mereka yang menjadikan gaji honorer sebagai satu-satunya tumpuan hidup.
“Bagaimana kabar saudara-saudara saya yang hanya berpatok dari situ?” tanyanya retoris, sebuah pertanyaan yang seharusnya menghujam jantung kebijakan publik kita.
Bangga yang Terluka
Meski dihimpit beban ekonomi dan cibiran dari luar, ada satu hal yang tak luntur: Rasa bangga.
Dengan mata berkaca-kaca, sang guru menegaskan bahwa mereka tetap bangga mengenakan seragam pendidik.
Mereka tetap berdiri di depan kelas, memberikan senyum terbaik bagi murid-muridnya, meski di saku mereka hanya ada sisa uang yang tak cukup untuk makan satu minggu.
Hingga saat ini, pihak Badan Gizi Nasional (BGN) masih membisu terkait isu ini. Namun, diamnya otoritas tidak akan menghapus air mata yang telah jatuh.
Ini bukan sekadar protes soal angka, ini adalah soal kemanusiaan. Jika pengemudi dihargai tinggi karena mengantar makanan fisik, bukankah mereka yang memberi makan “jiwa dan akal” anak-anak kita juga berhak atas kehidupan yang manusiawi?*
Editor : Nedu Wodo
Sumber Berita: Metrosiar









