Bajawa.Metrosiar- Di tengah bangunan Puskesmas Natarandang yang rusak berat akibat gempa bumi, pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kecamatan Wolomeze kini harus tetap berjalan dalam kondisi serba darurat.
Hampir seluruh ruangan di Puskesmas Natarandang tidak lagi bisa digunakan secara normal setelah gempa mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Tenaga kesehatan pun terpaksa mencari jalan keluar agar pelayanan kepada masyarakat tidak ikut lumpuh.
Melihat kondisi tersebut, Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Partai Amanat Nasional (PAN), Kristoforus Loko, turun memberikan bantuan material berupa pasir dan semen untuk pembangunan lantai tenda darurat.
Bantuan itu diharapkan dapat mempercepat penataan ruang pelayanan sementara, sehingga masyarakat tetap bisa mendapatkan pelayanan kesehatan meski harus dilakukan di bawah tenda.
Kristoforus mengatakan, dirinya telah melihat langsung kondisi Puskesmas Natarandang pascagempa. Kerusakan yang terjadi, kata dia, sangat memprihatinkan karena sebagian besar bangunan tidak lagi layak digunakan untuk pelayanan.
“Saya sudah menyaksikan sendiri bahwa akibat gempa pada tanggal 15 Agustus kemarin, Puskesmas Natarandang ini dalam keadaan rusak berat. Dari pengamatan saya, hampir sebagian besar bangunan puskesmas sudah tidak bisa digunakan,” kata Kristoforus Loko kepada media ini melalui pesan WhatsApp, Jumat (28/8/2026).
Menurut politisi PAN tersebut, kerusakan fasilitas kesehatan tidak boleh sampai menghentikan pelayanan kepada masyarakat. Sebab, kebutuhan warga terhadap layanan medis tetap berjalan, bahkan semakin penting di tengah situasi pascabencana.
Ia mengungkapkan, Kepala Puskesmas bersama para tenaga kesehatan sebelumnya telah berupaya mencari solusi dengan menyiapkan pelayanan darurat menggunakan tenda. Namun, kondisi tanah di lokasi menjadi persoalan tersendiri.
Tanah yang mudah retak, ditambah ancaman hujan, membuat tenda darurat membutuhkan lantai yang lebih layak agar aktivitas pelayanan kesehatan dapat berjalan dengan aman dan nyaman.
“Saya dikomunikasikan oleh Ibu Kapus bahwa mereka sedang berupaya melakukan pelayanan darurat menggunakan tenda. Kalau melihat kondisi tanah di sana yang mudah retak, apalagi saat musim hujan, maka saya berinisiatif membantu material ini,” ujarnya.
Kristoforus menegaskan, pelayanan kesehatan tidak mungkin berhenti hanya karena bangunan permanen mengalami kerusakan. Menunggu proses rekonstruksi dari pemerintah, menurutnya, membutuhkan waktu, sementara masyarakat tidak bisa diminta menunda kebutuhan untuk berobat.
“Kalau kita berharap menunggu rekonstruksi dari pemerintah, tentu waktunya lama. Sementara pelayanan kesehatan ini sangat dibutuhkan masyarakat dan tidak bisa ditunda. Meskipun menggunakan tenda darurat, setidaknya lantainya bisa digunakan dengan baik, termasuk saat musim hujan,” katanya.
Ia mengakui bantuan pasir dan semen yang diberikan belum mampu menjawab seluruh kebutuhan Puskesmas Natarandang. Namun, bantuan tersebut diharapkan bisa menjadi langkah awal untuk menciptakan tempat pelayanan darurat yang lebih layak bagi masyarakat.
Bagi Kristoforus, yang paling mendesak saat ini adalah memastikan pelayanan kesehatan tetap hidup dan masyarakat tidak kehilangan akses untuk mendapatkan pertolongan medis hanya karena fasilitas kesehatan mengalami kerusakan.
Di tengah keterbatasan itu, ia juga memberikan apresiasi kepada Kepala Puskesmas dan seluruh tenaga kesehatan yang tetap bertahan menjalankan tugas.
Para petugas kesehatan, kata dia, tidak hanya bekerja di tengah bangunan fasilitas pelayanan yang rusak, tetapi sebagian dari mereka juga merupakan penyintas bencana yang turut merasakan dampak gempa.
“Saya memberikan apresiasi kepada Ibu Kapus dan teman-teman petugas kesehatan yang tetap semangat memberikan pelayanan kepada pasien, meskipun secara pribadi mereka juga merupakan penyintas bencana,” tandasnya.
Pascagempa 15 Agustus 2026, Puskesmas Natarandang menjadi salah satu fasilitas pelayanan publik yang harus berjuang keras untuk tetap beroperasi di tengah kerusakan bangunan.
Kini, ketika bangunan permanen belum dapat digunakan dan proses penanganan jangka panjang masih membutuhkan waktu, tenda darurat menjadi harapan sementara agar pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kecamatan Wolomeze tidak ikut runtuh bersama bangunan yang rusak akibat gempa.*






